Tampilkan postingan dengan label Thriller Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Thriller Film. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Agustus 2016

Gone Girl
Saat menulis novel Gone Girl, Gillian Flynn memang mempunyai intensi 'Andai Fincher nge-direct film gue, akan kayak gini jadinya'. Begitu Fincher beneran nge-direct film ini, wajar ketika Flynn sendiri yang didaulat buat menulis versi naskah layar lebarnya. Buat yang udah baca novelnya (gue sendiri masih belum selesai), mungkin udah punya ekspektasi sendiri gimana kerjasama Fincher - Flynn ini. Gak ada kekhawatiran, mengingat Fincher dikenal piawai dalam mengadaptasi film dari novel (kayak The Girl With The Dragon Tattoo atau Curious Case of Benjamin Button). Buat yang suka sama novelnya, pasti kinjong sendiri kayak sohib gue Candra (yang menerima berita gagal tayang tadi lebih drama dibandingin gue).


Nick Dunne (Affleck) adalah seorang pria yang hidup bersama istrinya Amy (Pike) di sebuah kota kecil. Menjalani bisnis bar bernama The Bar bersama adik kembarnya, Go (Coon) dan mengajar kelas menulis kreatif adalah aktivitasnya sehari-hari. Di hari perayaan pernikahannya yang kelima, Amy tiba-tiba menghilang. Hilangnya Amy segera diproses oleh kepolisian setempat dan dibesar-besarkan oleh media massa. Dalam penyelidikan kepolisian sendiri, Nick terlihat sangat mencurigakan. Sedangkan pemberitaan media yang begitu masif membuat pernikahan Nick - Amy yang terlihat adem ayem di luar mulai terkuak kebenarannya sedikit demi sedikit. Benarkah Nick membunuh istrinya sendiri? Ada apa sebenarnya di antara Nick dan Amy?

First of all, Gone Girl dibuat dengan banyak layer yang semakin lama semakin mengejutkan. Seperti sensasi saat pertama kali makan klepon, pertama-tama yang lo rasakan adalah lapisan tepung beras yang kenyal dan sulit ditembus terus duar..!! Lo tiba-tiba mendapati seluruh mulut lo dibanjiri dengan gula merah cair. Di awal, kita seolah disajikan sebuah film thriller biasa : seorang istri yang menghilang dan seluruh isi kota mencari keberadaannya. Namun semakin kita terperosok kedalamnya, ada banyak hal yang cukup mengganggu. Selalu ada dua sisi dari satu cerita, namun yang manakah yang benar? Apa benar Nick - Amy bahagia seperti yang terlihat? Dengan narasi dan flashback dari Amy, bisakah kita bisa menyimpulkan bahwa Nick yang salah? Atau justru Amy yang berbohong? Atau malah bisa jadi keduanya. Kalau iya, terus gimana? 

Secara mendalam, Gone Girl seolah ingin menunjukkan bagaimana rasanya ketika sebuah hubungan pasangan yang semakin mendingin dan menjauh satu sama lain. Bagaimana kedua orang yang dulu saling mencintai malah semakin membenci dan menyalahkan satu sama lainnya. Seperti yang sudah gue sebutkan di awal, Nick dan Amy benar-benar saling menyakiti satu sama lain dengan cara-cara yang manipulatif sekaligus 'sakit'. This is a warning, kita gak akan pernah bisa mengenal orang yang kita cintai. Apalagi jika ternyata pasangan lo adalah seorang psychopath dengan kemampuan manipulasi setara dengan Hannibal Lecter. 

Dari sisi filmnya sendiri, kita tahu persis yang kita harapkan saat menonton film-film besutan Fincher :dark and gloomy. Dan Gone Girl adalah bukti lain bahwa area kekuasaan Fincher memang ada di sini. Gelap, pekat, dan intens seperti darah adalah suasana dan mood yang gue dapatkan selama hampir 2 jam mantengin Gone Girl. Apalagi dengan bantuan scoring gila dari Trent Reznor dan Atticus Ross. Sulit untuk bisa bernafas ketika tiba-tiba satu demi satu layer disingkap ke permukaan.

Tanpa perlu bertele-tele, Gone Girl bisa ada di tahap sekeren ini tentu saja juga berkat aktor-aktor yang bermain di dalamnya. Banyak yang berpikir 'Why Ben Affleck?', tapi Affleck memang cocok sekali memainkan karakter Nick yang clueless. Aktor pendukung lain seperti Neil Patrick Harris, Carrie Coon, dan Tyler Perry bermain bagus. Tapi tak bisa dipungkiri, bintang dari film ini adalah si gone girl itu sendiri : Rosamund Pike. Dengan akting dan suaranya yang dalam, anggun, sekaligus tak terjangkau, Amy sukses menjungkirbalikkan persepsi penonton. Di suatu titik, we are all Team Amy. 



Secara keseluruhan, sensasi menonton Gone Girl udah kayak nonton Fight Club dan Se7en jadi satu. Ada banyak hal yang membuat Gone Girl begitu disturbing tanpa visual yang kejam seperti Se7en. Namun di sisi lain, ia juga bisa membuat otak meledak dengan tempo yang semakin menggila seperti di Fight Club. Dan buat Fincherian, kita semua udah seneng banget dikasih film bagus dan keren. Ini cara Fincher bersenang-senang : membingungkan, mengejutkan, sekaligus merangsang otak di saat yang bersamaan.

Dan memang ya, pernikahan adalah sebuah kerja keras dari kedua belah pihak. Selalu ada di saat-saat terbaik dan terburuk. Hadir di saat sakit maupun sehat, namun untuk kasus Gone Girl, 'sakit' adalah kata yang paling tepat.
Shutter Island
Sebuah karya terbaru dari sutradara Martin Scorsese yang pernah sukses memboyong Oscar dalam film The Departed (2006). Ini juga adalah hasil kolaborasi keempat antara Martin Scorsese dengan aktor kesayangannya sekarang ini (setelah Robert DeNiro), Leonardo DiCaprio. Sebelumnya Leo memang sudah beberapa kali bermain dalam film arahan Scorsese, sebut saja The Aviator, Gangs of New York, dan juga The Departed. Ketiga film tersebut terbilang sukses, begitu juga dengan Shutter Island yang sudah dua minggu berturut-turut berada di puncak tangga box office.

Shutter Island sendiri diadaptasi dari novel karya Dennis Lehane yang pernah menulis Mystic River dan Gone Baby, Gone. Novel-novel karya Dennis memang biasanya cenderung dark dantwisted, sama halnya dengan Shutter Island kali ini. Dan sutradara selevel Martin Scorsese menurut saya berhasil mengadaptasi dengan baik, meskipun saya sendiri belum membaca novelnya. Film ini terasa classic, dark, dan twisting. It will twist your mind from the beginning until the end. Mungkin alurnya akan terasa lambat di awal film, namun apabila anda sabar menunggu sampai akhir film anda pasti akan bergumam 'ohh begituuu..'

Bersetting tahun 1954, film ini menceritakan seorang anggota federal U.S Marshall bernama Teddy Daniels (Leonardo DiCaprio) dan partner kerja barunya Chuck Aule (Mark Ruffalo) yang sedang ditugaskan untuk berkunjung ke sebuah pulau terpencil guna menyelidiki tentang misteri hilangnya seorang pasien dari rumah sakit jiwa Ashecliffe. Sebenarnya Teddy memiliki maksud pribadi yang mengharuskannya menyelidiki rumah sakit jiwa tersebut, namun belum jelas dengan yang ingin dicarinya disana, ia dan partnernya malah merasa ada yang tidak beres dengan kepala rumah sakit jiwa, Dr.Cawley (Ben Kingsley), yang terkesan menutup-nutupi sesuatu. Teddy berusaha keras mencari bukti-bukti yang ada disana, namun selalu ditutupi oleh pihak rumah sakit. Sampai tiba-tiba Teddy selalu mendapatkan halusinasi dan mimpi aneh setiap hari sehingga ia mulai meragukan mana yang nyata dan mana yang halusinasi. Sebenarnya apa yang terjadi disana? Apakah Teddy tidak akan bisa keluar dari pulau tersebut?

Saran saya, kalau anda tidak suka dengan film-film beralur lambat, membingungkan, serta memaksa anda untuk berfikir keras selama menonton, sebaiknya lewatkan saja film ini. Karena saya jamin anda pasti bosan dan akan keluar bioskop sebelum film usai. Tapi kalau anda tanya bagaimana dengan saya? Ya, saya menikmati film ini. Saya ikut penasaran dengan alur dan misteri yang ada didalamnya, tidak merasa bosan sama sekali. Film ini memang sulit dicerna bagi semua orang, tidak semuanya dapat menikmati tipe film seperti ini. Tapi kalau anda memperhatikan filmnya dari awal dan sudah mengetahui kalau film ini memang mengusung psychological thiller, anda pasti akan puas.

Lewat film ini Martin Scorsese semakin menunjukkan jati dirinya sebagai sutradara kawakan, begitu juga Leonardo DiCaprio yang sudah tidak perlu diragukan lagi kualitas aktingnya. Mark Ruffalo tampil lumayan baik, tidak istimewa, tapi tetap bisa mengimbangi lawan mainnya. Aktor veteran, Ben Kingsley juga demikian. Michelle Williams hanya tampil sebentar dan aktingnya biasa saja. Shutter Island adalah film yang harus ditonton dengan hati-hati dari awal, perhatikan semua detail yang ada. Pada akhirnya, anda dan sang aktor dalam film ini akan dibiarkan menebak-nebak dan mencari jawaban sendiri. Bahkan saya rasanya ingin menonton sekali lagi agar semakin mengerti. Biasanya dalam film model twisting seperti ini,puzzle yang tidak terpecahkan pada saat awal menonton akan mudah terpecahkan pada kali kedua. Kalau sudah nonton.





Final Destination 5
"Death doesn't like to be cheated" yang dalam Bahasa Indonesia berarti "Kematian tidak suka dicurangi" adalah sebuah tagline yang sangat lekat dari franchise film "Final Destination" yang tahun ini sudah sampai pada seri kelima sejak pertama kali muncul pada tahun 2000. Sayangnya "kematian" bukan hanya tidak suka dicurangi oleh para korbannya di franchise film ini, tapi "kematian" justru suka mencurangi korban-korbannya. Hal itu sangat terasa di installemnt keempatnya dua tahun lalu dimana banyak sekali penyebab kematian yang ditampilkan terasa amat sangat dipaksakan. Selain itu, efek 3D yang untuk pertama kalinya digunakan di film keempat tersebut ternyata hasilnya biasa saja, bahkan banyak beberapa visualisasi yang terlihat terlalu murahan dan konyol. Apakah memang seri "Final Destination" sudah harus dihentikan atau film kelimanya ini bisa memperpanjang nafasnya?

Seperti biasa kisah akan bergulir pada serombongan anak muda yang tiba-tiba salah satu diantaranya mendapat visualisasi kematian yang akan menimpa dirinya dan rekan-rekannya. Kali ini yang mendapat penglihatan tersebut adalah Sam (Nicholas D'Agosto). Sam dan rekan-rekan kerjanya saat itu sedang berada didalam bus yang melintasi sebuah jembatan yang sedang dalam perbaikan disaat Sam mendapat visi mengenai sebuah bencana yang terjadi di jembatan tersebut dan pada akhirnya menewaskan mayoritas orang-orang didalam bus termasuk dirinya. Setelah sadar Sam langsung mencoba menyelamatkan dirinya dan Molly (Emma Bell) mantan pacarnya. Hingga akhirnya hanya ada 8 orang penumpang yang selamat dari kecelakaan maut tersebut. Tapi kematian masih belum berhenti mengintai dan siap menjemput mereka kapan saja.

Film ini dibuka dengan sebuah adegan runtuhnya jembatan yang merenggut banyak nyawa. Seperti biasa, adegan kecelakaan yang ditempatkan diawal film itu akan menjadi adegan paling megah dalam film "Final Destination". Pertanyaannya apakah adegan runtuhnya jembatan ini bisa seefektif adegan kecelakaan pesawat di film pertama atau sekosong dan sama membosankannya dengan adegan kecelakaan mobil balap di film keempat? Ternyata adegan kecelakaan di film kelima ini mampu ditampilkan dengan efek yang paling megah dibanding film-film sebelumnya. Balutan efek 3dimensi yang ada juga cukup efektif, gory dan terlihat jauh lebih bagus dibanding di film keempatnya. Keberhasilan dalam segi visual dalam adegan ini memang sangat penting mengingat mayoritas penonton yang sebelumnya sudah menyaksikan minimal salah satu prekuelnya pasti sudah tahu kalau adegan tersebut bukan kenyataan namun hanya penglihatan yang didapat oleh salah satu tokohnya. Overall adegan opening tersebut memang spektakuler dan sangat berhasil.

Tapi tidak hanya menampilkan visualisasi kematian yang cukup sadis dan efek 3dimensi yang memuaskan, "Final Destination 5" juga berhasil mengembalikan ketegangan yang muncul disaat salah satu karakternya tengah menatap kematian. Efek ketegangan tersebut hakikatnya adalah sajian utama yang penonton rasakan. Tapi akhir-akhir ini, "Final Destination" gagal menampilkan ketegangan, bahkan efek sadis dan gory juga gagal muncul. Untungnya film kelima ini berhasil mengembalikan sisi tersebut dimana saya cukup merasakan ketegangan khususnya pada adegan gym yang membuat saya menahan nafas walaupun saya sudah tahu akan ada adegan kematian disitu. Hingga saat adegan kematian itu datang saya tidak merasa adegan itu lewat begitu saja tapi meninggalkan sisi tragis yang membuat miris juga.

"Final Destination 5" bukanlah sebuah film horror tanpa celah. Kekurangan utamanya adalah tidak adanya hal baru dalam plot film ini. Saya sudah sangat hafal dengan rule tentang kematian yang selalu diulang-ulang tiap film. Saya juga tahu rule itu akan tidak terlalu berguna mengingat bagaimana nasib tokoh-tokohnya di ending sudah tertebak. Meskipun begitu, di film ini ada sedikit kejutan manis di ending (yang tidak semegah opening tapi tetap cukup bagus) bagi orang yang sudah menonton film pertama "Final Destination". Saya juga menyayangkan porsi tokoh yang dimainkan Tony "Candyman" Todd yang terasa hanya sambil lalu dan memperingatkan mengenai aturan kematian dalam porsi yang tidak sepenting film pertama dan kedua. Pasti lebih menarik kalau memberikan orang yang satu ini porsi adegan dan peran yang lebih besar.

Walau tidak ada hal yang baru dan tidak juga menyuguhkan akting kelas satu, hal itu tidak terlalu masalah mengingat "Final Destination 5" berhasil kembali kepada hakikatnya sebagai sebuah film yang memvisualisasikan kematian yang bukan menjadi momen sambil lalu saja, tapi sebagai momen menegangkan disaat kematian akan menjemput salah satu tokoh dengan cara yang boleh dibilang kreatif dan penuh dengan unsur kebetulan yang lebih bisa diterima nalar.  
Final Destination 3
Kalau film Final Destination bersetting di pesawat, dan Final Destination 2 bersetting di jalan tol, maka Final Destination kali ini bersetting di Roller Coaster. Wahana yang seharusnya menjadi arena hiburan, menjadi sebaliknya. Wahana yang ia tumpangi bersama-sama temanya ini malah menjadi alat penjemput ajal. Wendy Christensen (Mary Elizabeth Winstead) mendapat banyak perasaan aneh bahkan sebelum ia masuk ke dalam wahana.

Dan ketika ia dan teman-temannya menumpangi roller coaster yang menjadi wahana utama kecelakaan mengerikan terjadi. Wendy menyaksikan teman-temannya terbunuh, sampai akhirnya ia sadar itu hanya ramalan. Wendy memperingati temannya dan berhasil menurunkan beberapa. Tapi alas, kematian kembali pada mereka untuk menghabisi dalam cara paling brutal dan sadis. Wendy harus mengakhiri semua ini dan menyelamatkan dirinya dan teman-temannya.

Review

Erin bertemu ajal
Final Destination 3 ialah sekuel dari akhir film Final Destination 2, film ini menceritakan tentang malaikat maut yang ingin menjemput nyawa, akan tetapi digagalkan oleh seseorang. Film ini bermula ketika Wendy dan teman-temannya pergi ke sebuah taman hiburan lokal untuk merayakan hari kelulusan mereka. Ketika sesampainya disana Wendy mendapatkan suatu "penglihatan" akan kematian, wahana Roller Coaster yang mereka tumpangi kecelakaan dan menewaskan mereka semua. Sayang, Wendy hanya mampu menurunkan beberapa orang dari wahana itu.

Dari awal mula seri Final Destination muncul saya sudah sangat tertarik. Dengan plot yang sangat berpotensi tentang "kematian", beda dari yang lain dan belum pernah ada sebelumnya. Sebelumnya saya mempunya pikiran jika sekuel film-film pasti lebih buruk ketimbang original, bodoh, sampah, cerita yang sama berulang lagi, dan sebagainya. Sebagai contoh bagus, seri Friday the 13th atau A Nightmare on Elm Street yang semakin downhill semenjak seri ke-4. Melihat orang-orang berteriak di roller coaster terbalik di DVD cover membuat saya merolling mata. Saya kira saya akan menonton kekecewaan, tapi saya salah! Final Destination 3, disutradarai oleh orang yang juga menyutradarai film Final Destination pertama, James Wong, terbukri sangat mengasyikkan.

Tapi sayang, James Wong nampak tidak seserius membuat film ini ketimbang film pertama, karena dalam sisi mana pun film pertama jauh lebih bagus dari pada yang ketiga. Dari pengembangan karakter yang minim dan cerita yang tipis. Saya tidak kecewa. Bisa dimaafkan karena sekuel memang biasanya seperti itu. Kalau film pertama mengandalkan atmosfir yang sangat creepy, FD3 lebih mengutamakan darah dan kekerasan yang berlebihan. Walau begitu, kita disuguhi adegan kematian yang sangat "menyenangkan" dan keren.

Salah satu favorit saya adalah ketika Ashley dan Ashlyn, terpanggang hidup-hidup di tanning bed, atau Erin yang kepalanya terpaku berkali-kali. Dalam aspek tertentu ada kelebihan dari Final Destination 3 ketimbang yang ke-2. Mary Elizabeth Winstead yang bahenol dan cantik luar biasa memaksimalkan perannya dan berakting dengan baik.


Sayang, yang buruk dari film ini adalah adegan kecelakaan utama di Roller Coaster itu sendiri, CGI (Computer Generated Imagery) dalam film ini seperti kurang memadai karena beberapa shot terlihat fake dan murah. Mengapa mereka tidak kembali pada efek buatan tangan biasa seperti dalam Final Destination dan Final Destination 2? Begitu pula dengan karekter yang terlalu stereotipikal; seperti remaja pria sepak bola, gadis perawan yang selamat, gadis berkelakuan PSK yang bodoh, orang hitam, dan sebagainya.

Untuk sinematografi, saya rasa beberapa shot terlihat indah dan keren, ambil contoh shot dari dua peti mati yang berdampingan. Untuk musik, awesome! Saya rasa yang menghubungkan seri Final Destination 3 dengan dua film sebelumnya--yang kini sudah tidak menjadi story, tapi franchise--adalah musiknya. Intro dengan gambar-gambar wahana yang dibalut musik tema dari ketiga film memang bagus.
Final Destination
Hasil gambar untuk final destination 1
Kalau mendengar kata Final Destination, pasti yang tergambar dalam pikiran kita adalah film bergenre thriller-horor yang bercerita tentang sekelompok orang yang akan menuju “tujuan akhir” hidupnya satu persatu. Siapa sih yang nggak kenal sama film laris Final Destination yang sukses di setiap serinya. Meski cerita dari satu seri dan seri lainnya nggak nyambung, tapi semua ceritanya hampir sama.

Seperti  layaknya tiga seri film Final Destination sebelumnya, cerita Final Destination 4 ini juga nggak jauh dari sekelompok remaja yang mencoba mengecoh kematian yang sedang mengintai mereka. Awal film dimulai sangat bagus dengan adegan menonton balap mobil yang akhirnya menuai petaka yang dilanjutkan dengan adegan kematian satu persatu orang yang berhasil lolos dari kecelakaan di arena balap mobil.

Dengan durasi 82 menit, film ini termasuk film yang pendek. Jalan ceritanya cenderung terburu–buru, sehingga tidak ada banyak waktu untuk mempelajari karakter–karakter dalam film. Tidak ada yang baru dari film ini, membuat penonton menjadi mudah untuk memprediksi adegan–adegan selanjutnya.

Bila dibandingkan dengan seri–seri sebelumnya, Final Destination 4 ini tidak ada apa–apanya, kecuali adanya versi 3D (3 dimensi) yang dapat dinikmati di layar lebar. Jadi kalau mau tahu cara yang lebih seru untuk menikmati film ini, tonton aja yang versi 3D-nya.