Tampilkan postingan dengan label Comedy Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Comedy Film. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 September 2016

KungFu Panda 3
 

"If you only do what you can do, you'll never be better than what you are."

Rentang waktu lima tahun memang tidak singkat, namun tidak seperti Sherk yang perlahan mulai kehilangan pesona di sekuel yang silih berganti hadir film ketiga dari Kung Fu Panda ini justru berhasil melakukan hal sebaliknya. Kung Fu Panda 3 merupakan kelanjutan penuh“respect” kepada Po dan keluarga panda serta teman-teman binatangnya itu, masih dengan karakter yang memiliki pesona serta humor yang penuh energy berhasil menjadi sebuah animasi yang tidak hanya memperdaya penonton lewat visual namun juga cerita yang mengandalkan isu sikap positif. We missed you, Po. Welcome back.

Po (Jack Black), yang bertemu dengan ayahnya yang telah lama menghilang, Li (Bryan Cranston) sedang bersiap menerima kepercayaan dari Master Shifu (Dustin Hoffman) untuk menjadi pemimpin Dragon Warrior. Bersama anggota Furious Five, Master Tigress (Angelina Jolie), Master Crane (David Cross), Master Mantis (Seth Rogen), Master Viper (Lucy Liu), danMaster Monkey (Jackie Chan), Po mulai belajar untuk melatih kung fu. Semua itu Po dan timnya lakukan untuk bersiap menghadapi ancaman dari Kai (J.K. Simmons), spirit warrioryang memiliki kemampuan untuk mencuri chi prajurit lain. 



Filmnya yang kedua, Kung Fu Panda 2, merupakan sebuah downgrade dari pencapaian yang dihasilkan film pertamanya. Dari segi cerita ia mencoba untuk sedikit lebih gelap, dari segi narasi malah lebih sering terlihat bingung, meskipun dari segi visual tetap menghibur dan karakter tetap kembali dengan pesona mereka yang membuat kita jatuh cinta di film pertama. Dua hal terakhir tadi kembali hadir di film ketiga ini, namun yang menjadikan Kung Fu Panda 3berhasil lebih baik dari film keduanya adalah ia berhasil mengembalikan dua hal yang hilang di film kedua tadi, sebuah skenario yang mencoba untuk kembali mengajak kamu menelusuri kisah persahabatan sembari terus mendorong maju karakter Po pada proses penemuan jati diri dengan cara yang lepas.



Sejak sinopsis awal Kung Fu Panda 3 seperti tidak membawa beban yang menganggu bagi dirinya sendiri, itu kunci kesuksesan film ini. Dari niat utamanya saja sederhana, alur cerita tidak pernah mencoba untuk terlalu gelap walaupun jangan kaget ketika kamu bertemu dengan beberapa momen yang punya kualitas emosi yang terasa manis. Kehadiran Li memang di sengaja namun sukses menciptakan arena baru untuk proses di mana Po mulai berjuang kembali menaikkan level yang ia punya. Po kembali belajar, dan itu hal yang mengasyikkan terlebih karena isu tentang “belajar” itu ditampilkan dengan sangat pas oleh Jennifer Yuh Nelsondan Alessandro Carloni, terasa sangat seimbang, lucu tapi tetap meninggalkan impresi yang kuat baik bagi penonton muda maupun penonton dewasa.



Tapi yang menarik adalah meskipun fokus ditaruh pada proses pematangan karakter Po didampingi dengan isu tentang keluarga, mereka tidak terasa kaku. Kung Fu Panda 3 punya momen sentimental tapi mereka lebih ditempatkan sebagai moment stealer ketimbang sebagai pusat cerita, dan kombinasi antara emosi dan humor juga secara mengejutkan terasa sangat klik. Dan selebihnya kamu kembali diajak menyaksikan berbagai “keajaiban” yang penuh tawa dan tentu saja, rasa aneh. Konsep cerita di film pertama diputar kembali di sini dengan cara yang pas, dan saya sangat suka bagaimana Jennifer Yuh Nelson dan Alessandro Carlonimendorong berbagai pesan positif yang dimiliki skenario untuk begitu mudah di tangkap tanpa menciptakan korban seperti alur dan nada cerita misalnya.


Namun bukan hanya segi cerita dari Kung Fu Panda 3 dengan berbagai pesan tentang sikap positif seperti jangan menilai seseorang hanya dari tampilan luar hingga selalu ada hal menarik untuk terus belajar yang terasa manis, visual juga sama manisnya. Ini adalah animasi yang cantik dari segi visual, warna-warni yang eye candy begitu memanjakan mata, desain yang cantik dan karakter yang ekspresif semakin menambah nilai positif terlebih pada karakter Kai, favorit terbaru saya. Pengisi suara juga memberikan kinerja yang sama baiknya, beberapa orang baru seperti Bryan Cranston dan J.K. Simmons langsung membuat karakter mereka mencuri perhatian, namun karakter lama tetap berhasil mempertahankan status mereka sebagai pemain utama.



Melihat apa yang diberikan film keduanya harapan saya pada awalnya tidak begitu tinggi sehingga ketika ia menampilkan animasi penuh komedi dan visual yang manis serta beberapa percikan emosi yang menjadi kejutan tersendiri tidak heran Kung Fu Panda 3 meninggalkan penontonnya dengan rasa terkejut. Kung Fu Panda 3 merupakan sebuah kelanjutan yang menawan, menggunakan konsep lama dan melakukan daur ulang dengan pembaharuan kecil yang terasa pas, berhasil menjadi sebuah animasi eye candy dengan pesona, emosi, dan komedi yang penuh energi.
Zootopia
Review Film Zootopia
Disney sepertinya tidak kehabisan ide kreatif untuk membuat film-film berkualitas yang dikemas ke dalam cerita animasi sederhana, tetapi mengandung makna yang mendalam yang tersirat di dalam ceritanya. Dengan mengangkat salah satu cerita klasik Disney, dan membawa cerita kehidupan binatang—tepatnya memanusiakan binatang, maka hadirlah Zootopia yang rilis beberapa hari yang lalu.
Zootopia menceritakan tentang kehidupan hewan di mana leluhur mereka telah memecahkan masalah yang terdikotomi dikarenakan hukum alam; yaitu kesetaraan—tepatnya penyetaraan antara hewan pemangsa dan hewan yang dimangsa. Dengan kata lain, republik Zootopia adalah republik di mana rantai makanan tidak lagi berlaku bagi para hewan-hewan. Semuanya damai, aman, bahagia, dan sangat terdidik.
Konflik dalam film ini, selalu menjadi bumbu penyedap dalam cerita fiksi maupun fakta sejarah; yaitu konspirasi (lagi pula siapa yang tidak suka teori konspirasi? Semua orang suka konspirasi). Di mana dalam cerita, hewan pemangsa dituduh kembali kepada naluriah hewan pemangsa mereka—menjadi  liar dan memangsa—sehingga  muncul lah diskriminasi kepada hewan pemangsa dari hewan yang dimangsa.
Usut punya usut, ternyata yang membuat hewan karnivora ini menjadi liar bukanlah reaksi dari gen atau DNA mereka. Melainkan disebabkan karena tumbuhan (disebut: pelolong malam) dengan kandungan berbahaya yang membuat mereka yang terkena menjadi liar. Keliaran kaum karnivora ini dikarenakan sekretaris wali kota Zootopia ingin berkuasa dengan mengangkat derajat hewan herbivora. Nah, disinilah seekor rubah yang bernama Nick Wilde dan polisi kelinci yang bernama Judy Hopps, hadir untuk memecahkan permasalahan yang berlangsung.
Kesetaraan dan anti diskriminasi merupakan pesan utama dalam film ini. Dan yang sangat menginspirasi pada film ini, terletak kepada eksistensi Judy Hopps yang ingin mengubah pandangan para masyarakat zootopia, bahwa kita bisa membuat perbedaan tanpa adanya membeda-bedakan, sehingga berujung kepada perubahan.
Film ini ingin menyampaikan dimana perbedaan sudah bukan lagi masalah; seperti dimana tidak adalagi perbedaan antara kaum negro dengan kulit putih; perbedaan ras antara tionghoa dan pribumi (seperti zaman Orba); dimana tidak ada lagi yang berkelompok lalu menjatuhkan kelompok yang berbeda; dimana tidak adalagi yang namanya stereotipe kepada suatu ras ataupun kelompok manapun; dimana melalui perbedaan, harmonisasi selalu hadir menyertai.
Inside Out
“Pixar is back!” adalah seruan pertama yang saya lontarkan seusai melahap Inside Out di layar lebar. Rasa-rasanya, siapapun yang beranggapan empat tahun terakhir film keluaran Pixar tidak berada dalam kondisi prima pun akan melakukan hal serupa. Ya, paska Toy Story 3, studio animasi berlogo lampu meja ini seolah-olah kehilangan pegangan – bahkan perlahan tapi pasti dihempaskan oleh rekannya, Disney, yang semakin menggila produksi animasinya – dengan melempar proyek film-film kelanjutan yang secara kualitas terbilang medioker untuk ukuran Pixar. Di saat Pixar mulai meredup, Pete Docter, otak dibalik kecemerlangan Monsters, Inc dan Up, mengajukan gagasan ambisius untuk divisualisasikan di film teranyarnya bertajuk Inside Out. Hanya dengan mendengar premisnya saja, “bagaimana jika ada makhluk-makhluk kecil yang mendiami tubuh manusia saling bekerjasama untuk mengontrol emosi dan tetek bengeknya?” antisipasi seketika meninggi yang berarti masih ada harapan untuk studio penelur trilogi Toy Story ini kembali bangkit. Dan memang, Inside Out merupakan sebuah langkah awal sempurna bagi Pixar guna merebut lagi posisi penguasa dunia film animasi yang sebelumnya sempat mereka genggam. 

Seperti telah digeber di materi promosinya, setidaknya ada lima emosi utama yang bekerja di pikiran sadar seorang perempuan berusia 11 tahun bernama Riley (Kaitlyn Dias), yakni Joy (Amy Poehler), Sadness (Phyllis Smith), Fear (Bill Hader), Anger (Lewis Black), dan Disgust (Mindy Kaling). Telah hadir semenjak Riley dilahirkan, kelimanya berhasil menjaga kekompakan dengan menjalankan peranannya masing-masing secara baik dibawah kepemimpinan Joy yang menjadi emosi paling dominan dalam diri Riley. Segala keteraturan di ruang pengendali – disebut Headquarters – mendadak goyah saat Riley dan keluarganya pindah rumah ke San Fransisco. Well, awalnya memang tidak terlalu buruk karena Joy berusaha keras untuk menjaga pikiran Riley terhadap kehidupan barunya senantiasa positif, namun sebuah insiden kecil yang melibatkan Sadness merobohkan segalanya. Dalam upaya memperbaiki kekacauan yang disebabkan Sadness, Joy dan Sadness malah justru tersedot memasuki labirin penyimpan ingatan jangka panjang Riley. Dengan menghilangnya dua elemen emosi ini, secara otomatis emosi Riley pun mengalami ketimpangan yang membuat keadaan semakin memburuk. Satu-satunya cara untuk menyelesaikan perkara adalah Joy dan Sadness harus bekerjasama untuk kembali ke Headquarters. 

Terdengar njelimet? Memang terkesan demikian saat dijlentrehkan di atas kertas – khususnya bagi penonton cilik – namun tak perlu risau karena Pete Docter terbilang piawai dalam menerjemahkan konsep jeniusnya ini ke dalam bahasa gambar sehingga alih-alih membingungkan Inside Out malah justru mempermainkan emosi sedemikian rupa. Ada perpaduan sempurna antara emosi penuh kesenangan (dalam hal ini, tawa canda dan perasaan bersemangat) dengan kesedihan yang menjadikannya sebagai film buatan Pixar paling emosional sejak Toy Story 3. Dan tidak seperti halnya film sang sineas terdahulu,Up, yang sekonyong-konyong membawa penonton pada suasana muram melalui adegan pembuka yang memilukan, Inside Out memilih untuk mengawalinya dengan riang. Pada paruh awal, kita seolah-olah tengah mengikuti perkuliahan singkat di kelas Psikologi yang tergolong menyenangkan bertabur humor segar disana sini. Penonton dibawa menyelami bagian-bagian vital yang berkontribusi terhadap berfungsinya emosi manusia seraya berkenalan dengan sejumlah karakter penting penggerak roda cerita. Seusai afeksi penonton dengan karakter dirasa sudah mulai sedikit terbentuk, Pete Docter menggelindingkan bola konflik satu persatu yang dimulai dengan kesalahan Sadness menyentuh memori inti di hari pertama Riley bersekolah. 

Konflik yang tampaknya sepele ini lantas meletupkan sejumlah konflik lain yang menyeret Joy dan Sadness untuk terlibat dalam petualangan seru menjelajahi ingatan jangka panjang Riley. Sampai disini, emosi penonton masih dikontrol sepenuhnya oleh Joy terlebih ada visual penuh warna memanjakan mata, celetukan-celetukan lucu pengundang tawa (termasuk dari Sadness yang kegundahannya sering membuat saya terbahak) dan keingintahuan besar untuk mengetahui peristiwa apa saja yang menghadang keduanya dalam menuntaskan misi menyelamatkan kenangan-kenangan penting pembentuk kepribadian Riley yang dalam film diibaratkan berwujud pulau. Di tengah perjalanan ini, mereka juga berjumpa dengan Bing Bong (Richard Kind), teman khayalan Riley yang telah lama dilupakan, yang bersedia memberikan bantuan demi kebahagiaan sang sahabat. Kemunculan sosok Bing Bong – seketika merebut spotlight dari Joy maupun Sadness – merupakan menit-menit penanda peralihan emosi dari ‘hijau’ menuju ‘biru’ atau ini berarti, Joy mulai menyerahkan tongkat estafet ke Sadness. Ya, Bing Bong tidak saja menyuntikkan serum kebahagiaan pada film dengan segala tawa candanya tetapi juga menginjeksi serum kesedihan lewat salah satu momen paling mengharu biru di sinema dalam beberapa tahun terakhir yang kemungkinan besar akan menjebol pertahanan air matamu. 

Berhenti sampai disitu saja? Tidak juga. Di dua puluh menit terakhir, Pete Docter semakin kejam dalam membuat perasaanmu campur aduk dan seperti halnya Toy Story 3, menyentuh sisi personal dari para penonton dewasa dengan sekali ini ditujukan untuk mereka yang pernah mengkhianati kepercayaan orang tua. Untuk mereka yang pernah sekali waktu mengecewakan orang tua. Dan untuk mereka yang ketakutan menghadapi perubahan mendadak dalam hidup. Paruh akhir ini sekaligus menguatkan pernyataan bahwa film animasi tidak melulu diproduksi sebagai konsumsi anak-anak, karena hey, sekalipun grafisnya terbilang berwarna warni, Inside Out memiliki penceritaan yang bukan juga sepenuhnya mudah dikunyah dan kandungan permainan emosinya pun pekat tidak semata-mata soal bersenang-senang. Pixar terbukti tidak membual saat menjual Inside Out dengan label ‘a major emotion picture’ karena selama durasi mengalun, emosi penonton dibawa naik turun selayaknya tengah menunggangi roller coaster dari semula tertawa-tawa, bersemangat, sampai mengusap bulir-bulir air mata. Seruan ‘Pixar is back!’, pada akhirnya, memang tidak terdengar berlebihan karena Pixar benar-benar kembali patut diperhitungkan berkat Inside Out yang tampak kentara dibuat menggunakan hati ini. 
Angry Birds The Movie

The Angry Birds Movie, Film The Angry Birds Movie (2016)

Film "The Angry Birds Movie" menceritakan tentang kehidupan sekelompok burung yang hidup di sebuah pulau, mereka yaitu Red (Jason Sudeikis), Chuck (Josh Gad) dan Bom (Danny McBride). Akan tetapi ada salah satu ekor burung yang mempunyai masalah dengan emosinya, burung tersebut yaitu Red.

Suatu hari ada sebuah kapal yang membawa segrombolan babi yang di pimpin oleh Leonard. Dengan kedatangan Leonard dan kawan kawannya tersebut membuat kehidupan Red bersama teman temannya mulai terusik, karena sekelompok babi tersebut sering mencuri telur terur mereka.

Setelah lama-kelamaan ulah babi-babi tersebut mulai mengelunjak, akhirnya Red bersama dengan Chuck, Matilda, Bomb dan yang lainnya mencoba untuk menyerang para babi jahat tersebut, demi keselamatan telur telur mereka.

Review Film The Angry Birds Movie (2016)

"The Angry Birds Movie" 2016 merupakan sebuah film yang di adaptasi dari sebuah game bernama "Angry Birds". Film ini ternyata berasal dari Finlandia, dan dalam pembuatan film ini Columbia Pictures tidak segan-segan mengeluarkan dana sekitar 80 Juta USD untuk membuat film ini jadi menarik di mata penonton.


Menariknya dalam film The Angry Birds Movie yaitu, karakternya sedikit perbeda dengan yang ada di dalam video gamenya, perbedaannya tersebut terletak pada kaki dan sayap, jika dalam video gamenya tidak ada, sementara di film Angry Birds Movie ini mereka mempunyainya.

Minggu, 04 September 2016

Despicable Me 2
Hasil gambar untuk review despicable me 2 indo
Siapa yang merindukan minions, makhluk kuning menggemaskan yang sering melakukan aksi konyol itu? Yes, Gru dan tiga anak angkatnya kembali membawa serombonganminions, anak buahnya, dalam sekuel film Despicable Me 2!
Kali ini, sang mantan penjahat direkrut Liga Antipenjahat untuk membantu menangkap penjahat lainnya. Bersama dengan partnernya yang cantik dan pintar bela diri, Lucy Wilde, Gru harus menyelidiki sebuah mal demi mengungkapkan rahasia penjahat legendaris, El Macho. Tentunya seluruh aksi heroik Gru diwarnai dengan berbagai tragedi lucu akibat dari gangguan anak-anaknya, kekonyolan anak buahnya, maupun sikap ceroboh Gru sendiri.
Yang menjadi pusat perhatian dari film ini adalah banyaknya screen time bagi minionsdibanding dengan film pertamanya dulu. Sang penulis, Ken Daurio dan Cico Paul memang sengaja menaruh peran lebih banyak untuk para minions karena besarnya minat pasar terhadap mereka. Jadi, dari satu setengah jam durasi keseluruhan film, hampir setengahnya akan menampilkan aksi minions yang mengocok perut. Para minionsakan lebih aktif dan cerewet di film ini dengan bahasa mereka yang disebut Minionese.Dengan suara cempreng mereka, cukup mendengarnya saja—tanpa harus mengerti—pasti bikin Anda tertawa!
22 Jump Street

"So, they want the same shit, here we go."

Ketimbang menyebutnya sebagai penerus kesuksesan film pertama yang rilis dua tahun lalu, 22 Jump Streetmungkin terasa lebih layak menyandang status sebagai silliness recycle yang berhasil menjalankan tugas beratnya tanpa harus mengorbankan “image” yang ia punya. Dengan budget hampir dua kali lebih besar tidak ada hal baru yang menonjol disini, tapi apakah itu sebuah keharusan dari sebuah sekuel? Tidak, karena hal tadi mampu ia tutup dengan sebuah hiburan identik yang masih sama menyenangkannya. 22 Jump Street, real-world version of The Lego Movie, random fun.

Setelah gagal menangkap drug dealers yang dipimpin Ghost (Peter Stormare), Deputy Chief Hardy (Nick Offerman) menempatkan kembali duo mispaired police, Morton Schmidt (Jonah Hill) dan Greg Jenko (Channing Tatum) untuk melakukan misi yang lebih mudah dan pernah mereka berhasil laksanakan dengan baik, melakukan aksi penyamaran untuk memecahkan sebuah misteri. Mereka kembali berada di bawah komando Captain Dickson (Ice Cube), yang kini sudah memindahkan tempat kerjanya ke 22 Jump Street, bahkan telah melakukan update pada Korean Jesus.

Schmidt dan Jenko naik level, masuk ke sebuah college bernama MC State dan menyamar sebagai saudara, bertugas untuk mencari WhyPhy, distributor dari narkoba mematikan yang diduga menjadi penyebab kematian seorang mahasiswi. Tapi ternyata aksi membaur mereka dengan para mahasiswa, Jenko yang langsung menjadi BFF pria bernama Zook (Wyatt Russell) karena keahliannya di football, dan Schmidt dengan wanita muda, Maya (Amber Stevens) lengkap dengan roommate yang selalu cemberut bernamaMercedes (Jillian Bell), ternyata menjadi penghalang bagi misi utama mereka.


Dibuka dengan kilas balik singkat film pertamanya, ada sebuah adegan menarik di bagian pembuka yang berasal dari percakapan antara Hardy, Schmidt,dan Jenko, sebuah kalimat dengan inti bahwa usaha mempertahankan lebih sulit dibandingkan dengan usaha ketika hendak meraih. Ya, terasa implisit memang tapi bagian tersebut menjadi menarik kerena disamping sedikit ucapan syukur atas keberhasilan film pertamanya ia juga mengatakan bahwa percobaan kedua selalu lebih sulit dibandingkan dengan percobaan pertama terlebih jika ia sebelumnya mampu meraih kesuksesan. Itu seperti sebuah alarm yang akan membuat penontonnya secara spontan menarik mundur ekspektasi yang telah mereka pasang di level manapun.

Cerdik, mereka seperti memberikan kejutan berupa sedikit rasa pesimis di bagian awal untuk menjadikan penontonnya “siap” dengan hal negatif dari sebuah sekuel sebelum masuk kedalam pesta sesungguhnya, seperti sedikit mencuci otak kita untuk tidak berharap terlalu banyak namun kemudian memberikan kejutan lainnya yang akhirnya membuat kita keluar dari pesta tersebut dengan rasa puas yang sama dengan pendahulunya. Yap, strategi diawal itu ternyata berhasil karena pengulangan plot pada film pertama yang muncul pada naskah yang disusun oleh Michael Bacall, Oren Uziel, dan Rodney Rothman, begitupula pada cara Phil Lord dan Christopher Miller memadukan mereka yang juga masih bermain pada formula default film pertamanya berhasil bersatu menjadi sebuah komedi bodoh yang menyenangkan.


Tidak banyak yang berubah disini, Phil Lord dan Christopher Miller masih menggunakan rumus yang sama: plot yang ringan, dangkal, dan standard, alur yang dominan berisikan hal-hal gimmick disengaja, hal-hal konyol, bodoh, apapun itu sebutannya yang silih berganti hadir dengan liar dalam gerak cepat yang terkendali, hingga sedikit drama pada dua karakter utamanya dengan tema persahabatan. Yang menjadikan tumpukan materi tadi bekerja dengan baik adalah kemampuan dari Phil Lord dan Christopher Miller memberikan mereka waktu untuk beraksi dan mencuri atensi tanpa harus saling merusak satu sama lain, meskipun banyak diantaranya tampil dengan membawa kesan klise bahkan beberapa terasa hambar.

Ini yang aneh, kita tahu ini klise, kita tahu ini bodoh, kita juga tahu ini dangkal, tapi mereka tidak mengganggu kenikmatan petualangan yang mencoba tampil sedikit satir dan kini sedikit menggeser fokusnya itu. 22 Jump Street bukan sekedar berisikan aksi prosedurial polisi namun kini mencoba untuk menggambarkan persahabatan diantara dua senjata utamanya yang kini diputar posisinya itu, selalu diwarnai dengan aksi ejek baik menggunakan fisik maupun verbal dengan mengandalkan perbedaan diantara mereka dilengkapi dengan penggunaan split-screen yang kreatif, hadir dengan komposisi yang pas sehingga tidak terlalu lembek serta tidak menguras energi sektor fun lainnya, seperti adegan aksi.


Keseimbangan mungkin kata sederhana yang dapat mewakili alasan mengapa 22 Jump Street masih mampu menjadi sebuah komedi menyenangkan dibalik segala hal standard yang ia tawarkan. Tidak tampak rasa ragu pada eksekusi yang dilakukan oleh Phil Lord dan Christopher Miller pada materi yang mereka punya, sama halnya seperti The Lego Movie dimana mereka berhasil mencampur elemen kekanak-kanakan dengan lelucon cerewet, elemen yang bertugas sedikit memompa adrenalin, dan kemudian membungkusnya dengan sedikit unsur drama, saling bantu dalam struktur yang tertata dengan baik sehingga fokus penonton tidak pernah menghadap kembali kearah belakang untuk mencari hal-hal minus yang ia punya, terus menatap kedepan hingga kredit penutup yang ambisius itu hadir di layar.

Duet antara Channing Tatum dan Jonah Hill juga menjadi kunci lainnya. Chemistry mereka terasa kuat, seperti telah paham untuk saling mengisi dan membantu untuk menciptakan hubungan bromance yang lucu, gila, tapi juga hangat. Jonah Hill kembali tampil dengan standard yang ia punya, tapi yang menarik justru adalah Channing Tatum, aksi komik yang ia berikan tidak lagi kasar dan tampak mulai nyaman dengan peran yang ia miliki. Phil Lord dan Christopher Miller juga cerdik dalam memanfaatkan karakter pendukung, melekat di memori tanpa mengganggu karakter utama. Jawara nya adalah Ice Cube yang selalu mampu mencuri panggung utama ketika ia hadir, hal yang juga berhasil dilakukan oleh Jillian Bell dan Amber Stevens, begitupula dengan cameo dari Patton Oswalt dan Seth Rogen.


Overall, 22 Jump Street adalah film yang memuaskan. Apakah ini jauh lebih besar dari film pertamanya? Tidak. Ketimbang menyebut 22 Jump Street sebagai sebuah penerus yang mampu memberikan banyak pergerakan positif dari pendahulunya, lebih menarik untuk mengapresiasi kemampuan Phil Lord danChristopher Miller beserta tim miliknya untuk menjauhkan film ini dari jeratan buruk sebuah sekuel jika menilik sikap yang mereka tunjukkan sejak awal, dari rumus yang sama, plot yang sama, hingga pengulangan dan materi yang mayoritas sama. Identik, dan masih sama menyenangkannya.

21 Jump Street

21 Jump ...



Kini setelah hampir 22 tahun kisah ini akhirnya diangkat ke layar lebar oleh Columbia Pictures bersama Metro-Goldwyn-Mayer (MGM), Relativity Media, Original Film, Stephen J. Cannell Productions dan Cannell Studios. Hal ini cukup mengejutkan karena versi televisinya dulu justru tayang di jaringan 20th Century Fox, melalui Fox Network.
 
Kisahnya pun tidak jauh berbeda, tentang polisi yang menyamar di sekolah untuk mengungkap kasus kenakalan remaja khususnya narkoba. Kali ini lewat Schmidt (Jonah Hill) dan Jenko (Channing Tatum) yang pernah satu sekolah saat SMU. Keduanya akhirnya di takdirkan kembali bertemu saat ingin mendaftar di keanggotaan kepolisian.
 
Setelah menjadi polisi, keduanya pun akhirnya di tugaskan bersama, Schmidt yang cerdas namun lamban di padukan dengan Jenko yang perkasa tapi memiliki kekurangan dalam hal kepintaran. Perpaduan inilah yang menjadi kelucuan di 21 Jump Street, hal ini langsung tergambar saat mereka menjadi bahan lelucon di kantor setelah lupa membacakan hak-hak Miranda (kalimat yang harus dibacakan oleh petugas kepolisian saat menangkap pelaku kejahatan) 
 
Drama polisi menyamar dimulai saat sebuah narkoba jenis baru yang diberi nama HFS menjadi konsumsi para siswa di sebuah sekolah. Narkoba jenis baru ini dapat berakibat sangat fatal karena bisa membawa kematian bagi yang mengkonsumsinya.  Schmidt  dan Jenko pun kembali ke sekolah untuk mengungkap kasus ini.
 
Bisa dibilang 21 Jump Street versi Phil Lord dan Chris Miller ini adalah sebuah film yang ditujukan untuk kita tertawa dan bersenang-senang di dalam bioskop. Kisah drama aksi yang dibalut dengan naskah yang lucu, membuat Anda tertawa terpingkal-pingkal. Salah satunya adalah saat Schmidt yang berdoa kepada patung Yesus berwajah oriental yang disebutnya sebagai Korean Jesus. Atau saat Jenko mencabut pisau yang menancap di badan Schmidt.
 
Beberapa kekonyolan yang dibuat Schmidt dan Jenko dipastikan akan membuat Anda puas tertawa dan melepas penat di kepala. Selain itu unsur kejutan yang bisa membuat Anda puas tersenyum adalah hadirnya sosok Johnny Depp yang muncul secara tidak terduga.
The Dictator
Sacha Baron Cohen adalah salah satu aktor watak terbaik yang ada sekarang. Lihat saja bagaimana ia mampu menciptakan karakter-karakter unik nan memorable dalam film-film komedinya. Mulai dari pria bergaya rapper bernama Ali G, seorang fashionista gay bernama Bruno dan tentunya reporter Kazakhstan bernama Borat. Karakter-karakter itu sendiri diciptakan Sacha Baron Cohen sebagai bentuk sindiran atas berbagai pihak, bisa dibilang sebuah karakter satir. Selain jago dalam memainkan karakter ciptaannya sendiri, Sacha Baron Cohen juga piawai dalam memainkan tokoh lain seperti saat ia menajdi Inspektur Gustav di Hugo atau saat dia bermain di Sweeney Todd.Bahkan di tahun 2014 nanti rencananya ia akan bermain dalam biopic Freddie Mercury dan berperan sebagai Mercury sendiri. Tapi sebelumnya di 2012 ini Sacha Baron Cohen kembali merilis film dengan karakter ciptaannya sendiri. The Dictator yang kembali disutradarai oleh Larry Charles ini terinspirasi pada buku Zabibah and the King yang ditulis diktator Irak Sadam Hussein. Sedangkan Sacha Baron Cohen disini memerankan General Aladeen, seorang diktator dar sebuah negara fiktif di Afrika Utara bernama Wadiya. General Aladeen sendiri adalah karakter yang dibuat oleh Baron Cohen berdasarkan sosok Muammar Gaddafi.

The Dictator mengisahkan tentang kediktatoran General Aladeen yang sering bertindak kejam terhadap orang lain. Tapi kekejaman tersebut bukan dikarenakan Aladeen adalah pria berdarah dingin namun lebih karena kebodohan. Aladeen pernah mengeksekusi banyak orang dengan alasan konyol termasuk saat ia mengeksekusi ilmuwan nuklir miliknya, Nadal (Jason Mantzoukas) hanya karena senjata nuklir yang dibuat Nadal bagi Aladeen mempunyai ujung yang bulat dan tidak tajam seperti yang diinginkan Aladeen. Baginya roket dengan ujung bulat tidak mengerikan dan terlihat bagaikan sebuah dildo raksasa. Kediktatoran dan pengembangan nuklir yang dilakukan oleh Aladeen sendiri mendapat kecaman dari banyak pihak khususnya Amerika Serikat. Hal itu membuat negara luar mengancam akan menyerang Wadiya jika Aladeen tidak bersedia menghentikan kediktatorannya. Akhirnya untuk membahas perihal tersebut Aladeen berkunjung ke New York. Tapi sesampainya disana saat malam hari Aladeen diculik. Bukannya dibunuh, Aladeen justru harus kehilangan jenggot kesayangan yang juga menjadi ciri khasnya. Tanpa jenggot dan pakaian kebesarannya, tidak ada yang mengenali Aladeen. Untungnya di tengah kekacauan Aladeen dibantu oleh Zoey (Anna Faris) yang ironisnya merupakan demonstran anti-Aladeen.
The Dictator jelas punya humor-humor yang sangat ofensif dan beberapa juga jorok. Seperti biasa humor ala Sacha Baron Cohen ini pastinya akan menyulut kontroversi. Kali ini yang disindir adalah tentang bagaimana Amerika menyikapi konflik yang sering terjadi di negara Timur Tengah hingga tentang bagaimana mereka memandang terrorisme yang begitu melekat pada orang-orang Timur Tengah. Yang jelas bagi penonton yang kurang bisa menerima humor ofensif yang penuh nuansa rasisme dan kejorokan maka The Dictator akan menjadi 83 menit penuh dengan momen-momen menyebalkan yang jauh dari kesan lucu. Bagi saya sendiri paruh awal film ini terasa garing dan gagal dalam menghantarkan komedinya. Sejak awal memang tanpa basa-basi film ini langsung mengeluarkan segala amunisinya untuk mengocok perut penonton. Tapi sayangnya semua itu gagal terlihat menarik karena momen-momen awal saat kita diajak berkenalan pada kekejaman sekaligus kebodohan Aladeen terasa biasa saja. Di bagian awal ini momen yang bisa membuat saya sedikit tertawa paling hanyalah adegan pengubahan beberapa kata Wadiya menjadi "Aladeen", sedangkan sisanya terasa datar.
Untungnya setelah berjalan beberapa saat film ini mulai menemukan sentuhannya. Beberapa momen mulai terlihat lucu meski tidak semuanya berhasil. Saat itu adalah momen dimana The Dictator tidak hanya menampilkan komedi jorok dan kasar ditambah rasisme tanggung seperti diawal film, tapi secara total mengeluarkan semuanya. Rasisme yang di bagian awal masih terasa "ringan" mulai makin ofensif. Tapi anhenya makin ofensif dan kasar rasisme yang muncul dalam humornya justru makin terasa lucu film ini. Semua itu berkat penempatannya yang cerdas dalam naskah. Tidak selamanya humor kasar dan rasis terdengar menjijikkan, karena komedi adalah masalah timing, dan jika penempatannya pas maka humor serasis apapun bisa terdengar cerdas, karena mau tidak mau rasanya kita harus mengakui jenis humor dan lelucon yang paling sering membuat kita tertawa adalah lelucon berbau rasis atau yang memasukkan unsur stereotype suatu golongan. Saya yakin banyak yang menjadikan lelucon mengenai orang kulit hitam sebagai guilty pleasure. Pastinya juga banyak yang doyan mentertawakan stereotype Korut sebagai negeri yang tidak memiliki kebebasan dan masih banyak lagi humor seperti itu yang beredar diantara kita. DalamThe Dictator berbagai golongan tidak lepas dari sindiran mulai dari kulit hitam, orang Amerika, Yahudi dan masih banyak lagi. Beberapa cameo seperti dari Megan Fox dan Edward Norton juga menarik dan lucu.

Tentu saja saya tidak mengharapkan sebuah kisah yang cerdas, tapi cerita yang disajikan dalam The Dictator terlalu bodoh di beberapa bagian. Jika kita melihat Borat ataupun Bruno cerita yang ada didalamnya adalah humor itu sendiri dan kedua aspek tersebut menyatu dengan baik, sehingga meski penuh kebodohan, ceritanya tidak pernah sekalipun terasa bodoh bahkan terbilang cerdas. Sedangkan dalam The Dictator saya tidak merasakan humor dan ceritanya sebagai satu kesatuan yang sempurna. Disatu sisi saya merasakan humornya yang bodoh dan kasar mulai terasa menarik di pertengahan. Tapi saat itu juga ceritanya terasa janggal. Kemudian akibat cerita dan humornya yang menyatu, kebodohan yang terjadi pada ceritanya makin sulit ditolerir. Beberapa perbuatan yang dilakukan karakternya terkadang terasa terlalu bodoh. Saya tidak terlalu mempermasalahkan kebodohan dalam humornya tapi lebih kepada beberapa tindakan tokohnya yang mempengaruhi jalan cerita. Selain itu karakter Aladeen juga mengalami perubahan karakterisasi yang agak mengganggu saat di pertengahan ia mulai menjadi baik dengan begitu cepat. Hal itu membuat ceritanya di beberapa bagian sempat terasa layaknya film komedi yang lain walaupun pada akhirnya humor dan cerita ala Baron Cohen dan penampilan gemilangnya sebagai Aladeen mampu membuat perbedaan. Sangat disayangkan kebodohan yang ada dalam ceritanya tidak secerdas kebodohan dalam leluconnya, padahal The Dictator berpotensi besar menjadi komedi ofensif yang cerdas layaknya Borat. Justru beberapa materi promo yang disebar film ini jauh lebih lucu dan cerdas.