Tampilkan postingan dengan label Sci-fi Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sci-fi Film. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Agustus 2016

The Hunger Games:Mockingjay part 2
Diangkat dari trilogi novel karya Suzanne Collins, seri film The Hunger Games menjadi salah satu sensasi beberapa tahun belakangan. Tiga film sudah dirilis, yakni The Hunger Games (2012), The Hunger Games: Catching Fire (2013), dan The Hunger Games: Mockingjay Part 1 (2014), seri ini sukses mengumpulkan miliaran dolar AS di box office dunia, sekaligus meroketkan Jennifer Lawrence sebagai bintang Hollywood bersinar. Tahun 2015, The Hunger Games: Mockingjay Part 2 dirilis untuk menuntaskan kisah berlatar dystopian future ini.


Menengok cerita sebelumnya, seri ini kisahkan sebuah negara di masa depan bernama Panem, yang dipimpin secara totaliter oleh Presiden Snow (Donald Sutherland). Untuk memperkokoh kuasanya sekaligus meredam pemberontakan, pemerintah merancang sebuah permainan maut tahunan bernama The Hunger Games, yang mengadu kekuatan dan keterampilan para remaja dari setiap distrik negara, sampai tersisa satu orang juara yang masih hidup sebagai juaranya. Pertandingan berbentuk survival game ini disiarkan ke penjuru negeri layaknya reality show, membuat pemenangnya akan jadi selebriti, lalu dijadikan alat propaganda negara agar rakyat tetap tunduk.



Kisah Mockingjay berkutat pada juara The Hunger Games dari distrik 12, Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence) yang diajak bergabung oleh gerakan pemberontak distrik 13 pimpinan Presiden Alma Coin (Julianne Moore), untuk menggulingkan pemerintahan Snow di ibukota Capitol. Ini merupakan kelanjutan dari keberanian Katniss untuk melawan pemerintah saat memenangkan The Hunger Games, yang menjadikannya simbol perlawanan rakyat. Kala itu, aturan permainan terpaksa dilanggar dengan adanya dua orang pemenang, yaitu Katniss dan rekannya dari distrik 12—yang juga mencintainya—Peeta Mellark (Josh Hutcherson), karena Katniss mengancam akan mati bersama Peeta daripada membunuhnya. 



Dalam film Mockingjay Part 1, Katniss telah ditunjuk sebagai duta perlawanan dengan menggunakan popularitasnya. Ia ditugaskan melakukan kunjungan ke berbagai distrik demi menggalang dukungan, termasuk membintangi berbagai tayangan propaganda buatan distrik 13. Part 1 pun terhenti ketika distrik 13 berhasil membebaskan Peeta dari sekapan Snow di Capitol, namun Peeta ternyata sudah dicuci otak untuk membenci dan membunuh Katniss.

Dari sana, Mockingjay Part 2 langsung memulai tuturannya ketika distrik 13 hanya beberapa langkah lagi untuk menyerang Capitol. Tekanan ini membuat Presiden Snow menitahkan berbagai perangkap yang biasa dipakai untuk The Hunger Games dipasang di seluruh penjuru Capitol, demi menghalangi pasukan pemberontak. Katniss sendiri dilarang oleh Presiden Coin untuk terjun ke lapangan, karena ia dibutuhkan untuk tetap hidup sebagai simbol. Namun, Katniss tak bisa tinggal diam, karena ia sudah bertekad untuk memusnahkan Snow yang jadi sumber penderitaan terhadap diri dan keluarganya seumur hidup mereka.

PERTAHANKAN KOMPLEKSITAS TEMA


Seri The Hunger Games memang punya daya magis sendiri. Novel aslinya ditujukan untuk pembaca muda, menggabungkan unsur fantasi, fiksi ilmiah, action, thriller, dan tentu saja kisah cinta antara muda-mudi. Tetapi, film ini juga menyimpan kompleksitas dengan dimasukkannya tema politik dan sosial dalam bentuk metafora dan satir. Semua unsur tersebut dengan baik diterjemahkan dalam bentuk film layar lebar pertama kali oleh Gary Ross di film The Hunger Games pertama, yang ternyata juga sukses besar di box office, sekalipun skala produksinya terbilang sederhana bila dibandingkan film-film blockbuster Hollywood lain. Seri ini pun diteruskan dengan layak dalam sekuel-sekuelnya yang digarapFrancis Lawrence.



Dari film-film yang ada, seri The Hunger Games memang lebih dari sekadar adegan-adegan akbar khas Hollywood yang membelalak mata. Ada dua hal yang sebenarnya menjadi titik kekuatan seri ini. Pertama, karakterisasi Katniss yang dimainkan tanpa cela oleh Jennifer Lawrence, yang berhasil menjadi panutan baru, baik bagi rakyat Panem maupun penonton, sehingga perjalanannya terus dinanti. Dan yang kedua, film ini masih bisa menampilkan lapisan tema sosial dan politik yang kuat dan mengena. Unsur itu pula yang membuat segala keputusan dan tindakan para tokohnya lebih kompleks daripada soal kebaikan melawan kejahatan.



Ini semakin terbukti di Mockingjay Part 2, ketika semakin samar siapa yang benar dan yang salah. Sebelumnya, status selebriti Katniss dan Peeta sebagai juara Hunger Gamesmmebuat mereka jadi alat propaganda pemerintahan Snow. Kini, Katniss jadi alat propaganda kepentingan distrik 13, sementara Peeta digunakan oleh Snow untuk propaganda tandingan. Keduanya terjebak dalam permainan politik dua pihak, yang menggunakan media sebagai medan perang untuk memengaruhi rakyat. Dalam situasi demikian, dua film Mockingjay berfokus pada upaya Katniss untuk akhirnya bisa benar-benar memegang kendali atas hidupnya sendiri, terlebih saat dirinya sudah telanjur jadi "milik publik".



Harus diakui bahwa skala cerita Mockingjay memang yang terbesar dari dua judul sebelumnya, melibatkan banyak karakter dan adegan-adegan yang juga lebih besar. Namun, menariknya film ini tetap digarap dengan tetap berpegang pada sudut pandang Katniss. Dengan cakupan cerita yang semakin luas, film ini tetap setia pada tujuan utama Katniss sejak awal seri ini, yaitu melindungi keluarga dan orang-orang yang dicintainya, yang menurutnya hanya bisa terwujud jika Snow tewas.


Karena itu pula, adegan-adegan peperangan dan yang ditunjukkan pun hanya dari sisi Katniss yang ada di garis belakang. Dampaknya, film ini jadi terkesan lebih sunyi dari yang diekspektasi terhadap sebuah "kisah penutup", dan berpotensi menimbulkan kejenuhan. Mungkin ini juga dipengaruhi bahwa kisah ini dipecah jadi dua film, sehingga terasa banyak detail yang dipanjang-panjangkan, khususnya ketika Katniss ikut pasukan menyusup ke Capitol.


Akan tetapi, cara itu juga memunculkan kelebihan di tempat lain. Ketika Katniss berada dalam sebuah peristiwa yang besar dan ramai, kamera tetap menyorot Katniss dan apa yang dilihat dari sudut pandangnya, sehingga intensitas situasinya lebih terasa nyata. Cukup menyimpang dari film-film blockbuster Hollywood yang biasanya tak kuasa ingin memamerkan besarnya skala produksi mereka secara panorama, film ini memilih jalan berbeda. Sebab, sejak awal tujuan kisah ini bukanlah adegan perang besar-besaran, tetapi kembali lagi pada kisah Katniss dan perjuangannya dalam membuat perubahan, yang dalam film ini dituturkan dengan lancar.



Mockingjay Part 2 pun pada akhirnya menjadi sebuah penutup yang cukup pantas bagi seri The Hunger Games. Mungkin kemasannya dan penyajiannya sebagai tontonan hiburan kurang sempurna, terutama dari laju cerita yang cenderung lambat di paruh awal, dan kenyataan bahwa harus menunggu sampai dua film berdurasi masing-masing dua jam untuk mencapai akhirannya. Namun, film ini berhasil menutup rangkaian kisah Katniss secara utuh. Bahkan, lapisan-lapisan tema yang membuat seri film The Hunger Gamespunya daya tarik lebih, juga ciri khasnya memunculkan kelegaan dan kegetiran di saat bersamaan, sanggup dipertahankan hingga akhir.


Jurrassic World

Memakai setting waktu 20 tahun setelah kekacauan pertama kali terjadi diJurassic Park, taman ini akhirnya dibuka kembali dengan manajemen kepemilikan yang baru. Dengan skala yang lebih besar, taman ini diberi nama Jurassic World. Sebagai sebuah taman pertunjukan yang menggunakan hewan sebagai daya tarik, taman ini diwajibkan untuk membuat skenario pertunjukan yang tak selalu sama. Tetapi dengan sumber daya hewan purbakala, hal ini tidak mudah dilakukan. Hewan yang ada di Jurassic World lama kelamaan membuat pengunjung bosan.
Masalah inilah yang mengawali ide pembiakan dinosaurus hybrid bertama kali hingga dihasilkan dinosaurus baru yang lebih besar dari Tyranosaurus Rex, lebih cerdas dari Velociraptor, dinosaurus ini diberi nama Indominus Rex.
Tak seperti film-film sebelumnya, di film Jurassic World ini lebih ditekankan jika ini taman yang sudah dikunjungi banyak orang, layaknya kebun binatang, tur safari yang ada pun tak seperti dulu, lebih modern, ada yang menggunakan perjalanan darat dan air. Ada juga taman air yang memamerkan makhluk air purbakala yang bahkan lebih besar dari ikan paus.
Selain tampilan yang jauh lebih modern dari film-film yang sebelumnya, inti cerita dariJurassic World secara umum masih sama dengan film pendahulunya. Barang siapa bermacam-macam dengan alam, akan menerima akibatnya. Tindakan para ilmuwanJurassic World dengan mengembangbiakan secara hybrid jenis dinosaurus baru membuat taman yang sebelumnya aman dan menyenangkan menjadi taman berdarah di mana manusia menjadi komponen paling bawah dalam rantai makanan.
Warcraft
Review Film Warcraft: The Beginning
Apakah Warcraft: The Beginning menjadi film based on game yang lepas dari kutukan? Sejak dahulu jika ada film yang based on video game, pertanyaan inilah yang selalu terngiang di benak fans game-nya. Apalagi tahun ini jumlah film adaptasi dari gameyang tayang tergolong banyak. Kita sudah bisa menyaksikan Ratchet and ClankThe Angry Birds dan yang terbaru adalahWarcraft: The Beginning. Lalu masih ada Asssassin’s Creed yang baru akan tayang di Desember 2016.
Jadi bagaimana dengan film arahan Duncan Jones ini yang diadaptasi dari game MMORPG (Massively Multiplayer Online Role Playing Game) yang sangat populer, Warcraft? Bagi yang menyaksikannya, maka film pertama yang digadang akan menjadi sebuah trilogy ini tak terlalu jauh berbeda dengan franchise Lords of the Rings. Bukan dari segi ceritanya, namun nuansa abad pertengahannya. Di mana terdapat sebuah dunia yang dihuni oleh berbagai macam ras seperti manusia, Elf, Dwarf, Orc dan yang lain nya.
Kisahnya sederhana, yaitu mengenai bangsa Orc yang dunianya diambang kehancuran kemudian menggunakan sebuah portal sihir untuk masuk ke sebuah negeri bernama Azeroth, sebuah negeri yang wilayahnya damai dan makmur. Untuk mempertahankan wilayah mereka, kaum manusia yang dipimpin oleh Anduin Lothar (Travis Fimmel) bersama penyihir muda Khadgar (Ben Schnetzer) harus mempertahankan dengan segala daya upaya, agar kerajaan Stormwind dapat bertahan dari serbuan para Orc yang pimpinan Gul’Dan (Daniel Wu).
Ya, ceritanya hanya itu saja, sederhana dan tidak terlalu jauh dengan film-film bertemakan medieval fantasy yang pernah ada sebelumnya. Secara visual effect, Efek khusus di Warcraft cukup memuaskan. Gak kalah dengan film-film seperti The Hobbit trilogyLOTR. Apalagi karena memang di visual effects diproduksi dan dikerjakan oleh WETA Digital yang menjadi jaminan kualitasnya.
Apakah ini adalah sebuah adaptasi yang tepat? Masih banyak kekurangan disana-sini memang, Terutama elemen fun yang ada di dalam gamenya jadi hilang. Di versi layar lebar, ceritanya jadi serius, sementara di gamenya walau memang ada keseriusan tapi tetap terasa unsur humor yang membuat Game nya menjadi menyenangkan.
Secara keseluruhan, Warcraft: The Beginning menyajikan sebuah kisah fantasy yang apik dan lumayan menghibur. Walaupun bukan adaptasi yang para gamer harapkan, tapi masih sedikit menghibur dari sudut pandang masyarakat awam. Tapi dari sudut pandang gamer yang telah bertahun-tahun atau bahkan masih memainkan gamenya hingga saat ini, sepertinya akan terbelah dua menjadi dua kelompok.
Bisa jadi ada golongan yang sangat kecewa sementara golongan yang masih bisa menikmati Warcraft: The Beginning dengan segala kekurangannya. Kurang lebih seperti film Batman v Superman: Dawn of Justice. Ada yang tidak menyukai karena terlalu “dark” dan sama sekali tanpa keceriaan. Tapi ada juga yang menyukainya karena memang sesuai dengan alur cerita yang disajikan.
Dawn of The Planet of The Apes

"Apes do not want war!"

Dawn of the Planet of the Apes menjadi bukti terbaru bagaimana sebuah film dengan status blockbuster yang hadir di periode summertime tetap mampu atau dapat memberikan hiburan yang menyenangkan tanpa harus secara total mengesampingkan substance demi style, tanpa perlu mengorbankan dirinya untuk tampil kelewat “bodoh” agar dapat menyenangkan penontonnya.  Tidak perlu penjelasan panjang lebar di paragraf pembuka ini, it’s surely this year one of the best so far. Welcome to “modern” blockbuster era btw. Dawn of the Planet of the Apes, a very good humanity message from simple friction between humans and speaking monkeys. Engaging.

Virus yang dicanangkan oleh boss Will (James Franco) itu ternyata benar-benar terwujud, peradaban manusia kemudian rusak akibat virus ALZ-113 yang juga membawa dampak buruk yang jauh lebih besar. Kini kekuasaan manusia mulai digantikan oleh para Apes yang di kota San Fransisco dibawah komando simpanse karismatik, Caesar (Andy Serkis), telah memperkuat habitat dan juga wilayah kekuasaan mereka di Muir Woods, lokasi yang celakanya juga menjadi tempat dimana bendungan yang dapat menjadi sumber daya bagi jaringan listrik seluruh kota berada. 

Hal tersebut yang menjadi kendala bagi Malcolm (Jason Clarke), yang bersama Ellie (Keri Russell), Alexander (Kodi Smit-McPhee) serta beberapa rekan lainnya ditugaskan oleh pria bernama Dreyfus (Gary Oldman) untuk masuk kedalam hutan dan kemudian mengaktifkan kembali bendungan tersebut. Caesar, Koba (Toby Kebbell), dan beberapa sosok penting kawanan Apes lainnya pada dasarnya juga ingin menjaga perdamaian, namun sayangnya hadirnya faksi lain dengan tujuan yang berbeda membawa cobaan bagi komitmen terhadap perdamaian yang mereka ciptakan sebelumnya itu

Dawn of the Planet of the Apes adalah film bunglon, ia punya berbagai warna cerita yang berhasil ditampikan dengan baik dan seimbang di dalam satu kemasan, dan kombinasi diantara mereka terasa variatif serta menyegarkan. Ini pada dasarnya masih merupakan sebuah film tentang perang dimana cerita yang ditulis olehMark Bomback, Rick Jaffa, dan Amanda Silver tetap mengacu pada tujuan utama karakter untuk menyelamatkan dunia, tapi yang menarik adalah ia tidak serta merta dengan frontal menunjukkan misinya tersebut dengan berbagai ledakan dan aksi heroik yang menyesakkan layar. Matt Reeves menjadikan film ini lebih kepada permainan perasaan bagi para penontonnya, bercerita tentang kehancuran tanpa harus menghancurkan sejenak kerja otak dari para penontonnya.

Ini yang terasa berani karena dengan budget yang terhitung besar sejak awal hingga menjelang showdown di bagian akhir yang kelak akan terasa seperti sebuah grandprize itu kesan sederhana tidak pernah lepas dariDawn of the Planet of the Apes. Tanpa rasa takut penonton lebih sering di buat untuk menunggu disini tapi dalam situasi yang positif, tidak membawa mereka kedalam petualangan yang bergerak cepat dengan oktan tinggi, secara perlahan dan tidak terburu-buru membangun kembali karakter disertai masalah yang mereka punya (karakter manusia berkembang dengan baik disini), memberikan kedalaman di dua bagian tadi sehingga ketika ia mulai masuk kedalam bagian yang bertugas untuk mengeksploitasi adrenalin para penonton akan memperoleh keseimbangan yang menyenangkan. 


Dawn of the Planet of the Apes ternyata ikut menerapkan apa yang pada tahun ini sedang marak dilakukan oleh film-film blockbuster, menyandingkan style dan substance dengan manis. Tetap ada elemen otot tapi juga ada otak yang bermain disini, pesan terkait coexist itu tidak hanya digambarkan dengan hadirnya masalah, kehancuran disana-sini, dan kemenangan, tapi telah di set untuk dibangun agar dapat menyerap kedalam emosi dan empati penontonnya, hal yang pada akhirnya turut menjadikan pesan miliknya semakin kuat. Anda bahkan akan dibuat bingung, siapa yang harus didukung karena tercipta hubungan yang menarik serta kepedulian yang sama besar pada dua sisi perjuangan yang secara cerdas di perlakukan dengan sangat bijaksana oleh Matt Reeves itu.

Tapi tenang, Dawn of the Planet of the Apes tidak serumit yang anda bayangkan setelah membaca bagian di atas tadi. Memang tidak ada ledakan penuh kesibukan skala super besar, cenderung tenang malah, tapi penonton tetap akan memperoleh pengalaman sinematik yang mengesankan disini, sebuah seni CGI yang sangat rinci sehingga menjadikan karakter terasa sangat nyata. Ya, sangat nyata, bahkan ini juga berpotensi sedikit mengganggu mereka yang terlibat terlalu dalam dan intim pada cerita, karakter yang believeable serta relationship yang kuat dibalik teknik bercerita yang terkesan sederhana itu menyebabkan masalah yang bertumpu pada persoalan moral tadi tidak pernah berhenti memanfaatkan script kuat yang menopangnya untuk terus bermain-main di layar dan juga pikiran penonton.


Apakah tidak ada nilai minus? Ada, Dawn of the Planet of the Apes adalah film segmented. Tidak ekstrim, tapi mereka yang tidak suka dengan film yang menuntut kesabaran dan investasi sambil menantikan datangnya babak akhir, ini akan terasa membosankan. Apalagi dinamika yang ia punya juga bukan tipe rollercoaster, lebih kepada tight dalam level stabil sejak awal hingga akhir, berpotensi menjemukan meskipun tetap ditemani dengan visual menarik, berisikan realisme pada kebencian, konfrontasi, ketakutan, ketegangan, kegembiraan, hingga drama yang manis, intim namun tetap intens dengan keseimbangan yang pas pada bagian besar dan bagian kecil cerita yang oleh Matt Reeves terus dijaga untuk tidak melewati batas sehingga tidak menimbulkan kesan yang berlebihan.

Dua jempol tentu layak diberikan pada kinerja tim visual efek, tapi tanpa kinerja yang baik dari Andy Serkisserta pemeran Apes lainnya, Dawn of the Planet of the Apes mungkin tidak akan sekuat ini. Para Apes yang memegang kendali utama di film ini berhasil menyajikan sebuah kehidupan dan gejolak yang charming dan manis, menjadikan karakter mereka berdiri sejajar dengan karakter manusia. Apakah akting pada motion capture dapat berpartisipasi di Oscar? Dan disisi lainnya film ini juga berhasil memperbaiki hal minus pada karakter manusia yang dimiliki oleh Rise of the Planet of the Apes, berkembang tapi dalam kadar yang pas dimana Gary Oldman menjadi scene stealer.



Overall, Dawn of the Planet of the Apes adalah film yang memuaskan. Dimulai dan diakhiri dengan sepasang mata yang konstan menatap tajam kearah penontonnya, Dawn of the Planet of the Apes bukan hanya berhasil menjalankan tugasnya sebagai film blockbuster dengan sajian visual yang memuaskan tapi disisi lain ia juga mampu bercerita dengan sama baiknya.
Inception
Hasil gambar untuk inception
Inception layak dikatakan sebagai salah satu film terbaik di tahun 2010 dan bisa dipastikan merupakan masterpiece dari kejeniusan Christopher Nolan. Setelah sebelumnya dia berhasil menjadikan Batman Begin dan The Dark Knight sebagi Box Office, dia kembali sukses menjadikan segala dalam film merupakan yang terbaik, pemainnya, karakter, akting, plot, teknik audio visual dan ide yang ditawarkan, sangat menyegarkan dan mengagumkan.

Tema yang digunakan sangat sederhana, MIMPI. Sesuatu yang bisa dipastikan setiap orang pernah mengalaminya. Ketika sebuah teknologi ditemukan, dimana mimpi dapat dibagi dan digunakan untuk memanipulasi pikiran seseorang mengenai apa yang nyata dan tidak nyata. Serta mimpi digunakan sebagai tempat untuk mengambil rahasia terdalam seseorang, sekali lagi manusia disadarkan bahwa otaknya – yang sampai saat ini masih dianggap sebagai misteri terbesar di dunia – merupakan sesuatu yang sangat luar biasa.

Don Cobb, yang diperankan oleh Leonardo Dicaprio, yang dikenal lewat film Titanic, The Beach,Blood Diamond dan masih banyak lagi, adalah orang yang sangat ahli mengenai cara kerja mimpi dan untuk menyelesaikan pekerjaan paling sulit dan beresiko yang pernah diembankan kepadanya. Dia mengatur apa dan siapa saja yang dibutuhkan, seorang perancang karakter dan plot (Eames), pengatur waktu dan periset sasaran (Arthur), arsitek yang membangun detail dunia mimpi (Ariadne) dan ahli yang memformulasikan formula pengatur kedalaman tidur (Yusuf). Semua bekerja sama dalam sebuah misi bernama INCEPTION. Namun, hanya Cobb yang tahu resiko apa yang menunggu mereka “di bawah sana”.

Sebagai sebuah film aksi sci-fi, ketimbang kebanyakan film aksi sci-fi lainnya, Inception menawarkan ide yang cukup sederhana dan mudah diikuti oleh penontonnya. Film tidak berbelit-belit atau membuat kening Anda berkerut dari awal sampai akhir. Walaupun memang diperlukan pemikiran yang lebih mendalam dan konsentrasi tinggi saat Anda menontonnya, namun fungsi film sebagai sarana menghibur penonton tidak dilepaskan begitu saja oleh film ini. Adegan dan komentar yang lucu terselip di sana-sini tanpa terlihat dipaksakan sebagaimana biasanya terlihat dalam fim-film aksi Hollywood.
Karakter dan hubungan yang dibangun diantara mereka pun sangat menarik, misalnya  saja Eames dan Arthur yang berinteraksi seperti anjing dan kucing namun bisa dilihat bahwa mereka mengagumi bakat dan cara kerja satu sama lain. Belum lagi mata dan telinga Anda akan dimanjakan oleh efek audio visual yang luar biasa.

Berbagai konsep dalam film ini disampaikan dalam bentuk tanya jawab yang membuat penonton jadi lebih mudah paham. Misalkan mengenai konsep waktu, dimana dikatakan waktu dalam mimpi berjalan lebih lambat dari dunia nyata. Kita tidur berjam-jam dan hanya memiliki mimpi yang singkat serta bahwa kita tidak pernah benar-benar ingat bagaimana mimpi dimulai. “Bagaimana kau bisa sampai di sini?” tanya Cobb, dan itu menjadi pertanyaan bagi setiap penonton. Benar sekali, kita tidak pernah ingat bagaimana mimpi dimulai dan menganggap semuanya hal yang wajar.
Film ini menanamkan idenya pada penonton mengenai konsep waktu, kick(tendangan), paradokslimbototem, inspirasi, proyeksi, penciptaan dan lain sebagainya dengan cara sederhana dan dapat dimengerti. Juga terdapat pertanyaan yang bersifat filosofis, “Apa itu realita? Apa saja ukuran dari realita dan bagaimana kita yakin bahwa kita sedang berada dan menjadi bagian dari suatu realita?”. Pertanyaan ini bisa membuat Anda merenung panjang, tanpa mendapatkan jawaban apapun 


Secara keseluruhan, film ini sempurna. Efek khusus yang mengesankan, plot menarik dengan suguhan aksi, humor dan drama yang diformulasikan dengan sempurna, serta tema yang jelas dan karakter yang kuat dan sama penting antara satu dan lainnya, merupakan keunggulan film ini. Mungkin ada beberapa hal yang akan terlewatkan jika Anda hanya sekali menontonnya, dan perlu beberapa kali sampai Anda memahami keseluruhan filmnya. Namun Anda tidak perlu khawatir, karena semakin sering Anda menontonnya, semakin menarik film ini jadinya.