Tampilkan postingan dengan label History Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label History Film. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Agustus 2016

Imitation Game
poster
Jika anda saat ini menggunakan komputer canggih dalam bentuk PC maupun gadget, sedikit informasi tambahan untuk anda bahwa semua kecanggihan ini sebenarnya bermuara dari sebuah mesin rahasia milik pemerintah Inggris yang digunakan di perang dunia kedua. Dikenal sebagai mesin Turing, mesin ini menjadi cikal-bakal teknologi komputer yang penuh dengan kode-kode. Siapa sangka algortima matematika yang rumit dalam pengembangan komputer justru berawal dari kisah penuh konflik di masa peperangan. Kisah tersebut diangkat kedalam film berjudul The Imitation Game yang diangkat dari buku berjudul Alan Turing: The Enigma, karya Andrew Hodges yang membongkar rahasia selama hampir dari 50 tahun.

Kisah Nyata Perang Dunia II Puluhan Tahun Baru Terbongkar

3
Ini adalah kisah nyata dari seorang ahli kode bernama Alan Turing (Benedict Cumberbatch). Di sekitar tahun 1941 ketika terjadi perang dunia kedua, Alan Turing ikut bergabung kedalam misi rahasia yang diemban oleh kerajaan Inggris. Alan Turing yang juga seorang lulusan Universitas Cambridge, sangat gemar dalam hal memecahkan kode-kode rahasia yang telah ditekuninya sejak remaja.
Tugas rahasia ini yaitu memecahkan kode dari mesin pesan Enigma milik Jerman. Mesin pesan ini memiliki kode yang sangat rumit untuk dipecahkan, digunakan untuk mengirim pesan perintah tentara Nazi Jerman yang menjadi musuh utama Britania Raya. Alan Turing dan tim ahli enksripsi harus memecahkan kode pesan yang memiliki kemungkinan sebesar 159 triliun kode setiap harinya. Ini tentu hal diluar batas kemampuan manusia.
2014, THE IMITATION GAME
Untuk menyelesaikan tugas tersebut, akhirnya Alan Turing membuat mesin yang mampu memecah kode Enigma. Selain rancangan mesin tersebut sangat rumit, Alan Turing juga membutuhkan dana yang sangat besar yaitu 100 ribu poundsterling. Hal ini mendapat penentangan dari komandannya Alastair Denniston (Charles Dance), yang dan meragukan Alan Turing untuk benar-benar mewujudkan mesin tersebut.
Alan Turing semakin diragukan dan bahkan dicurigai sebagai mata-mata Uni Soviet karena sikapnya yang berbeda dari teman-teman setimnya. Alan cenderung ingin bekerja sendiri, enggan bergaul dan selalu merasa paling benar. Tapi Alan justru mendapat dukungan kuat dari panglima jenderal Stewart Menzies (Mark Strong)  dan perdana menteri Inggris Sir Winston Churchill yang melihat ide-ide Alan memang sangat brilian. Bahkan Alan ditunjuk sebagai ketua dalam tim pemecah kode di Bletchley dan memiliki kewenangan untuk menentukan rencana kerja dalam timnya tersebut.
Kesulitan Alan bergaul membuatnya dikucilkan. Rekan-rekan setimnya mencurigai ada sesuatu hal yang sangat dirahasiakan dalam diri Alan Turing. Begitu pula dengan komandan Denniston yang sejak awal meragukan Alan Turing. Tapi hal tersebut akhirnya mulai cair setelah hadirnya anggota baru, seorang wanita cantik ahli matematika bernama Joan Clarke (Keira Knightley). Clarke seolah menjadi kunci sukses Alan meraih kepercayaan dari rekan-rekan dan atasannya itu. Meski rekannya tak lagi mencurigai Alan sebagai mata-mata, namun Alan memang masih menyembunyikan rahasia besar tentang jati dirinya. Apakah rahasia besar yang disembunyikan Alan Turing tersebut ?

Penuh Intrik, Drama Sejarah Bertaut Pesan-pesan Moral

1
Apa yang kita inginkan dari sebuah film bergenre drama sepertinya sudah sangat lengkap dihadirkan dalam film The Imitation Game. Apalagi film ini diangkat dari kisah nyata yang alurnya tak memiliki perbedaan dari kisah aslinya, untuk plot cerita tentu tak ada yang berlebihan. Imitation Game mengangkat kisah nyata pencetus mesin Turing dengan menyorot banyak angle konflik. Selain sejarah perang, konspirasi rahasia, juga mencakup kehidupan pribadi dan sosial dari seorang Alan Turing.
Morten Tyldum memilih aktor yang tepat untuk memerankan tokoh utama di film ini. Seorang aktor Inggris dengan aksen British yang kental dan perangai misterius dari Benedict Cumberbatch sukses menggambarkan pribadi seorang Alan Turing. Untuk film kali ini, Benedict Cumberbatch sepertinya punya kejutan yang belum pernah disaksikan oleh penggemarnya, bagaimana ia memerankan karakter unik dengan penuh penjiwaan dengan luapan-luapan emosi yang membuat penonton ikut dalam suasana. Bahkan kita akan tak pernah menyangka sebelumnya, saat sang aktor bisa menangis tersedu atau ketika anda merasa gemas dengan karakter sombong Alan Turing yang ia mainkan.
4
Banyak pesan moral yang disampaikan dalam film, bisa dikutip dari beberapa quotes yang diucapkan para aktor. Seperti ketika Joan Clarke mengatakan “Now, if you wish you could have been normal… I can promise you I do not. The world is an infinitely better place precisely because you weren’t.,” yang tentunya mengartikan bahwa menjadi unik dan berbeda justru terkadang adalah hal yang terbaik. Atau quotes lain dari Alan Turing saat berkata “Do you know why people like violence? It is because it feels good. Humans find violence deeply satisfying. But remove the satisfaction, and the act becomes… hollow,” yang menunjukan sebagian orang memang senang membuat kekacauan demi kepuasan dari reaksi kekacauan yang dibuatnya.
Black Hawk Down
Film yang menceritakan tentang jatuhnya dua helikopter militer Amerika, UH-60 Black Hawk setelah ditembak jatuh oleh pejuang Islam Somalia yang hanya bersenjatakan sederhana.
 
Film Black Hawk Down diambil dari peristiwa nyata tentang Pertempuran Mogadishu yang terjadi pada tahun 1993, antara tentara Amerika melawan pejuang Islam Somalia klan Habr Gidr. PimpinanMuhammad Farah Aidid.

Musim gugur di Mogadishu, Oktober 1993, mengembuskan sebuah tanda kematian. Ketika fajar tiba memulai tanggal 3 Oktober, peluru dan granat menyalak tak berkesudahan. Ketika 160 orang pasukan militer Amerika Serikat menembus lorong-lorong Mogadishu, Somalia, 3 Oktober 1993. Semula, di bawah pimpinan Jenderal William F. Garrison (Sam Shepard), mereka diberi tugas menculik letnan-letnan utama Jenderal Muhammad Farrah Aidid, warlord yang menguasai kawasan ibu kota tersebut. Operasi ini dijadwalkan berlangsung 30 menit saja. Namun, misi yang semula dianggap enteng ini berujung bencana.

Dari sore hingga fajar pecah keesokan harinya, peluru, granat, dan berbagai macam senjata yang diperjualbelikan di Mogadishu bak kacang goreng itu tak henti-hentinya menghajar dan mencabik tubuh mereka. Dua helikopter Amerika juga ditembak jatuh. Seluruh kota seperti telah melawan mereka sehingga tak ada pilihan selain balas mengamuk. Peristiwa ini menyebabkan 10 orang pasukan AS tewas dan puluhan orang luka berat. Maka, ini kemudian menjadi tragedi terbesar pada masa pemerintahan Bill Clinton.

Inilah peristiwa hitam—jauh sebelum Tragedi World Trade Center—yang direkam oleh wartawan Philadelphia Inquirer dalam buku berjudul Black Hawk Down, yang kemudian diangkat ke layar lebar oleh sutradara Ridley Scott. Inilah kisah nyata ketika 250 ribu pasukan marinir AS yang bertugas bersama PBB untuk mendistribusikan makanan di Somalia merasa "impoten" dalam perang sipil yang dikuasai milisia yang luar biasa brutal itu. Kebijakan AS saat itu: menangkap Muhammad Farrah Aidid. Dan Jenderal Garrison sudah melampaui batas waktu penangkapan yang diberikan oleh Washington. Maka terjadilah peristiwa nahas itu.

Sutradara Inggris yang tahun lalu filmnya, Gladiator, terpilih sebagai film terbaik Academy Awards ini menggunakan pendekatan semidokumenter dalam film ini untuk membawa penonton pada gambaran nyata sebuah perang. Ia tak segan-segan menyodorkan gambar tangan terputus atau badan tentara yang terbelah total tetapi toh bibirnya masih sempat berbicara. Kiat ini bukan barang baru. Oliver Stone telah menggunakannya dalam Platoon, begitu juga Steven Spielberg dalam Saving Private Ryan. Namun kebrutalan perang dalam Black Hawk Down semakin terasa nyata karena ia tampil dua jam nyaris tanpa jeda, sehingga film terasa lebih menohok dan butuh ketabahan tersendiri untuk menontonnya.

Sayang sekali, informasi sebab-musabab awal keterlibatan AS dan negara-negara lain yang berdatangan ke Somalia untuk membantu ditampilkan cuma sekelebat. Latar belakang historis perang antarklan juga mengawang, sehingga tokoh-tokoh milisi Somalia hadir brutal tanpa alasan yang cukup. Alasan strategis peluncuran misi penculikan juga tak pernah jelas karena lawan politik Aidid tak dimunculkan. Akibatnya, dalam beberapa adegan film ini jadi kehilangan konteks. Film ini punya potensi menerbitkan salah paham bahwa mayoritas warga Somalia haus darah. Namun, di sisi lain, hal ini malah menimbulkan efek dramatis ketika para prajurit harus terus bertempur di tengah ketidakyakinan mereka terhadap misi ini. Karena itu, tanpa disadari—barangkali—Ridley telah menciptakan sebuah film perang yang antiperang, seperti sikap sutradara Kenneth Brannagh dalam film Henry V.

Itulah sebabnya, meski berkisah tentang serdadu Amerika, Black Hawk Down bukanlah film laga ala Rambo, yang tak tahu malu mengagumi aksi norak koboi militer negara adidaya itu di wilayah orang lain. Film ini tak menyajikan sosok Mel Gibson atau Tom Cruise, apalagi Sylvester Stallone untuk membuat penonton merasa tenang bahwa akhir dari seluruh kerusuhan ini akan beres karena datangnya sang jagoan. Sebaliknya, ini adalah film yang secara terus terang menyuguhkan kisah militer Amerika sebagai pecundang. Dari perimbangan angka korban, pasukan Amerika unggul banyak, 18 prajurit lawan seribu orang warga Somalia. Namun, bukankah ini satu bentuk kekalahan telak, sebuah misi yang tak jelas akhirnya merenggut nyawa sekian banyak manusia?

Adegan-adegan yang menampilkan warga sipil Somalia sangat menyentuh. Seorang wanita dan anak-anaknya terduduk di pojok rumahnya dalam roman ketakutan saat seorang serdadu Amerika masuk. Seorang anak lelaki kencur menangis hebat saat tembakannya yang diarahkan ke pasukan Amerika salah sasaran dan mengenai ayahnya sendiri. Seorang perempuan merenggut senapan dari pasangannya yang tewas dan menembaki para tentara asing sebelum akhirnya ia sendiri jatuh terkena peluru. Dengan cara penyampaian seperti itu, Black—yang dalam ajang Academy Awards tahun ini sudah berhasil meraih lima nominasi (sutradara, penyuntingan, sinematografi, tata suara, dan penyuntingan suara)—tak perlu lagi menggunakan kata-kata petuah tentang kengerian perang.

Sinematografer Slawomir Idziak punya andil besar dalam menciptakan suasana kelam. Penonton seperti bisa merasakan taburan debu dan pecahan batu saat helikopter Amerika jatuh. Idziak menghindari warna-warna cerah untuk penggambaran adegan tempur. Ia menampilkan gambar memburam secara bertahap seiring dengan malam tiba. Penyuntingan tangkas yang dilakukan Pietro Scalia membuat hasil kerja Idziak kian menggigit. Musik yang ditata Hans Zimmer ikut menambah getar, namun senandung sedih yang jadi lagu penutup terlalu mirip karyanya dalam film Gladiator, film terbaik Oscar tahun 2001 lalu yang juga disutradarai Scott. Setiap pemain dalam film ini mendapatkan porsi yang relatif berimbang. Josh Harnett, Ewan McGregor, Sam Shepard, ataupun Tom Sizemore bermain standar. Karakter yang mereka mainkan praktis statis karena film ini hanya menyorot 15 jam kehidupan serdadu Amerika di Somalia.

Tanpa paham konteks cerita, penonton akan menjumpai lubang besar saat menyimak Black Hawk Down. Yang juga patut disayangkan adalah saat Scott menghindari menampilkan gambar paling dramatis dari kejadian nyata hari itu, mayat Sersan Gary Gordon yang diseret sepanjang jalan Mogadishu dalam keadaan setengah telanjang. Scott mungkin tak ingin kenangan pahit tersebut kembali meneror (penonton Amerika). Tapi meninggalkan momen ini seperti menghilangkan ironi terbesar: prajurit Amerika yang datang dengan misi kemanusiaan—terlepas dari segala kepongahannya—harus menjumpai nasib mengenaskan di bumi kerontang Afrika. 

- Pandangan Dari Beberapa Pihak.

Pada tanggal 3 Oktober 1993, militer Amerika mengirimkan pasukan elitnya secara besar-besaran, hanya untuk memburu Pemimpin pejuang Islam Somalia, Muhammad Farah Aidid. Pasukan elit tersebut terdiri dari, Pasukan US Delta Force, Tentara Ranger, pararescuemen Angkatan Udara, unit tempur Angkatan Udara, pasukan khusus Navy SEAL, dan Resimen Operasi Khusus Penerbangan 160.

Militer Amerika dengan sombongnya memprediksi hanya akan membutuhkan waktu beberapa jam saja untuk mendapatkan Aidid. Tapi diluar dugaan, pertempuran justru memakan waktu hingga 2 hari, tanggal 3-4 Oktober.
Penyerangan militer Amerika terhadap pejuang Islam Somalia tadinya sesuai rencana, yang hanya memakan beberapa jam saja. Tetapi semua itu berubah, ketika dua helikopter canggih Black Hawk ditembak jatuh oleh roket RPG yang dilontarkan pejuang Islam Somalia.

Tersebar kabar, salah satu penembak adalah Zachariah al Tunisi, pejuang Islam Somalia, yang dikemudian hari bergabung dengan Al Qaeda, lalu beliau gugur syahid di Afghanistan pada November 2001.

Insiden tersebut mengakibatkan, 
  1. 18 tentara Amerika tewas, 
  2. 73 lainnya terluka dan,
  3. 1 kru Black Hawk ditawan. 
Sebagian tentara yang terluka terkepung di perkotaan dan bersembunyi dari kemarahan warga Mogadishu, Somalia.

Pada tanggal 24 April 1994, Boutros Ghali (Sekjen PBB di masa itu) mengumumkan kekalahan dan menyatakan bahwa Misi PBB sudah berakhir disana. Kekalahan itu diikuti oleh tentara Amerika yang kemudian menarik mundur pasukannya dari sana.

Misi Amerika di Somalia oleh banyak pengamat dipandang telah gagal. Beredarnya gambar dan foto jasad tentara Amerika yang tewas yang diseret-seret di jalanan Mogadishu telah membangkitkan kemarahan publik Amerika. Pemerintah kala itu akhirnya semakin tertekan.
Pearl Harbor
 PH
Film Pearl Harbor ini menceritakan tentang Rafe (Ben Affleck) dan Danny(Josh Hartnett), Mereka adalah dua anak kecil yang tumbuh di pedesaan Tennesse yang memiliki cita-cita menjadi pilot. Mereka merupakan sahabat yang sangat dekat. 18 Tahun kemudian, Rafe sudah menjadi pilot Korps Udara AS AD yang berpangkat Kapten. 


Eropa saat itu sedang dalam keadaan kacau, perang terjadi dimana-mana. Akan tetapi Amerika Serikat masih dalam keadaan aman. Rafe yang sangat ingin bertempur di udara mencalonkan diri menjadi sukarelawan pada Skuadron Rajawali Inggris. Rafe pergi ke Eropa meninggalkan pacarnya Evelyn Johnson (Kate Beckinsale) dan sahabat dari kecil yang pilot juga, Danny. Namun sayang, berita yang terdengar pesawat Rafe ditembak jatuh oleh musuh dan dianggap Rafe sudah tewas.

Evelyn dan Danny sangat terpukul mendengar kepergian Rafe. Mereka tak menyangka misi ke Eropanya menjadi kepergian untuk selamanya. Danny yang melihat Evelyn yang sangat terpukul mencoba menghiburnya. Seiring berjalannya waktu, mereka mulai jatuh cinta. Suatu hari di pantai, Evelyn dan Danny sedang berdua-duaan disana. Tak diduga mereka melihat Rafe masih hidup. Tak terima Evelyn di rebut oleh Danny, Rafe terlihat sangat marah. Persahabatan yang dipupuk dari kecil itu sekarang berubah menjadi permusuhan. Ketika perdebatan itu belum selesai, tiba-tiba armada Jepang datang dan menyerang Pearl Harbor.
American Sniper
poster - Copy
American Sniper menceritakan seorang penembak jitu bernama Chris Kyle (Bradley Cooper) yang menjadi kebanggaan negara selama pertempuran di Timur Tengah. Mulanya Kyle adalah seorang pria yang berprofesi sebagai koboi rodeo. Satu sifat dasar yang mendorong Kyle untuk tertarik bergabung dengan satuan prajurit SEAL Amerika adalah keinginannya untuk melindungi orang-orang yang disayanginya. Setelah kejadian 9/11 di New York, ia pun memutuskan bergabung dengan pelatihan militer dan kemudian ditugaskan ke Irak.
2
Kyle memiliki seorang kekasih bernama Taya Renae (Sienna Miller) yang kemudian dinikahinya sebelum ia pergi bertugas. Tentu saja selalu muncul kekhawatiran bagi sang isteri yang ditinggal bertugas perang, apalagi bila keduanya tak bertemu kembali. Kapanpun maut bisa menjemput Kyle yang berkutat dengan senapan di lengannya.
Namun Kyle cukup beruntung menjalani tugas pertamanya. Bahkan ia dinilai sangat baik menjalankan tugas sehingga dijuluki sebagai seorang legenda. Mengalami apa yang terjadi di medan perang bukannya membuat Kyle takut, malah ia ingin tetap berada disana melindungi rekan-rekannya. Ia merasa amat bertanggung jawab apabila timnya gagal menjalankan misi. Sementara itu isterinya menganggap Kyle terlalu terobsesi dengan profesinya dan tidak memperhatikan keluarganya sendiri.  Kyle berargumen bahwa yang dilakukannya bukan hanya demi keluarganya sendiri, melainkan demi keseluruhan orang-orang di negaranya.
3
Sebagai penembak jitu handal di medan perang, Kyle menjadi buronan terbesar para teroris sebagai musuhnya. Kyle jadi salah satu prajurit yang paling dicari bahkan kepalanya dijadikan sayembara dengan nilai $100.000.Rupanya Kyle juga punya musuh bebuyutan yang juga seorang penembak jitu  dari kelompok teroris, seorang mantan atlit penembak di ajang Olimpiade.
Drama dan Aksi Perang Yang Sangat ‘America’
Saat datang dengan tema perang, tentu yang diharapkan oleh penonton adalah ketegangan aksi tembak-menebak para prajurit perang. Selain itu biasanya film akan menyampaikan banyak pesan moral dari penderitaan peperangan, namun berbeda dengan American Sniper lebih memilih lingkup personal seorang Chris Kyle sebagai seorang penembak jitu dan juga seorang nasionalis. Kesan american-sentris sangat terasa kental dalam film yang disutradarai oleh Clint Eastwood ini.
TA3A5741.DNG
Sepertinya tim produksi mengarahkan plot yang menceritakan tentang tekanan psikis mendera seorang Chris Kyle, namun tetap tak ingin meninggalkan unsur action perang di dalamnya. Sehingga drama dialog dan aksi tembak-menembak di letakan dengan komposisi yang seimbang. Pengambilan gambar yang ciamik menjadi salah satu kunci sukses dari film. Clint Eastwood membawa nuansa sinematik yang terasa hidup dari sebuah medan perang tapi dengan pengambilan gambar yang stabil sehingga tak banyak detail yang hilang. Berbeda jika ia menerapkan gaya rekam pengejaran dan banyak close-up, yang menghilangkan banyak detail gambar di dalamnya. Hal ini terlebih karena banyak pengambilan gambar yang diambil dari sudut pandang sang sniper.Tone warna pada film mendukung set film perang di wilayah timur tengah serta penggambaran dari kerasnya medan pertempuran. Untuk efek sound, ledakan-ledakan tembakan terasa cukup natural dan begitu memicu adrenaline.
AMERICAN SNIPER
Para aktor maupun aktris dalam film tampak begitu mengerahkan emosi dan totalitas mereka. Hanya saja alur cerita membuatnya terkesan monoton dan kurang klimaks. Karakter Chris Kyle seolah tak memiliki kelemahan atau kesulitan dalam menjalankan tugasnya. Meski tak bisa dipungkiri bahwa film ini adalah adopsi dari buku berjudul  “American Sniper: The Autobiography of the Most Lethal Sniper in U.S. Military History,” yang ditulis sendiri oleh Chris Kyle. American Sniper cukup jelas untuk menampilkan sebuah karakter film perang di era yang modern.
Perlu ditandai bahwa film ini tentunya banyak mengandung adegan kekerasan yang cukup sadis, disertai pula dengan beberapa adegan sensual. Untuk dalam negeri, kita bisa mengkategorikan bahwa film ini sebuah suguhan dewasa meskipun rating film ini originalnya adalah untuk ‘Remaja.’
AMERICAN SNIPER
The Social Network
social-network-film_hlgh
“You’re not an asshole, you’re just trying so hard to be,” ujar seseorang pada Mark Zuckerberg
Produser Scott Rudin bukanlah orang bodoh. Menilik pengguna Facebook yang mencapai 500 juta orang, ia harus membuat film yang berkaitan erat dengan 500 juta orang tersebut dan tempat nongkrong mereka: Facebook.  David Fincher bertugas mengarahkan.
The Social Network berfokus pada Mark Zuckerberg, anak muda yang membuat Facebook pertama kali dari kamar asramanya di Harvard University. Dan karena Zuckerberg akhirnya menjadi miliarder termuda sepanjang sejarah, maka ia menjadi sangat terkenal. Pertalian Zuckerberg dan Facebook tak pelak menjadikan Rudin dan Fincher semakin bersemangat.
Ada dua ekspektasi penonton yang harus dipenuhi oleh film yang menceritakan kisah sosok tenar. Pertama, penonton ingin mengetahui kisah sosok tersebut dari perspektifnya yang paling personal. Zuckerberg harus digambarkan bukan sebagai penemu aplikasi Facebook dan pemimpin Facebook, Inc, melainkan sebagai manusia biasa yang berangkat dari rintangan-rintangan harian lalu menaklukkannya dengan brilian. Itulah mengapa tayangan infotainment laku keras! Sebab penonton ingin mengetahui bagaimana sosok seorang tenar ketika tidak sedang terwakili oleh media-artifisial. Infotainment akhirnya tampil dalam modus laporan berita meskipun tak ada jaminan bahwa laporan berita ini steril dari manipulasi. Film tentang orang tenar, harus menekan artifisialitasnya serendah mungkin.
Kedua, penonton ingin tahu sebanyak mungkin fakta tentang orang tenar tersebut. khususnya tentang keseharian ketika ia tengah menjadi “manusia biasa” dan insiden-insiden dramatis nan berpengaruh yang akhirnya membuat orang itu jadi “bintang”. Tentu semua orang tertarik menengarai fakta bahwa Justin Bieber memulai karir sebagai biduan Youtube, atau bahwa Klantink (finalis reality show Indonesia Mencari Bakat) dulunya adalah pengamen terminal di Surabaya. Coba bandingkan dengan cerita bahwa konon Mozart sudah menggelar konser tunggalnya di usia empat tahun, orang-orang hanya akan mencibir “Ah, itumah emang udah bakat”, tak ada unsur dramatis. Dalam hal ini Justin Bieber berpeluang menjadi lebih menarik ketimbang Mozart.
Kedua hal tersebut hanyalah semata harapan. Penonton tak mau tahu bagaimana caranya, seberapapun mahalnya, mereka harus mendapatkan apa yang mereka tunggu. Cara dan biaya biar saja pembuat film yang memikirkan. Dan pahit-manis pengalaman membuat Fincher mafhum bahwa ia harus memenuhi tuntutan-tuntutan itu.
Zuckerberg adalah orang jenius, sungguh bodoh bila Fincher menceritakan bahwa Zuckerberg berhasil karena dia seorang jenius-sejak-lahir. Kehidupannya harus digali dari sudut bahwa ia juga pernah dilabrak cewek, dan sakit hati itu membawanya pada penemuan penting pertamanya, FaceMash, yang adalah embrio facebook. FaceMash hanya dimaksudkan Zuckerberg untuk meluahkan sakit-hati-asmaranya. FilmThe Social Network berangkat dari premis-premis manusiawi semacam ini. Sebab selain mujarab selaku piranti bagi penonton untuk mengidentifikasi diri,  premis ini juga memenuhi tuntutan fundamental penonton.
Fincher berusaha mati-matian untuk merumuskan bahasa sinematik yang akan ia gunakan untuk memenuhi tuntutan kedua: Ia harus mampu bercerita banyak dalam durasi yang logis. The Social Networkakhirnya tampil sebagai film yang menggunakan banyak cutting, baik spasial maupun temporal. Bukan bergaya, tapi itu usaha agar penonton dapat menjumput informasi sebanyak-banyaknya.
Lantas secara cerita, tentang apa sebenarnya film The Social Network ini? Apakah ia film tentang bahasa pemrograman runyam yang akhirnya bisa membungkus dunia dengan jejaring pertemanan? Terkaan ini menguat sebab frase “The Social Network” sudah lumrah dipakai untuk mendefinisikan situs-situs semacam Facebook; frase yang sudah eksis sejak era keemasan Friendster dan MySpace. Apalagi bagi kita penonton Indonesia yang terbiasa dengan stereotip bahwa film tentang jejaring pertemanan pasti menyangkut penggunaan aplikasi secara prosedural, nanti tinggal dibumbui cerita. 
Menanggapi ini, Fincher balik lagi ke premis pertama, bahwa penonton tidak ingin melihat Zuckerberg tampil dengan facebook tertera besar-besar di jidatnya, melainkan Zuckerberg sebagia manusia biasa. The Social Network kemudian mengarahkan konflik pada pertikaian sosial yang harus dihadapi Zuckerberg demi proyeknya. Bagaimana ia bermasalah dengan hukum, ekonomi, pergaulan anak muda yang selumrahnya sedang ia lakoni, dan tentu saja asmara. Proyek Facebook mempertemukannya dengan banyak dilema: tuduhan mencuri ide orang, mengorbankan banyak waktu, sampai membuat persahabatannya dengan Eduardo Saverin (co-founder Facebook) menjadi terancam, Zuckerberg bahkan harus sampai pada semacam forum pengadilan. Frase “The Social Network” dalam film yang dibintangi Jesse Eisenberg ini tidak menghadirkan diri sebagai definisi Facebook semata, melainkan juga sebagai definisi bagi hidup dan profesi Zuckerberg sendiri.
Dalam “pengadilan” itu, Fincher dengan cermat menyulap tuntutan pendakwa sebagai pintu kilas balik untuk menceritakan kronologi karir Zuckerberg mulai dari FaceMash sampai Facebook menjadi tenar dengan jutaan pengguna.  Sehingga dalam satu tautan durasi, The Social Network bisa menceritakan dua hal secara bersamaan.