Tampilkan postingan dengan label Action Movie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Action Movie. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Agustus 2016

X-Men:Apocalypse

"The world needs the X-Men."

Ketika dua tim superhero lain masih bermain-main dengan mediocrity dan elegant, X-Men terus tampil stabil dengan caranya sendiri tanpa disibukkan dengan dua hal tadi. Meskipun tidak selalu sukses untuk bergerak maju sangat jauh namun X-Men film series (selainDeadpool) selalu lebih mampu menjembatani gelap dan terang dari superhero, ia serius tanpa terkesan gelap yang berlebihan, ia playful namun tidak childish dan menggerus sisi super dari karakter. First Class hadir sebagai upaya restart, Days of Future Past melanjutkan proses, danX-Men: Apocalypse berhasil meneruskan misi tersebut. It’s another style, substance, and sensation from X-Men. Wake your ass up cause it's time to go beast mode!
Satu dekade setelah insiden di Washington Profesor Charles Xavier (James McAvoy) kini menjalankan sebuah sekolah bagi anak-anak yang memiliki bakat kekuatan super, Magneto (Michael Fassbender) hidup bahagia bersama anak dan istrinya sebagai Erik Lehnsherr, danRaven/Mystique (Jennifer Lawrence) berkeliling dunia untuk membebaskan para mutan yang diperbudak. Namun suatu ketika kehidupan mereka dan para X-Men lainnya harus terganggu oleh sebuah masalah super besar, kemunculan kembali En Sabah Nur/Apocalypse (Oscar Isaac) yang terbangun dari tidurnya. Apocalypse merupakan mutan pertama dan terkuat yang disembah sebagai dewa, dan setelah merekrut Psylocke (Olivia Munn), Ororo Munroe/Storm (Alexandra Shipp), serta Archangel (Ben Hardy) bersiap untuk menghancurkan umat manusia.


Sinopsis di atas tadi adalah versi sederhana dari konflik di dalam cerita yang dimiliki oleh X-Men: Apocalypse, karena faktanya apa yang terjadi di X-Men: Apocalypse melibatkan lebih banyak karakter yang pada akhirnya membuat ini terasa sedikit sesak. X-Men: Apocalypseadalah wujud nyata dari usaha dua film sebelumnya untuk membentuk tim superhero mutan versi baru, melanjutkan proses rebuild dari misi restart yang ia lakukan dengan mundur ke tahun 1980-an. Misi utama tersebut berhasil dieksekusi dengan baik oleh Bryan Singer, ia kembali sukses melanjutkan proses menyusun kepingan demi kepingan dari tim superhero mutan ini dengan cara yang halus, bagaimana kita diajak mengucapkan selamat tinggal pada karakter dalam bentuk lama dengan cara mendorong karakter dalam bentuk baru yang sukses menawarkan pesona yang tidak kalah menariknya.

Ya, hal terbaik dari X-Men: Apocalypse adalah misinya masih sama dengan dua film terdahulunya tapi ia mampu menampilkan proses rakit dan upgrade yang sama itu dengan cara yang segar. Ruang yang telah terbentuk di film sebelumnya kini dikembangkan menjadi lebih luas lagi dengan cara yang wise dan padat, beberapa momen segar disuntikkan tanpa mencuri perhatian secara berlebihan tapi di sisi lain fokus utama cerita tetap teguh di titik pusat. Sama seperti Days of Future Past energi X-Men: Apocalypse terus terjaga dengan baik, ia menampilkan kombinasi serius dan santai yang tidak kikuk, mereka saling menyeimbangkan satu sama lain, sama seperti yang dilakukan oleh karakter. Di sini karakter belajar satu sama lain untuk bekerja sebagai sebuah tim, mereka berhasil meninggalkan kesan bahwa X-Menmerupakan sebuah tim solid dengan menampilkan sebuah teamwork ketika berusaha menyelamatkan dunia dari kehancuran.


Berbicara tentang “kehancuran” dunia X-Men: Apocalypse memang terasa lemah, namun itu bukan hal yang baru sebenarnya karena selama ini X-Men juga selalu kesulitan menampilkan musuh utama yang benar-benar menakutkan. Sangat disayangkan memang karena En Sabah Nur/Apocalypse punya kriteria yang sudah sangat baik untuk menjadi villain paling mengintimidasi yang pernah dimiliki oleh X-Men film series, namun di sini ia tampil sama persis seperti yang dilakukan villain dari superhero lainnya, just to stay there. Tapi itu tidak sepenuhnya buruk, Apocalypse punya beberapa momen menarik meskipun tidak pernah didorong lebih jauh oleh Bryan Singer. Di sini Bryan Singer seperti kembali ingin agar semuanya tampil compact, setiap karakter punya kedalam emosi, konflik, dan motivasi yang hanya sebatas cukup untuk masuk kedalam cerita yang utama yang masih berusaha menjahit konflik utama. 


Dari sisi substance X-Men: Apocalypse tampil baik, dan hal tersebut juga mampu dilakukan oleh style dan sensation. Sama seperti cerita X-Men: Apocalypse juga punya kedalaman yang oke ketika menampilkan sisi fantasi yang ia punya, ya walaupun CGI effect yang ia punya di beberapa bagian terasa sedikit norak tapi rasa fun dari style yang digunakan konsisten menarik sejak awal hingga akhir. Yang paling menarik dari bagian ini kesan stylish dari setiap karakter berhasil ditampilkan dengan tepat guna, seperti narasi yang tidak pernah goyah setiap karakter berhasil memberikan punch yang menarik dari momen mereka masing-masing. Karakter yang sudah pernah tampil membawa pesona kekuatan mereka ke naik satu tingkat, sementara karakter baru meskipun memiliki kesempatan yang terbatas namun tetap mampu meninggalkan impresi yang kuat terkait pesona yang mereka miliki. Scene-stealer dari cast masih sama: Quicksilver! 


Pesona dari masing-masing karakter merupakan kunci dari kemampuan X-Men: Apocalypseuntuk menjaga sensasi yang ia tampilkan untuk terus stabil. Ensemble solid, semua karakter punya busur emosi dan konflik yang oke. McAvoy, Fassbender, dan Lawrence kembali berhasil membuat karakter mereka tumbuh kea rah yang lebih baik lagi, sementara Oscar Isaac meskipun kurang berhasil memaksimalkan ide mendominasi gaya Hitler untuk tampil mengintimidasi namun tetap mampu menjaga ketegangan dari masalah utama cerita. Nicholas Hoult (Hank McCoy/Beast), Rose Byrne (Moira MacTaggert), dan Evan Peters juga berhasil menjadi penyokong cerita yang manis. 



X-Men: Apocalypse adalah sebuah perang antar saudara yang “bekerja” secara dewasa namun dikemas dengan cara yang serius dan fun. X-Men: Apocalypse punya ambisi namun tidak tenggelam dalam nafsu yang berlebihan sehingga hasil akhirnya sebuah presentasi yang mampu menampilkan ide dan misi yang ia miliki dengan tepat guna. Tidak banyak gebrakan baru di sini, formula masih sama dan cerita bahkan punya potensi untuk terasa bertele-tele, namun secara perlahan dan meyakinkan Bryan Singer berhasil melanjutkan proses menyatukan setiap kepingan untuk membentuk X-Men. Serious with a lot of usefull goofiness, it’s another style, substance, and sensation from X-Men.
Jurrassic World

Memakai setting waktu 20 tahun setelah kekacauan pertama kali terjadi diJurassic Park, taman ini akhirnya dibuka kembali dengan manajemen kepemilikan yang baru. Dengan skala yang lebih besar, taman ini diberi nama Jurassic World. Sebagai sebuah taman pertunjukan yang menggunakan hewan sebagai daya tarik, taman ini diwajibkan untuk membuat skenario pertunjukan yang tak selalu sama. Tetapi dengan sumber daya hewan purbakala, hal ini tidak mudah dilakukan. Hewan yang ada di Jurassic World lama kelamaan membuat pengunjung bosan.
Masalah inilah yang mengawali ide pembiakan dinosaurus hybrid bertama kali hingga dihasilkan dinosaurus baru yang lebih besar dari Tyranosaurus Rex, lebih cerdas dari Velociraptor, dinosaurus ini diberi nama Indominus Rex.
Tak seperti film-film sebelumnya, di film Jurassic World ini lebih ditekankan jika ini taman yang sudah dikunjungi banyak orang, layaknya kebun binatang, tur safari yang ada pun tak seperti dulu, lebih modern, ada yang menggunakan perjalanan darat dan air. Ada juga taman air yang memamerkan makhluk air purbakala yang bahkan lebih besar dari ikan paus.
Selain tampilan yang jauh lebih modern dari film-film yang sebelumnya, inti cerita dariJurassic World secara umum masih sama dengan film pendahulunya. Barang siapa bermacam-macam dengan alam, akan menerima akibatnya. Tindakan para ilmuwanJurassic World dengan mengembangbiakan secara hybrid jenis dinosaurus baru membuat taman yang sebelumnya aman dan menyenangkan menjadi taman berdarah di mana manusia menjadi komponen paling bawah dalam rantai makanan.
Fast and Furious 6
 

"You don't turn your back on family, even when they do"
Hal ini tentu saja bersifat subjektif, dimana setiap orang akan memiliki penilaian yang berbeda tergantung pada sudut pandang yang mereka gunakan hingga selera yang mereka punya. Bagi saya, Fast and the Furiousadalah salah satu film series yang sejauh ini terus menampilkan sebuah perkembangan kearah positif di tiap film terbarunya. Fast & Furious 6 bahkan seolah menjadi sebuah pion yang digunakan oleh series ini untuk menunjukkan bahwa upaya mereka belum berhenti untuk mencoba menuju titik puncak.

Setelah sukses melakukan aksi mereka di Rio de Janiero dengan tipuan menggunakan brankas yang membuat rekening mereka semakin sehat, Dominic Toretto (Vin Diesel) kini menikmati hidupnya bersama Elena Neves (Elsa Pataky). Begitupula dengan crew yang ia miliki, Brian O'Conner (Paul Walker) kini hidup bahagia dengan Mia Toretto (Pearce Jordana Brewster), Han (Sung Kang) dengan asmara yang semakin kokoh bersama Gisele (Gal Gadot), Tej Parker (Chris 'Ludacris' Bridges) yang gemar beramal dengan membobol ATM, hingga Roman (Tyrese Gibson) yang kini dikelilingi wanita cantik bahkan telah memiliki sebuah pesawat pribadi yang ia beri nama “It's Roman bitches!”

Namun masalah adalah sahabat dari Dom dan crew miliknya, yang kali ini berasal dari serangan pada konvoi militer Rusia yang di ketahui berada dibawah kendali Owen Shaw (Luke Evans), mantan tentara Pasukan Khusus Inggris. Luke Hobbs (Dwayne Johnson), anggota Diplomatic Security Service (DSS) yang menangani kasus ini ternyata cukup cermat, dimana ia tahu cara cepat mengalahkan penjahat adalah dengan melawannya menggunakan penjahat. Bersama Riley (Gina Carano), Hobbs meminta bantuan Dom dan crew-nya, tentu saja dengan sebuah imbalan yang kali ini tidak berupa uang melainkan janji sebuah kebebasan dari semua tuntutan hukum, dan Letty Ortiz (Michelle Rodriguez), mantan pacar Dom yang ternyata masih hidup.

Franchise ini terasa semakin matang. Di konfirmasi kehadirannya pada february 2010, script mulai dibangun oleh Chris Morgan pada april 2011, tidak heran bila Fast & Furious 6 berhasil menjadikan para penontonnya dengan mudah merasakan bahwa mereka mengalami sebuah perkembangan yang signifikan. Semakin matang, dimana jalan cerita yang ia miliki semakin menarik, mampu menghadirkan sebuah kasus yang serius namun tidak meninggalkan begitu saja semua hiburan yang telah menjadi ciri khas mereka, adu cepat di lintasan padat penduduk, hingga berbagai hal konyol yang terkesan klasik namun tetap mampu menghadirkan tawa.

Ini tidak lagi sebuah film yang akan menjadikan anda menilai mereka sebagai sajian adu cepat belaka. Film ini mampu menaikkan kualitas yang pendahulunya telah ciptakan, berisikan dialog-dialog yang semakin berisi dan padat, semakin berani memainkan konflik-konflik pendukung yang anehnya justru mampu mencuri perhatian karena punya power yang cukup kuat untuk bersanding dengan konflik utama, serta tahu menempatkan joke yang ia miliki dengan penggunaan yang efektif terutama joke one punch yang komikal.

Justin Lin seperti telah menyatu dengan jiwa dari film ini, mengerti dengan sangat baik cerita yang ia punya, serta tahu mengolah berbagai ide yang ia miliki untuk menghidupkan cerita tersebut ke layar lebar. Adegan kejar-kejaran yang menjadi jualan utamanya tetap memikat, meskipun kesempatan yang ia miliki kini semakin terasa sedikit terbatasi namun menghasilkan dampak positif pada cerita. Ya, hasil dari keputusan tersebut adalah unsur lain dalam cerita berhasil hidup dan mencuri perhatian, terutama unsur ikatan persaudaraan dan keluarga yang menjadi topik utama yang coba diangkat film ini. Begitupula dengan kekuatan kisah romance yang di setiap kehadirannya mampu memberikan sebuah warna yang manis.
Bagian terbaik dari film ini hadir di paruh pertama, ketika cerita masih coba dibangun, dimana anda masih dibuat mencoba untuk menerka kemana film ini akan berjalan dengan beberapa konflik yang ia hadirkan. Di bagian ini tensi cerita memang sempat turun, namun selalu berhasil di naikkan kembali oleh Justin Lindengan menggunakan berbagai elemen cerita yang ia punya. Nah, sayangnya meskipun harus diakui tidak mengalami sebuah degradasi cerita yang begitu besar, di paruh kedua saya mulai merasakan berbagai hal yang tidak saya temukan di paruh pertama yang celakanya justru berada di zona negatif.

Masih terdapat adegan aksi yang seru, cerita juga masih mengalami perkembangan. Namun di beberapa bagian saya merasa Justin Lin seperti mencoba menciptakan ruang cerita yang begitu luas untuk memperdalam unsur-unsur pendukung cerita, terutama ya itu tadi keluarga dan cinta. Beberapa adegan terasa kurang padat, terlalu panjang, sehingga excitement yang ia hasilkan kurang maksimal. Sayang memang, dimana bahkan upaya dari Owen Shaw bersama anak buahnya Jah (Joe Taslim) dan dua lainnya perlahan mulai kehilangan power mereka, seperti menunggu waktu untuk mati tanpa memberikan threat yang berarti.

Ya ya ya, efek yang ia hasilkan harus diakui bekerja dengan baik. Namun upaya Justin Lin yang seperti mencoba melakukan push lebih dalam di bagian tadi merupakan sebuah blunder bagi saya. Mungkin Justin Lin ingin memberikan sebuah akhir yang manis dari petualangannya di franchise ini, sesuatu yang berani dan memorable, yang celakanya bagi saya justru akan menjadi hal memorable karena menodai semua upaya yang ia berikan di bagian lain cerita. Membingungkan memang karena justru di bagian lainnya terutama adegan aksi kejar dengan kecepatan tinggi justru dibungkus oleh Justin Lin dalam durasi yang singkat dengan tempo yang terlalu cepat, sesuatu yang tidak saya harapkan sebelumnya.

Kekecewaan lainnya berasal dari Luke Evans yang seperti tenggelam ditengah hiruk pikuk Dom dan crew miliknya. Threat yang dihasilkan terlalu kecil, bahkan jauh dari kata menakutkan. Hal ini akibat dari Vin Diesel yang sepertinya sengaja ditempatkan sendirian didepan, dan pemain lainnya melakukan “pesta” dengan tugas mereka masing-masing. Paul Walker tidak lagi bersanding sejajar dengan Vin, dan Michelle Rodriguezjuga seperti tidak mampu bergerak lebih jauh. Yang paling menarik justru dua duo yang Justin Lin miliki,Sung Kang dan Gal Gadot dibagian romance, serta Tyrese Gibson dan Ludacris dengan lelucon mereka.

Overall, Fast & Furious 6 adalah film yang memuaskan. Justin Lin berhasil membangun tiga film yang ia tangani di franchise ini terus bergerak maju. Tetap seru, tetap menghibur, tetap lucu, dengan cerita yang semakin berisi tanpa pernah menyingkirkan “identitas” yang telah mereka bangun. Tapi dengan mengesampingkan post-credit scene yang ia miliki, paket yang ditawarkan oleh Fast & Furious 6 tidak berhasil memberikan hasil akhir berupa sebuah excitement yang mampu melampaui Fast Five.
Mad Max:Fury Road



"I live, I die. I LIVE AGAIN!"

Mad Max: Fury Road merupakan film action yang akan membuat kamu setelah bertepuk tangan kemudian akan terdiam sejenak ketika ia telah selesai, lalu kemudian berpikir hal gila apa yang baru saja selesai kamu saksikan. Merupakan edisi keempat dari Mad Max franchise ini adalah sebuah perayaan penuh totalitas dan percaya diri yang tinggi dari seorang George Miller, panas, dingin, lucu, menegangkan, Mad Max: Fury Road seperti mobil balap Formula One dalam sebuah balapan yang meniadakan pit stop namun dikemudikan oleh pembalap yang ahli dalam mengatur lari kendaraannya, Mad Max: Fury Road ibarat sebuah film action yang dilukis oleh Pablo Picasso. Keren!

Peradaban manusia di bumi telah jatuh akibat nuklir, dunia menjadi lahan kering yang dimanfaatkan oleh Immortan Joe (Hugh Keays-Byrne) untuk menjadi penguasa dengan mengendalikan air dan juga bensin bagi para pengikutnya. Suatu ketika prajurit terpercaya bernama Imperator Furiosa (Charlize Theron) diperintah untuk pergi ke timur menggunakan War Rig untuk mengambil pasokan bensin. Furiosa punya niat lain dibalik kesempatan yang ia peroleh itu, tapi ia dan timnya tidak sendiri karena seorang tawanan bernama Max Rockatansky (Tom Hardy) juga berhasil memanfaatkan rencana Furiosa dalam aksi kejar super gila.



Mad Max: Fury Road seperti sebuah surat cinta dari George Miller kepada sineas film di genre action berisikan sebuah pesan yang begitu sederhana, “action tetap mampu tampil menarik hanya dengan berisikan akar dari sebuah film action: aksi kejar dan ledakan di sana-sini”. Tidak pernah mencoba untuk tampak rumit, kamu tahu kalau Mad Max ingin mencari jalan pulang, kamu tahu ada yang salah dari Immortan Joe sehingga Furiosa melakukan tindakan nakal, dan setelah itu mari masuk ke dalam “pesta” menyenangkan menggunakan kendaraan-kendaraan gila bersama api, peluru, panah, deruan pasir, dan kompatriot unik berupa musik dari seorang gitaris gila. Ya, hanya itu, sejak awal hingga akhir, dan celakanya semua tidak pernah tidak terasa menarik.



George Miller memanfaatkan dengan sangat baik perkembangan teknologi yang terjadi selama 30 tahun dari film Mad Max yang ketiga tahun 1985 lalu. Aksi gila dan deru kendaraan masih jadi pusat tapi di film terbarunya ini ia menjadikan semua tampak “megah” dan “mahal”. George Miller seperti pria tua yang menemukan cara dalam mewujudkan fantasi dan imajinasi yang ia miliki sejak masa muda dahulu lalu memutuskan untuk menumpahkan semuanya tanpa rasa takut. Dari segi visual saja sudah menjadikan dua kali harga tiket masuk sebagai sesuatu yang worthed, visual selalu jadi pemimpin untuk memaku atensi penonton dalam kekacuan pasca apokaliptik yang di bentuk dengan sangat cantik berkat bantuan CGI yang digunakan Miller dengan taste yang asyik dalam menumpahkan ide kedalam sebuah kanvas kosong.

Ibarat sedang melukis Mad Max: Fury Road adalah sebuah kanvas kosong yang menghasilkan produk akhir begitu cantik berkat kemampuan sang pelukis dalam memadukan ide, gambar, dan warna dengan cara yang aneh namun mengagumkan. Elemen teknis film ini terasa ajaib, mimpi buruk berisikan kematian yang ditemani dengan logam yang bergerak cepat selalu berhasil menciptakan kesan artistik yang cantik. Dan itu semakin cantik dengan koreografi memikat dari kombinasi antara stunt dan, again, CGI. Cara Miller memainkan pov dalam mengembangkan cerita akan banyak membuat kamu bergumam mereka gila dan sinting, sinematografi, score, dan editing yang berani selalu berhasil menciptakan power adrenaline yang pas ketika dibutuhkan untuk mempertahankan fokus utama Mad Max: Fury Road sebagai aksi kejar penuh kekerasan epik, dan tempo narasi juga begitu ketat meskipun dari isi cerita Mad Max: Fury Road tidak kuat.


Mad Max: Fury Road semakin terasa seperti petualangan kotor namun cantik yang aneh karena pada dasarnya ini merupakan aksi kejar dengan dasar yang begitu sederhana. Aneh, mengapa selama dua jam saya bisa terus tertarik pada cerita yang mayoritas diisi aksi kejar lalu perlahan merasa peduli pada karakter yang memperkenalkan diri dengan sangat tipis. Skenario bahkan tumbuh lewat visual! Ya, itu misteri dari kemampuan magis yang dimiliki oleh George Miller, menampilkan sebuah parade action namun tetap mempertahankan kedalaman yang begitu manis pada cerita dan karakter sehingga penonton tanpa sadar ikut terlibat secara emosi. Penampilan cast juga punya andil sama besar, Tom Hardy menjadi jangkar dari masalah utama dan Charlize Theron secara mengejutkan diberi tugas memegang kemudi utama, tugas yang ia jalankan dengan sangat baik.




Seperti sebuah rollercoaster, ada alur naik, ada alur turun, namun ketika ia selesai kamu akan tersenyum bahagia karena telah puas berteriak bahagia ketika mengendarainya. Begitulah Mad Max: Fury Road, sebuah film action dengan basis sederhana yang mampu bersenang-senang dan juga membawa penonton ikut bersenang-senang dengan sepenuhnya bertumpu pada parade aksi kejar gerak cepat yang ditemani acting, sinematografi, score, CGI, koreografi, dan editing yang menghipnotis lalu meninggalkan impresi aneh bagi penonton, bagaimana bisa semua terasa megah dengan basis yang sederhana. Ya, itu kekuatan magis dari visi George Miller, dan semoga pria 70 tahun itu masih punya fantasi dan imajinasi liar lainnya meskipun kini ia telah menciptakan standar baru bagi genre action. 
The Bourne:Legacy



Sebagai informasi pembuka, The Bourne Legacy tidak akan mengajak anda untuk menyaksikan kelanjutan dari petualangan Jason Bourne. Anda memang masih akan menemukan Bourne yang diperankan oleh Matt Damon tetapi tidak dalam bentuk nyata. Sesuai judulnya yang jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia memiliki arti warisan Bourne, film ini akan membahas segala hal yang terjadi sepeninggal Jason Bourne. Berawal dari CIA yang mengambil keputusan untuk menghancurkan proyek rahasia yang telah mereka bangun. Kali ini muncul Aaron Cross (Jeremy Renner) sebagai masalah utama, seorang agent yang berhasil lolos dari jebakan yang dibuat CIA melalui pil berwarna biru dan hijau.

Aaron yang mulai kehabisan stok pil, keluar dari hutan dingin tempat ia bermukim. Aaron menemui Dr. Marta Shearing (Rachel Weisz), seorang ilmuwan yang berhasil lepas dari insiden berdarah di laboratorium Operasi Treadstone tempat ia bekerja. Misi awal CIA ialah menginginkan semua pihak yang mengambil bagian dari proyek rahasia mereka, tewas. Hal tersebut menyebabkan Aaron dan Marta menjadi buronan CIA, dikejar dari Amerika, hingga Manila, Filipina.

Sederhana memang, berawal dari pil, misi CIA, hingga Aaron dan Marta yang melarikan diri. Jadi apa yang menyebabkan film ini memiliki durasi yang cukup panjang, 135 menit? Jawabannya akan anda temukan dibagian awal film. Seperti yang telah saya singgung diawal, ini bukanlah cerita tentang Bourne, melainkan kondisi yang terjadi sepeninggal Bourne. Akibatnya adalah cerita harus dibangun dengan teliti, untuk menciptakan benang merah dengan tiga film terdahulu. Tony Gilroy yang menjadi penulis cerita The Bourne trilogy, memilih untuk menciptakan dua situasi dalam proses pengenalan karakter dan cerita. Kantor CIA, tempat dimana Eric Byer (Edward Norton) dan Mark Turso (Stacy Keach), bersama anak buah mereka menyusun rencana untuk mensukseskan misi CIA. Disisi lain, sebuah hutan dimusim dingin menjadi tempat bagi Aaron Cross memperkenalkan dirinya kepada penonton. Menarik? Tidak.


Perbincangan formal antara Eric dan anak buahnya kurang berhasil menciptakan daya tarik yang besar untuk membuat saya ikut fokus menyaksikan permasalahan yang mereka hadapi secara mendalam. Ditambah dengan cara Gilroy yang memberikan durasi antar scene yang singkat dengan latar berbeda, dilakukan secara berulang-ulang, monoton dan membosankan. Gebrakan dari segi cerita mulai terasa ketika Aaron datang menyelematkan Marta. Dari sini tensi film yang sejak awal terasa datar, berhasil bergerak kearah positif seiring proses melarikan diri Aaron dan Marta dari kejaran CIA, dan meraih puncaknya di Manila.

Bagi saya, kesalahan terbesar adalah keputusan Gilroy dalam mengolah bagian awal film. Mengenalkan pemain utama yang berstatus baru, sebagai pengganti pemeran utama yang telah menjadi ikon yang sangat kuat bagi sebuah trilogi yang telah menuai kesuksesan yang besar harus diakui memang bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Namun tidak adanya aksi yang setidaknya dapat sedikit memompa tensi diawal film, menjadikan impresi awal yang saya dapat kurang kuat meskipun cerita terasa cukup oke sama seeprti penampilan Jeremy Renner. Menurut saya Aaron dan Jason Bourne adalah karakter yang sama. Aaron bukan "pengganti" Bourne, keduanya adalah sosok agent yang cepat dalam berpikir, mengambil solusi, dan membaca medan disekitarnya. Ketiga hal tersebut ada di dalam Aaron, dan tentu saja Jason Bourne. Jeremy Renner cukup mampu mengisi posisi yang ditinggalkan oleh Matt Damon melalui sosok Bourne. Kehadiran Rachel Weisz yang bermain baik, cukup berhasil memberikan warna pada cerita. 


Overall, The Bourne Legacy adalah film yang cukup memuaskan. Aksi kejar-kejaran tensi tinggi yang sangat menarik di bagian akhir film, tidak mampu menutup sedikit rasa kecewa di paruh pertama film. Ditinggal pergi oleh ikonnya yang sudah terlanjur menjadi daya tarik utama bagi para penonton Dan Gilroy ternyata mengambil keputusan yang berani dalam proses pengenalan Aaron, dan diakhiri dengan aksi kejar-kejaran yang berujung sedikit gantung. Semoga The Bourne Legacy seperti kelinci percobaan dan kembali dengan kekuatan penuh di film berikutnya, meskipun saya masih berharap Jason Bourne akan kembali. 

Senin, 29 Agustus 2016

Looper

Ditahun 2044, ketika 10 persen dari populasi manusia dapat melakukan telekinesis, mesin penjelajah waktu masih belum ditemukan. Namun, 30 tahun berselang, mesin tersebut telah ditemukan, masih bersifat illegal dan hanya tersedia di pasar gelap. Alat tersebut digunakan oleh para penjahat dimasa itu, mengirim korban ke 30 tahun sebelumnya, dimana seorang penembak yang disebut "looper" telah bersiap dengan senjatanya. Joe (Joseph Gordon-Levitt) adalah seorang looper. Nah, bagaimana jadinya ketika korban yang dikirim untuk dieksekusi oleh Joe adalah dirinya sendiri, Joe (Bruce Willis) dari tahun 2074.

Ternyata konflik yang ditawarkan oleh Rian Johnson tidak sesederhana itu. Ditahun 2074, dunia semakin kacau akibat seseorang yang mereka sebut The Rainmaker. Old Joe ternyata mengemban sebuah misi, untuk menemukan The Rainmaker yang ketika itu masih berumur 10 tahun, dan membunuhnya karena dia telah mengambil salah satu orang yang paling Old Joe kasihi. Satu-satunya pedoman yang ia miliki hanyalah sebuah kombinasi angka.


Kemudian hadir Sara (Emily Blunt), bersama anaknya yang bernama Cid (Pierce Gagnon, saya suka akting anak ini), yang ternyata merupakan salah satu dari tiga orang anak yang cocok dengan kombinasi milik Old Joe. Joe yang pada saat itu juga menjadi buronan oleh anak buah dari Abe (Jeff Daniels), tempat ia bekerja, karena gagal menjalankan tugasnya dengan baik, ternyata justru berada di pihak yang berbeda dengan Old Joe. Yap, A mengejar B, C mengejar B, B mengejar D, namun C ingin melindungi D, dimana B sendiri ingin menyelamatkan masa depan si C. Nah, lengkap kan. lol

Cerita yang ditawarkan film ini memang tidak terlalu ribet, tapi tidak sesederhana salah satu film time travel terbaru Men in Black 3, dimana mereka kembali ke masa lalu, misi selesai, kembali ke masa sekarang. Akan ada sedikit pembahasan cerita di masa depan, yang perlahan membangun hubungan cerita dengan masa sekarang.

Tapi, saya tidak merasakan sebuah sajian yang menarik dari cerita di awal film. Beberapa kali saya sempat melihat jam untuk memastikan sudah berapa lama film ini berjalan. Bukan berarti Rian Johnson sukses menjadikan saya menjadi tidak sabar dengan cerita selanjutnya, namun karena saya tidak puas dengan cerita yang ia kemas di awal film. Premis yang sangat sangat menarik sebelum film diputar seolah lenyap ketika cerita mulai dibangun. Saya suka kompleksitas dari sisi cerita, namun tidak dengan tensi yang saya dapatkan diawal, datar.

Bagi saya itu adalah lubang besar dari film ini dan menjadikan paket yang disajikan menjadi tidak utuh secara penuh. Kurang impresif diawal, cerita mulai berhasil menarik perhatian saya ketika konflik mulai tertuju pada Cid. Yap, ini adalah titik awal film ini menampilkan grafik yang naik untuk saya. Nuansa action dan thriller mulai muncul dan berpadu dengan misteri yang terus terjaga sejak awal.

Saya suka konsep yang Rian Johnson berikan di proyeknya kali ini. Sebuah pertanyaan yang kuat berhasil ia hadirkan sejak awal, "apakah anda mau membunuh anda yang datang dari masa depan?". Johnson berhasil menciptakan sebuah rel yang kuat untuk kereta yang ia miliki di dunia fantasinya. Sangat kokoh, mungkin adalah kalimat yang tepat untuk menggambarkan cerita film ini. Semua elemen cerita diberikan daya tarik oleh Johnson, bahkan Kid Blue (Noah Segan) yang tampaknya memang tercipta untuk menjadi seorang pecundang. Plot cerita yang cerdas dengan intensitas yang banyak tidak akan menjadikan bingung, karena mereka akan saling melengkapi dengan baik, dan mudah dicerna.


Overall, Looper merupakan film yang menghibur. Film ini awalnya memiliki potensi untuk menjadi besar, namun bagian pembuka membuat semua itu sirna karena tidak berhasil memberikan impresi awal yang baik bagi saya. Rian Johnson berhasil mengajak saya untuk ikut bermain dengan emosi yang dimiliki tiap karakter. Johnson menciptakan sebuah lintasan yang kuat, sehingga tiap karakter berhasil menyampaikan maksud dari kehadirannya dicerita. JGL bermain dengan baik, meskipun bentuk wajah-nya sangat mengganggu saya. Begitupula dengan Willis, Emily, dan Pierce Gagnon. Film ini tidak megah, namun mungkin akan menjadikan anda dan teman anda untuk kembali membahas film yang baru saja anda saksikan tadi, terutama dengan twist yang hadir di penghujung film.
Inception
Hasil gambar untuk review inception indo
Inception layak dikatakan sebagai salah satu film terbaik di tahun 2010 dan bisa dipastikan merupakan masterpiece dari kejeniusan Christopher Nolan. Setelah sebelumnya dia berhasil menjadikan Batman Begin dan The Dark Knight sebagi Box Office, dia kembali sukses menjadikan segala dalam film merupakan yang terbaik, pemainnya, karakter, akting, plot, teknik audio visual dan ide yang ditawarkan, sangat menyegarkan dan mengagumkan.

Tema yang digunakan sangat sederhana, MIMPI. Sesuatu yang bisa dipastikan setiap orang pernah mengalaminya. Ketika sebuah teknologi ditemukan, dimana mimpi dapat dibagi dan digunakan untuk memanipulasi pikiran seseorang mengenai apa yang nyata dan tidak nyata. Serta mimpi digunakan sebagai tempat untuk mengambil rahasia terdalam seseorang, sekali lagi manusia disadarkan bahwa otaknya – yang sampai saat ini masih dianggap sebagai misteri terbesar di dunia – merupakan sesuatu yang sangat luar biasa.

Don Cobb, yang diperankan oleh Leonardo Dicaprio, yang dikenal lewat film Titanic, The Beach,Blood Diamond dan masih banyak lagi, adalah orang yang sangat ahli mengenai cara kerja mimpi dan untuk menyelesaikan pekerjaan paling sulit dan beresiko yang pernah diembankan kepadanya. Dia mengatur apa dan siapa saja yang dibutuhkan, seorang perancang karakter dan plot (Eames), pengatur waktu dan periset sasaran (Arthur), arsitek yang membangun detail dunia mimpi (Ariadne) dan ahli yang memformulasikan formula pengatur kedalaman tidur (Yusuf). Semua bekerja sama dalam sebuah misi bernama INCEPTION. Namun, hanya Cobb yang tahu resiko apa yang menunggu mereka “di bawah sana”.

Sebagai sebuah film aksi sci-fi, ketimbang kebanyakan film aksi sci-fi lainnya, Inception menawarkan ide yang cukup sederhana dan mudah diikuti oleh penontonnya. Film tidak berbelit-belit atau membuat kening Anda berkerut dari awal sampai akhir. Walaupun memang diperlukan pemikiran yang lebih mendalam dan konsentrasi tinggi saat Anda menontonnya, namun fungsi film sebagai sarana menghibur penonton tidak dilepaskan begitu saja oleh film ini. Adegan dan komentar yang lucu terselip di sana-sini tanpa terlihat dipaksakan sebagaimana biasanya terlihat dalam fim-film aksi Hollywood.
Karakter dan hubungan yang dibangun diantara mereka pun sangat menarik, misalnya  saja Eames dan Arthur yang berinteraksi seperti anjing dan kucing namun bisa dilihat bahwa mereka mengagumi bakat dan cara kerja satu sama lain. Belum lagi mata dan telinga Anda akan dimanjakan oleh efek audio visual yang luar biasa.

Berbagai konsep dalam film ini disampaikan dalam bentuk tanya jawab yang membuat penonton jadi lebih mudah paham. Misalkan mengenai konsep waktu, dimana dikatakan waktu dalam mimpi berjalan lebih lambat dari dunia nyata. Kita tidur berjam-jam dan hanya memiliki mimpi yang singkat serta bahwa kita tidak pernah benar-benar ingat bagaimana mimpi dimulai. “Bagaimana kau bisa sampai di sini?” tanya Cobb, dan itu menjadi pertanyaan bagi setiap penonton. Benar sekali, kita tidak pernah ingat bagaimana mimpi dimulai dan menganggap semuanya hal yang wajar.

Film ini menanamkan idenya pada penonton mengenai konsep waktu, kick(tendangan), paradoks, limbo, totem, inspirasi, proyeksi, penciptaan dan lain sebagainya dengan cara sederhana dan dapat dimengerti. Juga terdapat pertanyaan yang bersifat filosofis, “Apa itu realita? Apa saja ukuran dari realita dan bagaimana kita yakin bahwa kita sedang berada dan menjadi bagian dari suatu realita?”. Pertanyaan ini bisa membuat Anda merenung panjang, tanpa mendapatkan jawaban apapun 


Secara keseluruhan, film ini sempurna. Efek khusus yang mengesankan, plot menarik dengan suguhan aksi, humor dan drama yang diformulasikan dengan sempurna, serta tema yang jelas dan karakter yang kuat dan sama penting antara satu dan lainnya, merupakan keunggulan film ini. Mungkin ada beberapa hal yang akan terlewatkan jika Anda hanya sekali menontonnya, dan perlu beberapa kali sampai Anda memahami keseluruhan filmnya. Namun Anda tidak perlu khawatir, karena semakin sering Anda menontonnya, semakin menarik film ini jadinya.