Tampilkan postingan dengan label Documentary Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Documentary Film. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Agustus 2016

What Happened Miss Simone?
What Happened, Miss Simone?
Seolah masih dalam alur kehidupan “seseorang yang kreatif itu kejiwaannya bermasalah”, dokumenter produksi Netflix yang berjudul What Happened, Miss Simone? juga menyorot penyanyi lawas bernama Nina Simone. Itu bukan nama aslinya melainkan nama panggung. Nama aslinya adalah Eunice Waymon.
Lahir sebagai kulit hitam dia mendapatkan perilaku diskriminatif dan sempat ditolak masuk sekolah musik. Namun Simone berlatih piano klasik dengan tekun. Simone memang berbakat dan dia menjadi terkenal. Jadi, dia tidak pernah minta diri jadi terkenal.
Sehingga ketika terkenal pun, itu menjadi “pembenaran” sebab memang berbakat. Simone menderita juga sebab dipukuli suaminya, dan kemudian dia jadi rajin juga memukuli anaknya. Di balik suara khas, ada pergulatan batin. Baru tahun 1980-an dia didiagnosa bipolar.
Karirnya juga naik turun, ketika masa Martin Luther King dkk menuntut hak sipil, dia berani menyuarakan suara orang yang tertindas sehingga dibenci. “Apalah gunanya seniman jika tidak merefleksikan zaman,” ungkap Simone.
What Happened, Miss Simone? Menjawab pertanyaan ini dengan klip wawancara dan dokumentasi asli. Seorang penyanyi bersuara khas yang mungkin akan dijadikan biopic pemancing Oscar. Tapi tak perlu menunggu dibuat biopic “penyanyi menderita jadi sansak suami terus mensasak anak sendiri”, dokumenter ini  masuk nominasi Oscar untuk dokumenter terbaik.
Winter on Fire:Ukraine Fight for Freedom
Hasil gambar untuk winter on fire: ukraine's fight for freedom
Pada musim dingin itu rakyat Ukraina bersatu menentang pemerintah yang membohongi rakyat.
Dusta pemerintah itu adalah menolak bergabung dengan Uni Eropa. Maka selama tiga bulan rakyat demo. Tapi bukan demo biasa di Kiev, melainkan dihiasi oleh kekejaman polisi, bahkan di bulan terakhir polisi memakai peluru tajam, menewaskan 125 orang.
Kameramen dokumenter Winter on Fire: Ukraine’s Fight for Freedom ini entah nekat atau berani, tapi merekam kekejaman, mayat-mayat serta pelaku demonstrasi. Ini mirip dengan dokumenter Netflix lain berjudul The Square soal demo di Mesir menuntut Hosni Mubarak turun.
Seperti sudah diketahui, karena Rusia kesal rakyat Ukraina tidak mau gabung sama Moskow maka Rusia bantu separatis untuk menguasai Ukraina timur dan Krimea.
Senyap


Hasil gambar untuk senyap
SINOPSIS
Melalui karya Joshua Oppenheimer yang memfilmkan para pelaku genosida di Indonesia, satu keluarga penyintas mendapatkan pengetahuan mengenai bagaimana anak mereka dibunuh dan siapa yang membunuhnya. Adik bungsu korban bertekad untuk memecah belenggu kesenyapan dan ketakutan yang menyelimuti kehidupan para korban, dan kemudian mendatangi mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan kakaknya – sesuatu yang tak terbayangkan di negeri dengan para pembunuh yang masih berkuak

PERNYATAAN SUTRADARA

Film Jagal (The Act of Killing) memaparkan apa yang kita alami ketika kita membangun realitas sehari-hari di atas teror dan kebohongan. Film Senyap menjelajahi apa yang dirasakan oleh penyintas dalam realitas seperti itu. Membuat film mengenai genosida bagaikan berjalan di tengah medan ranjau penuh dengan pernyataan klise yang sebagian besarnya ditujukan untuk menciptakan protagonis heroik (kalau bukan tokoh suci), dan oleh karena itu menawarkan sebuah penghiburan bahwa, di dalam bencana moral akibat kekejian, kita semua tidaklah mirip dengan para pelaku kekejian itu. Tapi menampilkan para penyintas sesuci mungkin dalam rangka meyakinkan diri kita sendiri bahwa kita adalah orang baik akan terlihat seperti memanfaatkan para penyintas untuk menipu diri kita sendiri. Hal seperti ini merendahkan pengalaman para penyintas, dan tidak menolong kita dalam memahami apa artinya menyintas dari sebuah kekejian, dan apa artinya menjalani hidup yang dihancurkan oleh kekerasan massal, dan dibungkam oleh teror. Pengetahuan navigasi yang diperlukan untuk menempuh medan ranjau klise tadi hanya bisa didapatkan dari menjelajahi kesenyapan itu sendiri.
Sebagai hasilnya, film Senyap, saya harap, menjadi sebuah puisi tentang kesenyapan yang lahir dari teror—sebuah puisi tentang pentingnya memecah kesenyapan itu, tetapi juga tentang trauma yang datang ketika kesenyapan itu dipecahkan. Mungkin film ini adalah sebuah monumen bagi kesenyapan—sebuah pengingat bahwa, walaupun kita ingin meneruskan hidup, memalingkan pandangan, dan memikirkan hal-hal lain, tak ada yang bisa mengembalikan keutuhan apa yang telah dirusak. Tak ada yang bisa menghidupkan kembali mereka yang telah mati. Kita harus berhenti, mengakui kehidupan yang telah dilumatkan, dan memaksa diri untuk mendengarkan kesenyapan yang menyusulnya.
– Joshua Oppenheimer

PERNYATAAN KO-SUTRADARA

Film Senyap, dan juga film sebelumnya, Jagal, adalah sebuah pengingat bahwa kebenaran belum lagi tuntas diungkapkan, keadilan belum lagi ditegakkan, permintaan maaf belum lagi dikatakan, korban belum direhabilitasi—apalagi mendapatkan rekompensasi atas segala yang dirampas dari mereka. Sesudah itu semua, sejarah yang diajarkan di sekolah masih bungkam mengenai kekejaman dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang menimpa jutaan orang.
Film Senyap, bagi saya adalah gaung bagi suara-suara lirih keluarga korban, penyintas, dan mereka yang tertindas. Saya berharap gemanya akan sanggup memperkuat suara-suara itu, karena di sela-sela kesenyapan itu juga ada banyak harapan.
Film Senyap menunjukkan betapa rekonsiliasi adalah sebuah jalan panjang, penuh rintangan, dan berat. Kami berharap pesan film Senyap ini mencerminkan optimisme kami: “Rekonsiliasi adalah jalan berat, bukan jalan yang tak mungkin.”
– Anonim
Amy
Hasil gambar untuk review amy indo
Amy adalah film dokumenter Britania Raya tahun 2015 yang mengisahkan kehidupan dna kematian penyanyi-pengarang lagu Britania, Amy Winehouse. Film ini disutradarai Asif Kapadia dan diproduseri Krishwerkz Entertainment, On The Corner Films, Playmaker Films, dan Universal Music. Film ini didistribusikan oleh Altitude Film Distribution bekerja sama dengan Film 4. Amy dirilis di bioskop pada tanggal 3 Juli 2015 di Britania Raya dan Amerika Serikat, lalu dirilis secara global tanggal 10 Juli. Film ini menampilkan kehidupan Winehouse dari sudut pandang perjuangannya melawan penyalahgunaan obat-obatan sebelum dan sesudah kariernya melejit yang pada akhirnya menjadi penyebab kematiannya.

Pada Februari 2015, cuplikan awal yang menampilkan kehidupan Winehouse tayang perdana di acara pra-Grammy menjelang 2015 Grammy Awards. Dalam kesempatan yang sama, David Joseph, CEO Universal Music UK, mengumumkan bahwa judul film ini berubah menjadi Amy dan filmnya akan dirilis di bioskop pada musim panas 2015. Ia menambahkan, "Sekitar dua tahun yang lalu, kami memutuskan untuk membuat sebuah film tentang dia—karier dan kehidupannya. Ini film yang sangat rumit dan berat. Film ini menceritakan berbagai hal tentang keluarga dan media, ketenaran, kecanduan, namun yang paling penting adalah film ini mengungkap jati dirinya, sosok yang menakjubkan sekaligus musisi yang sangat brilian." Film ini ditayangkan di segmen Midnight Screenings di 2015 Cannes Film Festival,lalu tayang perdana di Britania Raya dalam ajang Edinburgh International Film Festival.

Amy menjadi dokumenter Britania dengan pendapatan tertinggi sepanjang masa dengan total £3 juta pada pekan pertama.Per Januari 2016, film ini mendapatkan 33 nominasi dan memenangi 23 penghargaan film, termasuk Best European Documentary di 2015 European Film Awards,serat berbagai nominasi seperti Best Music Film di 2016 Grammy Awards dan dua BAFTA (termasuk Best Documentary dan Outstanding British Film).Film ini masuk nominasi Academy Award for Best Documentary Feature di 88th Academy Awards.Musik di balik film ini memberikan Winehouse nominasi anumerta Best British Female Solo Artist di 2016 BRIT Awards. Ini merupakan nominasi kesembilan dan nominasi anumerta ketiga Amy dalam ajang penghargaan tersebut.
Cartel Land
Tidak seharusnya kita berhenti menyimpan optimisme teruntuk dunia yang lebih baik. Dunia tanpa kriminalitas, tanpa peperangan, tanpa pertumpahan darah. Namun seringkali harapan itu ditampar oleh kenyataan bahwa hidup ini berjalan membentuk lingkaran tanpa kenal putus. Satu keburukan ditumpas, tak butuh waktu lama untuk muncul benih keburukan berikutnya. It goes on and on and on. Terkesan hopelessbut that's the real life. Guna memaparkan wajah kelam itu rasanya tidak ada tempat yang lebih cocok selain Meksiko dimana institusi pemerintahan "runtuh" dan kartel narkoba berposisi di atas hukum. Seperti judulnya, "Cartel Land" menyoroti tanah tempat kartel narkoba berkuasa hingga memancing pergerakan warga sipil melakukan perlawanan.

Sutradara Matthew Heineman membagi dokumenter ini ke dalam dua cerita paralel mengenai dua kelompok vigilanteArizona Border Recon dan Autodefensas. Kelompok pertama dipimpin oleh Tim Foley, beraksi menjaga perbatasan Amerika Serikat dan Meksiko, melakukan razia terhadap penyelundupan narkoba sampai imigran gelap. Sedangkan Autodefensas berisi warga sipil dari Michoacan, Meksiko yang merasa jengah terhadap aksi gembong Kngihts Templar. Bermodalkan senjata api lengkap,Autodefensas di bawah pimpinan Dr. Jose Mireles menyatroni satu per satu markas kartel tersebut untuk mengakhiri kekuasaan mereka di berbagai kota. 
This is one of the scariest documentary I've ever seen. Mengerikan, karena Heineman mendapat akses menaruh kameranya di berbagai setting tempat dan situasi yang semestinya tidak kita datangi. "Cartel Land" bukan dokumenter yang hanya bertutur lewat rangkuman statistik, reka ulang atau wawancara. Film ini terjun langsung ke tengah baku tembak antara Autodefensas melawan Knights Templar, hingga mendokumentasikan para kartel tengah meramu narkoba. Bayangkan anda berdiri di bawah desingan peluru liar atau duduk bersama kriminal keji sewaktu tengah melakukan aksi mereka. Aroma kematian terasa semerbak di sini. Terlebih lagi, Heineman tidak ragu menampilkan visual "memuakkan" berupa kepala terpenggal juga mayat berlumuran darah. Segala pemandangan tadi menjadi set-up sempurna bagi atmosfer filmnya, karena memang seperti inilah situasi di Michoacan. 

Sayangnya muncul lubang pada intensitas yang berasal dari keputusan Heineman menyatukan dua cerita. Bermaksud menciptakan paralel, kisah Arizona Border Recon jelas tenggelam baik dari sisi kuantitas maupun kualitas bila disandingkan dengan paparan perjuangan Autodefensas. Hanya menyajikan inteview pada Tim Foley dan sedikit aksi mereka di lapangan, konflik di perbatasan tersebut tidak nampak sebegitu menarik, bahkan sering menurunkan intensitas film secara keseluruhan akibat terpecahnya fokus. Andai hanya berpusat pada salah satu cerita saja -tepatnya Autodefensas- niscaya film ini akan jauh lebih padat. 
Pada awal narasi, kita menyaksikan kepahlawanan Autodefensas dan Jose Mireles. Mereka tidak ragu menantang maut bahkan berdiri tegak menghadapi usaha polisi melucuti senjata mereka. Lewat sebuah sequence menggetarkan kala warga kota bersatu mengusir polisi -seorang nenek mendorong paksa mobil patroli, wanita berteriak histeris bahkan ada yang mengayunkan parang- Heineman sukses menggambarkan runtuhnya kepercayaan masyarakat akan instansi berwajib. Awalnya Mireles adalah pahlawan terlihat bak pahlawan dan Autodefensas merupakan pelindung. Namun seperti kalimat dari Tim Foley di awal film, "there's an imaginary line between right and wrong. Good and evil". Baik dan buruk tersebut makin dibaurkan seiring berjalannya durasi ketika Heineman secara cerdik mencuatkan satu per satu fakta yang juga berperan sebagai twist mengejutkan. 

"Cartel Land" adalah tipikal film yang cukup ditonton sekali saja. Bukan karena buruk, namun kebrutalan visual dan dominasi rasa ketidakberdayaan mencekik bukanlah suatu hal menyenangkan untuk berulang kali disaksikan. Semakin disturbing karena film ini menyadarkan bahwa segala hal di layar merupakan realita. It's intense, scary and will stab right through your heartDokumenter ini bertutur mengenai pertempuran antara baik melawan buruk, hanya saja kita tak pernah tahu pasti siapa berada di pihak mana.