Tampilkan postingan dengan label War Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label War Film. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Agustus 2016

Fury
Sebuah kisah besar yang sukses disajikan oleh sekumpulan aktor andalan. David Ayer—sang sutradara—sukses ikut menyemarakkan kuartal terakhir 2014 dengan sajian berkualitas. Dari judulnya, Fury merupakan nama tank yang di sepanjang durasi film terus memperoleh perhatian. Aktor paling menjanjikan yang namanya ikut disematkan di poster, Brad Pitt, berperan sebagai komandan dari pasukan yang terperangkap di medan perang akhir Perang Dunia II.
Hasil gambar untuk film fury
Penampilan total sukses dipersembahkan oleh Brad Pitt. Dia sanggup mengeluarkan ekspresi natural dalam kondisi kepanikan yang dirasakan oleh para anak buahnya. Tetap mampu memberikan instruksi guna menyelamatkan nyawa mereka.
Namun sebenarnya pemeran paling mencuri perhatian adalah Logan Lerman. Secara tidak terduga, Lerman berhasil memberikan tampilan perubahan emosi diri yang luar biasa. Dari seorang pemuda biang onar menjadi sosok yang hidupnya paling kompleks sebab pemikiran-pemikiran rasionalnya. Selain itu, pengembangan karakter tokoh-tokoh sentral juga didukung oleh penampilan apik dari Shia LaBeouf, Jon Bernthal, serta Michael Peña. Ketiganya berhasil membangun chemistry yang kuat satu sama lain dari awal hingga akhir.
Fury tampil dengan kemasan cerita yang mampu membuat bulu kuduk merinding, atmosfer mencekam. Didukung pula dengan pemilihan timing seting nan cerdik berkait momen akhir dari Perang Dunia II. Meskipun di pertengahan film terasa agak hambar selama beberapa menit—sepertinya Ayer lupa memasukkan elemen percikan tambahan di bagian ini supaya penonton tetap terpaku.
Secara keseluruhan, departemen kreatif yang mencakup sinematografi, efek visual, serta artistik berhasil tampil prima. Termasuk instrumen musik pendukung momen-momen emosionalnya. Untuk bagian ending, sepertinya bakal ada beberapa kalangan yang menganggapnya terlalu berlebihan. Namun saya rasa hal itu tidak perlu terlalu dipermasalahkan, toh rasa puas setelah selesai menontonnya masih benar-benar bisa dirasakan.

Troy
http://sinopsisfilmsinopsis.blogspot.co.id/2015/11/sinopsis-film-troy.html
Film Troy ini adalah film asal Amerika bergenre perang yang dirilis pada tahun 2004 yang lalu, film Troy ini disutradarai oleh Wolfgang Petersen dan ditulis oleh David Benioff.

Pemain film Troy ini adalah Brad Pitt, Eric Bana, Orlando Bloom, Diane Kruger, Brian Cox, Sean Bean, Brendan Gleeson, dan Peter O'Toole. Troy berhasil mendapatkan penghasilan yang sangat sukses dengan meraup $ 497 di seluruh dunia, yang menjadikan film ini menempati urutan ke 60 di top box office dunia sepanjang masa.

Sinopsis Film Troy ini memiliki cerita tentang kisah cinta terlarang antara Paris yang merupakan pangeran dari kerajaan Troy dengan Helen yang berstatus ratu dari kerajaan Sparta.

Peperangan diantara kedua negara besar tersebut tidak terelakkan lagi ketika Paris nekat melarikan Helen dari suaminya yang sah raja Menelaus, dan tindakan ini dianggap sebagai penghinaan besar.

Adik sang raja Agamemnon yang merupakan seorang raja yang ditakuti berhasil mengumpulkan sekutu untuk merebut kembali Helen dan menghancurkan Troy.

Niat tersebut sebenarnya hanyalah untuk menutupi ambisi Agamemnon sebenarnya, ia berambisi menguasai Troy untuk mendominasi daerah Aegean, sekaligus memantapkan kehebatannya sebagai penguasa.

Negara yang dipimpin oleh raja Priam itu sendiri merupakan benteng yang sulit ditembus. Apalagi, Priam juga dibantu oleh jendral perang ternama pangeran Hector.

Lawan Troy tidak enteng. Selain dua kerajaan besar, mereka juga harus menghadapi orang yang disebut-sebut sebagai petarung paling hebat yang pernah ada yaitu Achilles.

Pria yang diberkati dengan kesaktian ini tidak takut siapapun, dan tanpa ragu-ragu langsung memimpin pasukan untuk menyerang Troy. Siapa diantara mereka yang bakal tumbang?
American Sniper
poster - Copy
American Sniper menceritakan seorang penembak jitu bernama Chris Kyle (Bradley Cooper) yang menjadi kebanggaan negara selama pertempuran di Timur Tengah. Mulanya Kyle adalah seorang pria yang berprofesi sebagai koboi rodeo. Satu sifat dasar yang mendorong Kyle untuk tertarik bergabung dengan satuan prajurit SEAL Amerika adalah keinginannya untuk melindungi orang-orang yang disayanginya. Setelah kejadian 9/11 di New York, ia pun memutuskan bergabung dengan pelatihan militer dan kemudian ditugaskan ke Irak.
2
Kyle memiliki seorang kekasih bernama Taya Renae (Sienna Miller) yang kemudian dinikahinya sebelum ia pergi bertugas. Tentu saja selalu muncul kekhawatiran bagi sang isteri yang ditinggal bertugas perang, apalagi bila keduanya tak bertemu kembali. Kapanpun maut bisa menjemput Kyle yang berkutat dengan senapan di lengannya.
Namun Kyle cukup beruntung menjalani tugas pertamanya. Bahkan ia dinilai sangat baik menjalankan tugas sehingga dijuluki sebagai seorang legenda. Mengalami apa yang terjadi di medan perang bukannya membuat Kyle takut, malah ia ingin tetap berada disana melindungi rekan-rekannya. Ia merasa amat bertanggung jawab apabila timnya gagal menjalankan misi. Sementara itu isterinya menganggap Kyle terlalu terobsesi dengan profesinya dan tidak memperhatikan keluarganya sendiri.  Kyle berargumen bahwa yang dilakukannya bukan hanya demi keluarganya sendiri, melainkan demi keseluruhan orang-orang di negaranya.
3
Sebagai penembak jitu handal di medan perang, Kyle menjadi buronan terbesar para teroris sebagai musuhnya. Kyle jadi salah satu prajurit yang paling dicari bahkan kepalanya dijadikan sayembara dengan nilai $100.000.Rupanya Kyle juga punya musuh bebuyutan yang juga seorang penembak jitu  dari kelompok teroris, seorang mantan atlit penembak di ajang Olimpiade.
Drama dan Aksi Perang Yang Sangat ‘America’
Saat datang dengan tema perang, tentu yang diharapkan oleh penonton adalah ketegangan aksi tembak-menebak para prajurit perang. Selain itu biasanya film akan menyampaikan banyak pesan moral dari penderitaan peperangan, namun berbeda dengan American Sniper lebih memilih lingkup personal seorang Chris Kyle sebagai seorang penembak jitu dan juga seorang nasionalis. Kesan american-sentris sangat terasa kental dalam film yang disutradarai oleh Clint Eastwood ini.
TA3A5741.DNG
Sepertinya tim produksi mengarahkan plot yang menceritakan tentang tekanan psikis mendera seorang Chris Kyle, namun tetap tak ingin meninggalkan unsur action perang di dalamnya. Sehingga drama dialog dan aksi tembak-menembak di letakan dengan komposisi yang seimbang. Pengambilan gambar yang ciamik menjadi salah satu kunci sukses dari film. Clint Eastwood membawa nuansa sinematik yang terasa hidup dari sebuah medan perang tapi dengan pengambilan gambar yang stabil sehingga tak banyak detail yang hilang. Berbeda jika ia menerapkan gaya rekam pengejaran dan banyak close-up, yang menghilangkan banyak detail gambar di dalamnya. Hal ini terlebih karena banyak pengambilan gambar yang diambil dari sudut pandang sang sniper.Tone warna pada film mendukung set film perang di wilayah timur tengah serta penggambaran dari kerasnya medan pertempuran. Untuk efek sound, ledakan-ledakan tembakan terasa cukup natural dan begitu memicu adrenaline.
AMERICAN SNIPER
Para aktor maupun aktris dalam film tampak begitu mengerahkan emosi dan totalitas mereka. Hanya saja alur cerita membuatnya terkesan monoton dan kurang klimaks. Karakter Chris Kyle seolah tak memiliki kelemahan atau kesulitan dalam menjalankan tugasnya. Meski tak bisa dipungkiri bahwa film ini adalah adopsi dari buku berjudul  “American Sniper: The Autobiography of the Most Lethal Sniper in U.S. Military History,” yang ditulis sendiri oleh Chris Kyle. American Sniper cukup jelas untuk menampilkan sebuah karakter film perang di era yang modern.
Perlu ditandai bahwa film ini tentunya banyak mengandung adegan kekerasan yang cukup sadis, disertai pula dengan beberapa adegan sensual. Untuk dalam negeri, kita bisa mengkategorikan bahwa film ini sebuah suguhan dewasa meskipun rating film ini originalnya adalah untuk ‘Remaja.’
AMERICAN SNIPER
Black Hawk Down
Film yang menceritakan tentang jatuhnya dua helikopter militer Amerika, UH-60 Black Hawk setelah ditembak jatuh oleh pejuang Islam Somalia yang hanya bersenjatakan sederhana.
Film Black Hawk Down diambil dari peristiwa nyata tentang Pertempuran Mogadishu yang terjadi pada tahun 1993, antara tentara Amerika melawan pejuang Islam Somalia klan Habr Gidr. PimpinanMuhammad Farah Aidid.

Musim gugur di Mogadishu, Oktober 1993, mengembuskan sebuah tanda kematian. Ketika fajar tiba memulai tanggal 3 Oktober, peluru dan granat menyalak tak berkesudahan. Ketika 160 orang pasukan militer Amerika Serikat menembus lorong-lorong Mogadishu, Somalia, 3 Oktober 1993. Semula, di bawah pimpinan Jenderal William F. Garrison (Sam Shepard), mereka diberi tugas menculik letnan-letnan utama Jenderal Muhammad Farrah Aidid, warlord yang menguasai kawasan ibu kota tersebut. Operasi ini dijadwalkan berlangsung 30 menit saja. Namun, misi yang semula dianggap enteng ini berujung bencana.

Dari sore hingga fajar pecah keesokan harinya, peluru, granat, dan berbagai macam senjata yang diperjualbelikan di Mogadishu bak kacang goreng itu tak henti-hentinya menghajar dan mencabik tubuh mereka. Dua helikopter Amerika juga ditembak jatuh. Seluruh kota seperti telah melawan mereka sehingga tak ada pilihan selain balas mengamuk. Peristiwa ini menyebabkan 10 orang pasukan AS tewas dan puluhan orang luka berat. Maka, ini kemudian menjadi tragedi terbesar pada masa pemerintahan Bill Clinton.

Inilah peristiwa hitam—jauh sebelum Tragedi World Trade Center—yang direkam oleh wartawan Philadelphia Inquirer dalam buku berjudul Black Hawk Down, yang kemudian diangkat ke layar lebar oleh sutradara Ridley Scott. Inilah kisah nyata ketika 250 ribu pasukan marinir AS yang bertugas bersama PBB untuk mendistribusikan makanan di Somalia merasa "impoten" dalam perang sipil yang dikuasai milisia yang luar biasa brutal itu. Kebijakan AS saat itu: menangkap Muhammad Farrah Aidid. Dan Jenderal Garrison sudah melampaui batas waktu penangkapan yang diberikan oleh Washington. Maka terjadilah peristiwa nahas itu.

Sutradara Inggris yang tahun lalu filmnya, Gladiator, terpilih sebagai film terbaik Academy Awards ini menggunakan pendekatan semidokumenter dalam film ini untuk membawa penonton pada gambaran nyata sebuah perang. Ia tak segan-segan menyodorkan gambar tangan terputus atau badan tentara yang terbelah total tetapi toh bibirnya masih sempat berbicara. Kiat ini bukan barang baru. Oliver Stone telah menggunakannya dalam Platoon, begitu juga Steven Spielberg dalam Saving Private Ryan. Namun kebrutalan perang dalam Black Hawk Down semakin terasa nyata karena ia tampil dua jam nyaris tanpa jeda, sehingga film terasa lebih menohok dan butuh ketabahan tersendiri untuk menontonnya.

Sayang sekali, informasi sebab-musabab awal keterlibatan AS dan negara-negara lain yang berdatangan ke Somalia untuk membantu ditampilkan cuma sekelebat. Latar belakang historis perang antarklan juga mengawang, sehingga tokoh-tokoh milisi Somalia hadir brutal tanpa alasan yang cukup. Alasan strategis peluncuran misi penculikan juga tak pernah jelas karena lawan politik Aidid tak dimunculkan. Akibatnya, dalam beberapa adegan film ini jadi kehilangan konteks. Film ini punya potensi menerbitkan salah paham bahwa mayoritas warga Somalia haus darah. Namun, di sisi lain, hal ini malah menimbulkan efek dramatis ketika para prajurit harus terus bertempur di tengah ketidakyakinan mereka terhadap misi ini. Karena itu, tanpa disadari—barangkali—Ridley telah menciptakan sebuah film perang yang antiperang, seperti sikap sutradara Kenneth Brannagh dalam film Henry V.

Itulah sebabnya, meski berkisah tentang serdadu Amerika, Black Hawk Down bukanlah film laga ala Rambo, yang tak tahu malu mengagumi aksi norak koboi militer negara adidaya itu di wilayah orang lain. Film ini tak menyajikan sosok Mel Gibson atau Tom Cruise, apalagi Sylvester Stallone untuk membuat penonton merasa tenang bahwa akhir dari seluruh kerusuhan ini akan beres karena datangnya sang jagoan. Sebaliknya, ini adalah film yang secara terus terang menyuguhkan kisah militer Amerika sebagai pecundang. Dari perimbangan angka korban, pasukan Amerika unggul banyak, 18 prajurit lawan seribu orang warga Somalia. Namun, bukankah ini satu bentuk kekalahan telak, sebuah misi yang tak jelas akhirnya merenggut nyawa sekian banyak manusia?

Adegan-adegan yang menampilkan warga sipil Somalia sangat menyentuh. Seorang wanita dan anak-anaknya terduduk di pojok rumahnya dalam roman ketakutan saat seorang serdadu Amerika masuk. Seorang anak lelaki kencur menangis hebat saat tembakannya yang diarahkan ke pasukan Amerika salah sasaran dan mengenai ayahnya sendiri. Seorang perempuan merenggut senapan dari pasangannya yang tewas dan menembaki para tentara asing sebelum akhirnya ia sendiri jatuh terkena peluru. Dengan cara penyampaian seperti itu, Black—yang dalam ajang Academy Awards tahun ini sudah berhasil meraih lima nominasi (sutradara, penyuntingan, sinematografi, tata suara, dan penyuntingan suara)—tak perlu lagi menggunakan kata-kata petuah tentang kengerian perang.

Sinematografer Slawomir Idziak punya andil besar dalam menciptakan suasana kelam. Penonton seperti bisa merasakan taburan debu dan pecahan batu saat helikopter Amerika jatuh. Idziak menghindari warna-warna cerah untuk penggambaran adegan tempur. Ia menampilkan gambar memburam secara bertahap seiring dengan malam tiba. Penyuntingan tangkas yang dilakukan Pietro Scalia membuat hasil kerja Idziak kian menggigit. Musik yang ditata Hans Zimmer ikut menambah getar, namun senandung sedih yang jadi lagu penutup terlalu mirip karyanya dalam film Gladiator, film terbaik Oscar tahun 2001 lalu yang juga disutradarai Scott. Setiap pemain dalam film ini mendapatkan porsi yang relatif berimbang. Josh Harnett, Ewan McGregor, Sam Shepard, ataupun Tom Sizemore bermain standar. Karakter yang mereka mainkan praktis statis karena film ini hanya menyorot 15 jam kehidupan serdadu Amerika di Somalia.

Tanpa paham konteks cerita, penonton akan menjumpai lubang besar saat menyimak Black Hawk Down. Yang juga patut disayangkan adalah saat Scott menghindari menampilkan gambar paling dramatis dari kejadian nyata hari itu, mayat Sersan Gary Gordon yang diseret sepanjang jalan Mogadishu dalam keadaan setengah telanjang. Scott mungkin tak ingin kenangan pahit tersebut kembali meneror (penonton Amerika). Tapi meninggalkan momen ini seperti menghilangkan ironi terbesar: prajurit Amerika yang datang dengan misi kemanusiaan—terlepas dari segala kepongahannya—harus menjumpai nasib mengenaskan di bumi kerontang Afrika. 

- Pandangan Dari Beberapa Pihak.

Pada tanggal 3 Oktober 1993, militer Amerika mengirimkan pasukan elitnya secara besar-besaran, hanya untuk memburu Pemimpin pejuang Islam Somalia, Muhammad Farah Aidid. Pasukan elit tersebut terdiri dari, Pasukan US Delta ForceTentara Rangerpararescuemen Angkatan Udaraunit tempur Angkatan Udara, pasukan khusus Navy SEAL, dan Resimen Operasi Khusus Penerbangan 160.

Militer Amerika dengan sombongnya memprediksi hanya akan membutuhkan waktu beberapa jam saja untuk mendapatkan Aidid. Tapi diluar dugaan, pertempuran justru memakan waktu hingga 2 hari, tanggal 3-4 Oktober.
Penyerangan militer Amerika terhadap pejuang Islam Somalia tadinya sesuai rencana, yang hanya memakan beberapa jam saja. Tetapi semua itu berubah, ketika dua helikopter canggih Black Hawk ditembak jatuh oleh roket RPG yang dilontarkan pejuang Islam Somalia.

Tersebar kabar, salah satu penembak adalah Zachariah al Tunisi, pejuang Islam Somalia, yang dikemudian hari bergabung dengan Al Qaeda, lalu beliau gugur syahid di Afghanistan pada November 2001.

Insiden tersebut mengakibatkan, 
  1. 18 tentara Amerika tewas, 
  2. 73 lainnya terluka dan,
  3. 1 kru Black Hawk ditawan. 
Sebagian tentara yang terluka terkepung di perkotaan dan bersembunyi dari kemarahan warga Mogadishu, Somalia.

Pada tanggal 24 April 1994, Boutros Ghali (Sekjen PBB di masa itu) mengumumkan kekalahan dan menyatakan bahwa Misi PBB sudah berakhir disana. Kekalahan itu diikuti oleh tentara Amerika yang kemudian menarik mundur pasukannya dari sana.

Misi Amerika di Somalia oleh banyak pengamat dipandang telah gagal. Beredarnya gambar dan foto jasad tentara Amerika yang tewas yang diseret-seret di jalanan Mogadishu telah membangkitkan kemarahan publik Amerika. Pemerintah kala itu akhirnya semakin tertekan.
Pearl Harbor
 PH
Film Pearl Harbor ini menceritakan tentang Rafe (Ben Affleck) dan Danny(Josh Hartnett), Mereka adalah dua anak kecil yang tumbuh di pedesaan Tennesse yang memiliki cita-cita menjadi pilot. Mereka merupakan sahabat yang sangat dekat. 18 Tahun kemudian, Rafe sudah menjadi pilot Korps Udara AS AD yang berpangkat Kapten. 


Eropa saat itu sedang dalam keadaan kacau, perang terjadi dimana-mana. Akan tetapi Amerika Serikat masih dalam keadaan aman. Rafe yang sangat ingin bertempur di udara mencalonkan diri menjadi sukarelawan pada Skuadron Rajawali Inggris. Rafe pergi ke Eropa meninggalkan pacarnya Evelyn Johnson (Kate Beckinsale) dan sahabat dari kecil yang pilot juga, Danny. Namun sayang, berita yang terdengar pesawat Rafe ditembak jatuh oleh musuh dan dianggap Rafe sudah tewas.

Evelyn dan Danny sangat terpukul mendengar kepergian Rafe. Mereka tak menyangka misi ke Eropanya menjadi kepergian untuk selamanya. Danny yang melihat Evelyn yang sangat terpukul mencoba menghiburnya. Seiring berjalannya waktu, mereka mulai jatuh cinta. Suatu hari di pantai, Evelyn dan Danny sedang berdua-duaan disana. Tak diduga mereka melihat Rafe masih hidup. Tak terima Evelyn di rebut oleh Danny, Rafe terlihat sangat marah. Persahabatan yang dipupuk dari kecil itu sekarang berubah menjadi permusuhan. Ketika perdebatan itu belum selesai, tiba-tiba armada Jepang datang dan menyerang Pearl Harbor.