Tampilkan postingan dengan label Horror Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Horror Film. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Agustus 2016

Final Destination 5
"Death doesn't like to be cheated" yang dalam Bahasa Indonesia berarti "Kematian tidak suka dicurangi" adalah sebuah tagline yang sangat lekat dari franchise film "Final Destination" yang tahun ini sudah sampai pada seri kelima sejak pertama kali muncul pada tahun 2000. Sayangnya "kematian" bukan hanya tidak suka dicurangi oleh para korbannya di franchise film ini, tapi "kematian" justru suka mencurangi korban-korbannya. Hal itu sangat terasa di installemnt keempatnya dua tahun lalu dimana banyak sekali penyebab kematian yang ditampilkan terasa amat sangat dipaksakan. Selain itu, efek 3D yang untuk pertama kalinya digunakan di film keempat tersebut ternyata hasilnya biasa saja, bahkan banyak beberapa visualisasi yang terlihat terlalu murahan dan konyol. Apakah memang seri "Final Destination" sudah harus dihentikan atau film kelimanya ini bisa memperpanjang nafasnya?

Seperti biasa kisah akan bergulir pada serombongan anak muda yang tiba-tiba salah satu diantaranya mendapat visualisasi kematian yang akan menimpa dirinya dan rekan-rekannya. Kali ini yang mendapat penglihatan tersebut adalah Sam (Nicholas D'Agosto). Sam dan rekan-rekan kerjanya saat itu sedang berada didalam bus yang melintasi sebuah jembatan yang sedang dalam perbaikan disaat Sam mendapat visi mengenai sebuah bencana yang terjadi di jembatan tersebut dan pada akhirnya menewaskan mayoritas orang-orang didalam bus termasuk dirinya. Setelah sadar Sam langsung mencoba menyelamatkan dirinya dan Molly (Emma Bell) mantan pacarnya. Hingga akhirnya hanya ada 8 orang penumpang yang selamat dari kecelakaan maut tersebut. Tapi kematian masih belum berhenti mengintai dan siap menjemput mereka kapan saja.

Film ini dibuka dengan sebuah adegan runtuhnya jembatan yang merenggut banyak nyawa. Seperti biasa, adegan kecelakaan yang ditempatkan diawal film itu akan menjadi adegan paling megah dalam film "Final Destination". Pertanyaannya apakah adegan runtuhnya jembatan ini bisa seefektif adegan kecelakaan pesawat di film pertama atau sekosong dan sama membosankannya dengan adegan kecelakaan mobil balap di film keempat? Ternyata adegan kecelakaan di film kelima ini mampu ditampilkan dengan efek yang paling megah dibanding film-film sebelumnya. Balutan efek 3dimensi yang ada juga cukup efektif, gory dan terlihat jauh lebih bagus dibanding di film keempatnya. Keberhasilan dalam segi visual dalam adegan ini memang sangat penting mengingat mayoritas penonton yang sebelumnya sudah menyaksikan minimal salah satu prekuelnya pasti sudah tahu kalau adegan tersebut bukan kenyataan namun hanya penglihatan yang didapat oleh salah satu tokohnya. Overall adegan opening tersebut memang spektakuler dan sangat berhasil.

Tapi tidak hanya menampilkan visualisasi kematian yang cukup sadis dan efek 3dimensi yang memuaskan, "Final Destination 5" juga berhasil mengembalikan ketegangan yang muncul disaat salah satu karakternya tengah menatap kematian. Efek ketegangan tersebut hakikatnya adalah sajian utama yang penonton rasakan. Tapi akhir-akhir ini, "Final Destination" gagal menampilkan ketegangan, bahkan efek sadis dan gory juga gagal muncul. Untungnya film kelima ini berhasil mengembalikan sisi tersebut dimana saya cukup merasakan ketegangan khususnya pada adegan gym yang membuat saya menahan nafas walaupun saya sudah tahu akan ada adegan kematian disitu. Hingga saat adegan kematian itu datang saya tidak merasa adegan itu lewat begitu saja tapi meninggalkan sisi tragis yang membuat miris juga.

"Final Destination 5" bukanlah sebuah film horror tanpa celah. Kekurangan utamanya adalah tidak adanya hal baru dalam plot film ini. Saya sudah sangat hafal dengan rule tentang kematian yang selalu diulang-ulang tiap film. Saya juga tahu rule itu akan tidak terlalu berguna mengingat bagaimana nasib tokoh-tokohnya di ending sudah tertebak. Meskipun begitu, di film ini ada sedikit kejutan manis di ending (yang tidak semegah opening tapi tetap cukup bagus) bagi orang yang sudah menonton film pertama "Final Destination". Saya juga menyayangkan porsi tokoh yang dimainkan Tony "Candyman" Todd yang terasa hanya sambil lalu dan memperingatkan mengenai aturan kematian dalam porsi yang tidak sepenting film pertama dan kedua. Pasti lebih menarik kalau memberikan orang yang satu ini porsi adegan dan peran yang lebih besar.

Walau tidak ada hal yang baru dan tidak juga menyuguhkan akting kelas satu, hal itu tidak terlalu masalah mengingat "Final Destination 5" berhasil kembali kepada hakikatnya sebagai sebuah film yang memvisualisasikan kematian yang bukan menjadi momen sambil lalu saja, tapi sebagai momen menegangkan disaat kematian akan menjemput salah satu tokoh dengan cara yang boleh dibilang kreatif dan penuh dengan unsur kebetulan yang lebih bisa diterima nalar.  
Final Destination 3
Kalau film Final Destination bersetting di pesawat, dan Final Destination 2 bersetting di jalan tol, maka Final Destination kali ini bersetting di Roller Coaster. Wahana yang seharusnya menjadi arena hiburan, menjadi sebaliknya. Wahana yang ia tumpangi bersama-sama temanya ini malah menjadi alat penjemput ajal. Wendy Christensen (Mary Elizabeth Winstead) mendapat banyak perasaan aneh bahkan sebelum ia masuk ke dalam wahana.

Dan ketika ia dan teman-temannya menumpangi roller coaster yang menjadi wahana utama kecelakaan mengerikan terjadi. Wendy menyaksikan teman-temannya terbunuh, sampai akhirnya ia sadar itu hanya ramalan. Wendy memperingati temannya dan berhasil menurunkan beberapa. Tapi alas, kematian kembali pada mereka untuk menghabisi dalam cara paling brutal dan sadis. Wendy harus mengakhiri semua ini dan menyelamatkan dirinya dan teman-temannya.

Review

Erin bertemu ajal
Final Destination 3 ialah sekuel dari akhir film Final Destination 2, film ini menceritakan tentang malaikat maut yang ingin menjemput nyawa, akan tetapi digagalkan oleh seseorang. Film ini bermula ketika Wendy dan teman-temannya pergi ke sebuah taman hiburan lokal untuk merayakan hari kelulusan mereka. Ketika sesampainya disana Wendy mendapatkan suatu "penglihatan" akan kematian, wahana Roller Coaster yang mereka tumpangi kecelakaan dan menewaskan mereka semua. Sayang, Wendy hanya mampu menurunkan beberapa orang dari wahana itu.

Dari awal mula seri Final Destination muncul saya sudah sangat tertarik. Dengan plot yang sangat berpotensi tentang "kematian", beda dari yang lain dan belum pernah ada sebelumnya. Sebelumnya saya mempunya pikiran jika sekuel film-film pasti lebih buruk ketimbang original, bodoh, sampah, cerita yang sama berulang lagi, dan sebagainya. Sebagai contoh bagus, seri Friday the 13th atau A Nightmare on Elm Street yang semakin downhill semenjak seri ke-4. Melihat orang-orang berteriak di roller coaster terbalik di DVD cover membuat saya merolling mata. Saya kira saya akan menonton kekecewaan, tapi saya salah! Final Destination 3, disutradarai oleh orang yang juga menyutradarai film Final Destination pertama, James Wong, terbukri sangat mengasyikkan.

Tapi sayang, James Wong nampak tidak seserius membuat film ini ketimbang film pertama, karena dalam sisi mana pun film pertama jauh lebih bagus dari pada yang ketiga. Dari pengembangan karakter yang minim dan cerita yang tipis. Saya tidak kecewa. Bisa dimaafkan karena sekuel memang biasanya seperti itu. Kalau film pertama mengandalkan atmosfir yang sangat creepy, FD3 lebih mengutamakan darah dan kekerasan yang berlebihan. Walau begitu, kita disuguhi adegan kematian yang sangat "menyenangkan" dan keren.

Salah satu favorit saya adalah ketika Ashley dan Ashlyn, terpanggang hidup-hidup di tanning bed, atau Erin yang kepalanya terpaku berkali-kali. Dalam aspek tertentu ada kelebihan dari Final Destination 3 ketimbang yang ke-2. Mary Elizabeth Winstead yang bahenol dan cantik luar biasa memaksimalkan perannya dan berakting dengan baik.


Sayang, yang buruk dari film ini adalah adegan kecelakaan utama di Roller Coaster itu sendiri, CGI (Computer Generated Imagery) dalam film ini seperti kurang memadai karena beberapa shot terlihat fake dan murah. Mengapa mereka tidak kembali pada efek buatan tangan biasa seperti dalam Final Destination dan Final Destination 2? Begitu pula dengan karekter yang terlalu stereotipikal; seperti remaja pria sepak bola, gadis perawan yang selamat, gadis berkelakuan PSK yang bodoh, orang hitam, dan sebagainya.

Untuk sinematografi, saya rasa beberapa shot terlihat indah dan keren, ambil contoh shot dari dua peti mati yang berdampingan. Untuk musik, awesome! Saya rasa yang menghubungkan seri Final Destination 3 dengan dua film sebelumnya--yang kini sudah tidak menjadi story, tapi franchise--adalah musiknya. Intro dengan gambar-gambar wahana yang dibalut musik tema dari ketiga film memang bagus.
The Conjuring 2
Dirilis tahun 2013, The Conjuring arahan James Wan tumbuh jadi salah satu film horor Hollywood yang sukses besar di box office—total 137,4 juta dolar AS, bahkan sanggup menyaingi film-film blockbuster di tahun tersebut. Ketika belakangan genre horor di Hollywood lebih identik dengan biaya murah dan dibintangi pemain-pemain baru, atau berbiaya besar tapi flop di box office, The Conjuring mampu tampil sebagai film horor dengan nilai produksi yang pantas sekaligus sukses di pasaran.
Kisah The Conjuring pada dasarnya berkutat pada rumah berhantu. Namun, kisah ini juga punya sesuatu yang membuatnya bukan film hantu-hantuan semata. Kisah yang disusun oleh Chad Hayes dan Carey Hayes tersebut diangkat dari kisah nyata pasangan suami istri Lorraine dan Ed Warren, penyelidik paranormal di Amerika Serikat yang pada era 1970-an kerap dimintai tolong untuk mengatasi berbagai kasus gangguan supernatural.
The Conjuring 2 kembali menyorot salah satu kasus besar yang ditangani Lorraine (Vera Farmiga) dan Ed (Patrick Wilson). Usai menangani kasus rumah di Amityville—yang dalam kehidupan nyata menginspirasi franchise horor The Amityville Horror, Lorraine dan Ed jadi sering disorot oleh media massa, termasuk dihadapkan oleh pihak-pihak yang sangsi bahwa aktivitas paranormal yang mereka lakukan adalah sungguhan.
Di saat bersamaan, Lorraine yang dikaruniai indera keenam kerap mendapat penglihatan tentang kematian suaminya, juga sosok iblis berpakaian biarawati yang belakangan gencar mengusiknya. Lorraine menganggap itu adalah pertanda ia dan Ed harus berhenti menerima kasus lagi.
Sementara itu, di wilayah Enfield di kota London, Inggris, gangguan supernatural menimpa sebuah keluarga miskin Hodgson. Janet (Madison Wolfe), anak kedua dari empat bersaudara Hodgson, kerap diganggu oleh arwah misterius, mulai dari memindahkannya dari kamar terkunci ke ruang tamu, sampai membuatnya kerasukan. Berbagai peristiwa supernatural lainnya pun disaksikan oleh ketiga saudaranya dan sang ibu, Peggy (Frances O'Connor), sampai ke tetangga dan polisi, bahkan kasus ini jadi sorotan media lokal.
Akhirnya, seorang penyelidik paranormal Maurice Grosse (Simon McBurney) memutuskan untuk membantu keluarga ini, menghubungkan mereka dengan Lorraine dan Ed, yang bersedia memeriksa kasus ini walau awalnya enggan. Lorraine dan Ed mendatangi keluarga Hodgson, khususnya Janet yang seperti 'terpilih' untuk jadi alat sang arwah. Anehnya, terlepas dari berbagai kejadian supernatural yang terjadi di rumah itu, Lorraine dan Ed justru kesulitan untuk membuktikan bahwa arwah ini benar-benar ada, membuat mereka juga kebingungan bagaimana harus menolong keluarga malang ini.
Ekspektasi terhadap film horor belakangan ini adalah dari tingkat kengerian yang ditampilkan, sampai-sampai unsur cerita pun dikesampingkan. The Conjuring 2—sepertiThe Conjuring—beruntung memiliki dasar cerita yang menarik, yaitu keberadaan Lorraine dan Ed yang memang ada di dunia nyata. Para pembuat film ini pun tampak menangkap satu hal penting dari kedua tokoh ini yang kemudian dieksplorasi di layar. Bukan pada kemampuan paranormal mereka, melainkan hubungan mereka sebagai pasangan yang memang berbeda dari pasangan lain.
Dengan segala adegan seramnya, bila diperhatikan The Conjuring 2 melandaskan ceritanya pada kekhawatiran Lorraine kehilangan Ed, satu-satunya orang yang percaya dan mau mendukungnya, bahkan bersama-sama berjuang di bidang aktivitas paranormal. Film ini pun menambahkan beberapa adegan melankolis yang sanggup memberi warna berbeda, tanpa harus mengganggu mood keseluruhan film. Hubungan unik kedua karakter ini semakin diperkaya dengan permainan apik dari Farmiga dan Wilson.
Di sisi lain, film ini juga memberi porsi yang cukup besar untuk keluarga Hodgson sebagai korban dalam kasus ini. Mulai dari situasi keluarga yang sulit—Peggy harus mengurus keempat anaknya sendirian setelah bercerai, ditambah anak bungsu mereka yang bicaranya gagap, sampai keputusasaan mereka menghadapi gangguan yang makin menjadi-jadi di rumah mereka sendiri. Simpati pun mudah muncul bagi penonton karena gangguan yang dialami Hodgson bukan karena kebodohan mereka sendiri, melainkan korban pelampiasan si arwah. Toh, rumah mereka pun sebuah rumah biasa yang sedikit lapuk karena kesulitan penghuninya untuk mengurusnya, bukan yang terlalu dikondisikan seram.
Namun, The Conjuring 2 tetap setia pada hakikatnya sebagai sebuah film horor yang bertujuan menakuti penonton. Walau kisahnya, 'aturan' keberadaan arwahnya, hingga penyelesaiannya cenderung klasik, film ini masih memunculkan kengerian dalam berbagai metode. Mulai dari berbagai penampakan makhluk dengan tampang seram, jump scaresyang mengagetkan, atmosfer menggelisahkan, hingga komunikasi manusia dengan arwah yang mampu menimbulkan ketakutan psikologis. Semua unsur itu disajikan dengan piawai tanpa terkesan murah, didukung dengan tata adegan, artistik, gambar, dan ekspresi para pemain, dan dijamin dapat menggirangkan para penggemar horor.
Meski demikian, di situ pula terletak kelemahan film ini. Secara penuturan cerita, film ini mengambil waktu terlalu lama, bahkan sampai separuh durasi film, dalam memperkenalkan karakter-karakternya lewat berbagai adegan seram, sebelum masuk pada inti cerita penyelidikan Lorraine dan Ed terhadap misterinya. Adegan-adegan ini memang berpotensi sukses membuat penonton 'terhibur', tetapi membuat ceritanya jadi tersendat dan terasa terlalu dipanjang-panjangkan, sebelum akhirnya berjalan lebih lancar di paruh kedua.
Terlepas dari itu, The Conjuring 2 tetap berhasil menghadirkan sebuah film horor yang tak hanya sekadar menakut-nakuti, tetapi juga bercerita. Ada kengerian yang memberi efek maksimal, tetapi juga ada keheranan dan kehangatan, dan diterjemahkan dengan baik dan rapi dalam adegan-adegannya. Ketika tak banyak film horor yang menyajikan semua itu dalam satu tontonan, The Conjuring 2 justru mampu menunjukkannya dalam ramuan yang relatif memuaskan. 
Insidious 3
Film Insidious 3 dibuka dengan kedatangan Quin Brenner, seorang remaja cantik yang mengaku berusaha menghubungi mendiang ibunya ke rumah Elise Rainer. Elise Rainer adalah cenayang yang sama di film Insidious 1 & 2 yang review lengkapnya telah saya tulis sebelumnya. Setting film ini adalah 1 tahun sebelum kejadian yang menimpa keluarga Lambert di 2 film sebelumnya. Elise menegaskan agar Quin jangan pernah menghubungi orang mati karena akan ada hantu parasit yang ikut menempel dan menginginkan jiwanya.

Quin kembali ke kehidupan normalnya bersama Sean (ayah) dan Alex (adik). Ia ingin keluar dari rumah dengan mengambil audisi sekolah teater. Sayang usahanya gagal. Ia malah ditabrak mobil karena berdiri terlalu lama di tengah jalan. Quin mengalami patah kaki dan harus istirahat total. Ketika di kondisi itulah serangan makhluk astral parasit (insidious) yang mengincar jiwanya semakin nyata dan berusaha membunuhnya. Sean  juga menyadari kehadiran makhluk astral yang mengancam jiwa putrinya. Ia pun meminta bantuan pada Elise namun lagi-lagi Elise menolak membantu karena takut dengan ancaman pengantin hitam (bride in black).
sinopsis lengkap Insidious 3
Elise Rainer



Pada saat ini Elise masih berduka. Jack, suaminya meninggal karena bunuh diri setahun yang lalu. Pasca meninggalnya Jack, Elise mencoba menghubungi suaminya namun sesosok hantu mengerikan ikut menyusup keluar. Hantu yang dikemudian hari kita kenal sebagai pengantin bergaun hitam itu berkali-kali mengganggu Elise dan mengatakan ia akan mati ditangannya. Kedatangan Quin membuat Elise kembali menyecap dunia cenayang, namun ia belum siap.

Dengan support Carl, teman cenayang yang memakai dadu di film kedua, Elise sadar bahwa kemampuannya sangat dibutuhkan orang-orang sekitar. Maka ia pun membantu Quin yang ternyata sudah babak belur diganggu hantu yang menjadi parasitnya. Hantu Quin berbentuk laki-laki yang memakai alat bantu nafas (man can't breathe) dan bermaksud membawa jiwa Quin ke dunia gelapnya sebagai peliharaannya. Separuh jiwa Quin telah ditawan hantu ini ketika Elise, Spec & Tucker (2 kru TV) membantu. Mereka semua berusaha membantu mengambil alih setengah jiwa Quin dari tawanan hantu yang menjadi parasitnya. Dengan keyakinan bahwa jiwa yang masih hidup lebih kuat daripada jiwa yang telah mati, Elise menjadi sosok penyelamat. Pada akhirnya, harus Quin sendiri yang membunuh insidious, hantu parasit yang bersembunyi dan mencelakakannya.

sinopsis lengkap Insidious 3
Quin Brenner - remaja cantik yang menghubungi ibunya

Saya kurang antusias ketika menyambut film Insidious 3. Mungkin karena saya kecewa dengan paranormal activity 3-5 yang sudah saya buat sinopsis lengkapnya. Juga film The Conjuring 3 yang memakai judul Annabelle dan sudah ada sinopsisnya di sini. Pasti memaksa dan kurang serem. Entahlah. Tapi yang jelas, seperti itulah biasanya. Film yang sukses besar lalu dibuat franchise malah semakin mengada-ada karena membesarkan 1 spot yang kurang pas. Bahkan meskipun film ini diproduseri oleh James Wan yang kondang membuat pecinta horor Amerika terlonjak ketakutan dari kursi. Saya bahkan tak yakin kalo film ini ditunggui ketika proses pembuatannya. Masa sih hanya begini? Melihat waktu pembuatannya. James Wan pasti sibuk dengan Furious 7. 
Sinopsis lengkap Insidious 3
Elise & hantu yang ditakutinya di film

Seperti saya katakan tadi, film Insidious 3 ini kurang seru, kurang menakutkan dan mudah ditebak.Tokoh-tokoh cenayang & hantu di film pertama diikutsertakan sebagai penghubung cerita. Yang baru hanya tokoh hantu Lilith Brenner di akhir dan hantu bermasker. Hantu laki-laki yang tak bisa bernafas tanpa bantuan masker ini adalah hantu terseram di apartemen keluarga Brenner. Semacam pemimpin sehingga sangat ditakuti oleh hantu lain.

Lepas dari anehnya sosok hantu utama kita, saya sepakat dengan satu hal di film ini. Bahwa setiap tempat memiliki sosok yang menggambarkan penghuni yang telah meninggal. Kalau di Islam menyebutnya dengan nama qorin. Tak semua orang bisa melihat qorin, tentu saja. Tetapi mereka ada. Bedanya sih, kalau versi film ini (atau film hantu Amerika lain), hantu yang ada di rumah atau lokasi-lokasi tertentu adalah hantu orang yang meninggal namun gagal move on ke dunia selanjutnya (The Further). Jadi mereka terperangkap di sini. Lepas dari benar tidaknya sih, saya sendiri enggan berbantah ketika ada teman yang menceritakan hantu yang belum sempurna kematiannya karena bisa jadi benar. Mengapa saya enggan? Karena pengetahuan mengenai dunia lain ini memang sangat classified dan sengaja di simpan Sang Pencipta segala makhluk agar kita tetap beriman pada-Nya.

Dari segi setting cerita, sebenarnya saya agak bingung. Jika dihitung-hitung dari keterangan di film Insidious 2 yang terjadi pada tahun 2011 (1986 + 25 tahun), maka jika film ini terjadi 1 tahun sebelumnya, berarti setting film Insidious 3 adalah di tahun 2010. Namun saya tak banyak melihatnya di setting. Film agak dibuat kuno namun modern. Rumah dan perabot yang vintage, wajah dan mode baju yang tidak menunjukkan kurun waktu. Entahlah. Sepanjang film saya membayangkan film ini settingnya sama tuanya dengan setting film The Conjuring namun laptop yang dipakai sudah terbaru. Maka old & new sangat kontras di sini. Akhirnya, dengan membaca posting lama saya bisa menyimpulkan, setting film berada di tahun 2010.

Ah ya... saya hampir lupa. Film ini juga memberi keterangan bahwa Spec dan Tucker, 2 pemuda high tech yang menangkap keberadaan hantu dengan teknologi baru kali itu bertemu dengan Elise Rainer. Sebelumnya mereka hanya 2 pemuda yang terlalu banyak membual di youtube. Setelah pertemuan tersebut mereka baru benar-benar tahu bahwa hantu bisa ditangkap oleh teknologi. Mereka pun bekerja sama menangkap hantu dan ikut di saat keluarga Lambert tertimpa masalah dengan hantu pengantin hitam.
Final Destination
Hasil gambar untuk review final destination indo
Kalau mendengar kata Final Destination, pasti yang tergambar dalam pikiran kita adalah film bergenre thriller-horor yang bercerita tentang sekelompok orang yang akan menuju “tujuan akhir” hidupnya satu persatu. Siapa sih yang nggak kenal sama film laris Final Destination yang sukses di setiap serinya. Meski cerita dari satu seri dan seri lainnya nggak nyambung, tapi semua ceritanya hampir sama.

Seperti  layaknya tiga seri film Final Destination sebelumnya, cerita Final Destination 4 ini juga nggak jauh dari sekelompok remaja yang mencoba mengecoh kematian yang sedang mengintai mereka. Awal film dimulai sangat bagus dengan adegan menonton balap mobil yang akhirnya menuai petaka yang dilanjutkan dengan adegan kematian satu persatu orang yang berhasil lolos dari kecelakaan di arena balap mobil.

Dengan durasi 82 menit, film ini termasuk film yang pendek. Jalan ceritanya cenderung terburu–buru, sehingga tidak ada banyak waktu untuk mempelajari karakter–karakter dalam film. Tidak ada yang baru dari film ini, membuat penonton menjadi mudah untuk memprediksi adegan–adegan selanjutnya.

Bila dibandingkan dengan seri–seri sebelumnya, Final Destination 4 ini tidak ada apa–apanya, kecuali adanya versi 3D (3 dimensi) yang dapat dinikmati di layar lebar. Jadi kalau mau tahu cara yang lebih seru untuk menikmati film ini, tonton aja yang versi 3D-nya.