Tampilkan postingan dengan label Family Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Family Film. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Agustus 2016

Angry Birds The Movie
The Angry Birds Movie, Film The Angry Birds Movie (2016)
Film "The Angry Birds Movie" menceritakan tentang kehidupan sekelompok burung yang hidup di sebuah pulau, mereka yaitu Red (Jason Sudeikis), Chuck (Josh Gad) dan Bom (Danny McBride). Akan tetapi ada salah satu ekor burung yang mempunyai masalah dengan emosinya, burung tersebut yaitu Red.


Suatu hari ada sebuah kapal yang membawa segrombolan babi yang di pimpin oleh Leonard. Dengan kedatangan Leonard dan kawan kawannya tersebut membuat kehidupan Red bersama teman temannya mulai terusik, karena sekelompok babi tersebut sering mencuri telur terur mereka.



Setelah lama-kelamaan ulah babi-babi tersebut mulai mengelunjak, akhirnya Red bersama dengan Chuck, Matilda, Bomb dan yang lainnya mencoba untuk menyerang para babi jahat tersebut, demi keselamatan telur telur mereka.

Review Film The Angry Birds Movie (2016)



"The Angry Birds Movie" 2016 merupakan sebuah film yang di adaptasi dari sebuah game bernama "Angry Birds". Film ini ternyata berasal dari Finlandia, dan dalam pembuatan film ini Columbia Pictures tidak segan-segan mengeluarkan dana sekitar 80 Juta USD untuk membuat film ini jadi menarik di mata penonton.




Menariknya dalam film The Angry Birds Movie yaitu, karakternya sedikit perbeda dengan yang ada di dalam video gamenya, perbedaannya tersebut terletak pada kaki dan sayap, jika dalam video gamenya tidak ada, sementara di film Angry Birds Movie ini mereka mempunyainya.
Frozen
FROZN_014M_G_ENG-GB_70x100.indd
Menjelang penghujung akhir tahun 2013, salah satu tema yang banyak diangkat untuk menjadi film di akhir tahun adalah film bertema Natal atau musim dingin. Tidak terkecuali Disney yang menghadirkan film animasi terbarunya berjudul “Frozen” yang memiliki salah satu dari tema umum untuk film yang rilis di bulan Desember tersebut.
Disney memang sudah terkenal dengan berbagai film animasinya yang mengambil tema serta kisah dari dongeng klasik, tentunya dengan berbagai gubahan yang sesuai dengan tren serta tema saat ini. Sehingga beragam film Disney pun bisa dinikmati oleh berbagai kalangan tanpa harus merasa bosan karena adaptasi cerita klasik tersebut. Belajar dari kesuksesan tersebut, Disney pun menggarap film “Frozen” di mana kisah ini kembali mengadaptasi dongeng klasik lawas, yaitu “The Snow Queen” karangan Hans Christian Andersen.

Plot Utama

frozen-movie-review
Di sebuah kerajaan bernama Arendelle, terdapat dua orang putri kerajaan bernama Elsa dan Anna. Berbeda dengan saudarinya, Elsa memiliki kemampuan sihir untuk menciptakan salju dan es. Hal tersebut disembunyikan oleh kedua orang tuanya untuk menghindari ketakutan dari rakyat sampai Elsa mampu mengontrol kemampuan sihirnya tersebut. Isolasi tersebut akhirnya berakhir pada hari di mana Elsa dinobatkan menjadi Ratu Arendelle menggantikan kedua orang tuanya.
Sayangnya, hari penobatan tersebut harus diakhiri dengan bencana karena Elsa tidak mampu mengontrol kemampuan sihirnya tersebut dan melarikan diri dari kerajaan menuju Gunung Utara untuk mengasingkan diri. Bencana Arendelle tidak berhenti sampai di sana, karena tanpa pengetahuannya, Elsa telah menciptakan salju abadi di musim panas dan menutupi seluruh Arendelle.
frozen-disney-ana-olaf-kristoff-sven-570x294
Anna, adik dari Elsa, memutuskan untuk mencari sang kakak untuk menghentikan malapetaka salju abadi dan mengembalikan musim panas di Arendelle kembali. Perjalanannya, tentu saja, tidak akan mudah.



Zootopia
Review Film Zootopia
Disney sepertinya tidak kehabisan ide kreatif untuk membuat film-film berkualitas yang dikemas ke dalam cerita animasi sederhana, tetapi mengandung makna yang mendalam yang tersirat di dalam ceritanya. Dengan mengangkat salah satu cerita klasik Disney, dan membawa cerita kehidupan binatang—tepatnya memanusiakan binatang, maka hadirlah Zootopia yang rilis beberapa hari yang lalu.
Zootopia menceritakan tentang kehidupan hewan di mana leluhur mereka telah memecahkan masalah yang terdikotomi dikarenakan hukum alam; yaitu kesetaraan—tepatnya penyetaraan antara hewan pemangsa dan hewan yang dimangsa. Dengan kata lain, republik Zootopia adalah republik di mana rantai makanan tidak lagi berlaku bagi para hewan-hewan. Semuanya damai, aman, bahagia, dan sangat terdidik.
Konflik dalam film ini, selalu menjadi bumbu penyedap dalam cerita fiksi maupun fakta sejarah; yaitu konspirasi (lagi pula siapa yang tidak suka teori konspirasi? Semua orang suka konspirasi). Di mana dalam cerita, hewan pemangsa dituduh kembali kepada naluriah hewan pemangsa mereka—menjadi  liar dan memangsa—sehingga  muncul lah diskriminasi kepada hewan pemangsa dari hewan yang dimangsa.
Usut punya usut, ternyata yang membuat hewan karnivora ini menjadi liar bukanlah reaksi dari gen atau DNA mereka. Melainkan disebabkan karena tumbuhan (disebut: pelolong malam) dengan kandungan berbahaya yang membuat mereka yang terkena menjadi liar. Keliaran kaum karnivora ini dikarenakan sekretaris wali kota Zootopia ingin berkuasa dengan mengangkat derajat hewan herbivora. Nah, disinilah seekor rubah yang bernama Nick Wilde dan polisi kelinci yang bernama Judy Hopps, hadir untuk memecahkan permasalahan yang berlangsung.
Kesetaraan dan anti diskriminasi merupakan pesan utama dalam film ini. Dan yang sangat menginspirasi pada film ini, terletak kepada eksistensi Judy Hopps yang ingin mengubah pandangan para masyarakat zootopia, bahwa kita bisa membuat perbedaan tanpa adanya membeda-bedakan, sehingga berujung kepada perubahan.
Film ini ingin menyampaikan dimana perbedaan sudah bukan lagi masalah; seperti dimana tidak adalagi perbedaan antara kaum negro dengan kulit putih; perbedaan ras antara tionghoa dan pribumi (seperti zaman Orba); dimana tidak ada lagi yang berkelompok lalu menjatuhkan kelompok yang berbeda; dimana tidak adalagi yang namanya stereotipe kepada suatu ras ataupun kelompok manapun; dimana melalui perbedaan, harmonisasi selalu hadir menyertai.
Monster University
 

"If you’re not scary, what kind of a monster are you?"

Dibalik rasa bahagia dengan kembali hadirnya dua karakter monster yang telah menjadi bagian masa kecil bersama Woody & Buzz cs, timbul pula sebuah pertanyaan dari keputusan Pixar untuk menghidupkan kembali kesuksesan yang pernah mereka raih 12 tahun lalu. Sudah tertidur begitu lama, satu dekade lebih, apa yang ingin mereka sampaikan lewat Monsters University, apalagi dengan label prequel yang dibawa? Apakah mereka sudah kehabisan ide, mencoba mengulang kesuksesan Toy Story 3, atau sebatas pembuktian rasa penasaran dari kegagalan Cars 2? Ya, sometimes, legend doesn't need to be touched again, just leave them sleep forever.

Mundur sangat jauh ketika Michael "Mike" Wazowski masih berada di awal kehidupannya, dan melakukan tur studi ke Monsters University. Sejak saat itu hanya satu impian yang ingin ia capai, masuk ke MU, dan masuk ke jurusan yang dapat menjadi jalan masuk untuk meraih impiannya menjadi monster yang paling ditakuti, scaring. Namun semua tidak mudah, karena ketika telah 17 tahun dan berhasil masuk ke MU, Mike (Billy Crystal) harus berhadapan dengan aturan yang sangat ketat dari Dean Hardscrabble (Helen Mirren), kepala sekolah Monsters University, hingga penerapan persaingan sistem berkelompok.  

Pada akhirnya Mike dengan berat hati bergabung dengan sebuah kelompok “buangan” yang menamai diri mereka Oozma Kappa, agar dapat ikut dalam sebuah kompetisi yang menjadi sarana satu-satunya untuk mewujudkan mimpinya, serta menjadi pembuktian kepada Hardscrabble. Sayangnya ia telah ditinggal roommate barunya, Randall "Randy" Boggs (Steve Buscemi) yang telah menemukan impiannya untuk menjadi sosok keren dan terkenal. Semua semakin berat karena disisi lain Mike harus menerima sosok yang sudah menjengkelkan dirinya sejak awal, James P. "Sulley" Sullivan (John Goodman), untuk menjadi anggota tim. Dengan penuh ketidak cocokan mereka bersatu untuk meraih mimpi mereka.


Pertanyaan tadi sebenarnya langsung memberikan penontonnya sebuah gambaran umum dari tujuan utama mereka menghadirkan kembali Wazowski dan Sullivan, salah satu kombinasi karakter animasi yang memikat dengan sebuah ciri khas yang begitu kuat. Ini seperti upaya dari Pixar untuk menarik kembali penonton yang telah menjadi fans dari film ini kedalam kisah awal dari para karakter, sebuah proses penjelasan dari perjuangan hidup Wazowski dan Sullivan, serta mencoba menghibur dengan cerita yang lebih sederhana dan tema yang mungkin sangat tepat, sebuah coming-of-age, yang membalut proses studi karakter.   

Apakah diawali dengan memuaskan? Ya. Daniel Gerson, Robert L. Baird, & Dan Scanlon mengambil keputusan yang cukup tepat untuk memulai petualangan Wazowski dan Sullivan, terlebih dengan menjadikan mereka berdua sebagai musuh yang jatuh dalam problema yang sama, dan terpaksa melepaskan rasa ego untuk berjuang bersama. Sebagai penonton anda akan merasakan bagaimana sebenarnya keintiman yang mereka miliki sejak masih muda, terlebih dengan karakter yang dikembangkan oleh Dan Scanlon dengan rapi dan kuat namun tetap ringan dan cukup menghibur dengan berbagai sarkasme, meskipun segmented dan mungkin terasa berat bagi penonton muda.

Hal yang sama terjadi di bagian visual, sebuah arena bermain dimana Pixar telah dilabeli sebagai inovator. Apa yang anda harapkan dari kombinasi Disney dan Pixar masih ada, penuh warna yang mewah dan memanjakan mata, dan yang terpenting berhasil menghadirkan penggambaran dari kehidupan kampus yang imajinatif, terlebih dengan bantuan score dari Randy Newman yang mengagumkan. Kondisi yang serius kala belajar, serta sifat bebas dan sedikit nakal ketika berada di luar jam belajar, dikemas dengan tepat dan efektif, tapi tidak pernah gagal dalam menyampaikan pesan positif yang mereka usung lewat sisi positif dan negatif yang karakter alami, ya meskipun (lagi) kinerja elemen ini akan terasa lebih cocok untuk para remaja ketimbang anak kecil.


Lantas apa yang kurang dari Monsters University? Semua dimulai ketika pondasi telah terbangun, bersumber dari keputusan yang para penulis ambil sejak awal. Penempatan dua karakter utama pada kondisi berlawanan dalam sebuah misi yang kuat berdampak pada timbulnya sebuah dinding pembatas yang sangat tinggi pada ruang cerita. Hasilnya, kisah yang mereka hadirkan justru terlihat mulai goyah dan bingung karena opsi yang mereka miliki untuk mengembangkan cerita yang begitu minim. Terdapat beberapa kehadiran scene yang sebenarnya tidak membutuhkan durasi yang besar, terasa kurang penting dan menarik dengan joke-joke yang mentah. Bahkan mereka tampak berupaya untuk memamerkan kualitas visual yang mereka punya dibagian itu. Yap, cerita yang predictable menjadi penyebabnya.

Namun bukankah cerita yang predictable merupakan hal lumrah dari sebuah film animasi? Memang benar, asalkan tidak memberikan dampak yang buruk pada enjoyment cerita, hal yang sayangnya dialami olehMonsters University. Ini justru perlahan mulai tampak seperti sebuah kasus yang serius dengan upaya menyampaikan pesan dan sisi emosional karakter. Tidak tampak lagi para monster yang riang dan gembira, bermain serius dan gila dengan energi yang tinggi, apalagi ketika berbagai joke yang ia miliki mulai stuck dan boring. Benar, perlahan tapi pasti ini mulai membosankan, apalagi ketika ia berakhir tidak ada pesan kuat yang hadir, tujuan utama diawal seperti hilang begitu saja, dan 107 menit penuh visual menyenangkan ini terasa seperti perjalanan yang kurang begitu penting.

Yang mengejutkan hadir dari pengisi suara. Sudah satu dekade lebih, namun Billy Crystal dan John Goodmanmasih mampu menciptakan harmoni yang sangat kuat pada karakter Wazowski dan Sullivan. Chemistry yang ditampilkan apik, rasa suka dan duka tersampaikan dengan baik. Peter Sohn, Joel Murray, Sean Hayes, Dave Foley, dan Charlie Day tidak dominan namun mampu menjadikan karakter mereka sebagai sisi lemah, walaupun joke dari mereka mayoritas tidak berhasil. Namun ketika anda bertanya siapa yang mampu menjadikan anda mengenal suara dari karakternya yang baru walaupun dengan memejamkan mata, Helen Mirren adalah jawabannya.


Overall, Monsters University adalah film yang cukup memuaskan. Tampil memikat dibagian awal, MU harus menerima pil pahit yang menjadikannya terjebak dan tidak berkembang dalam konteks cerita. Tidak ada keceriaan dan joke yang bebas dan lepas ciri khas Wazowski cs, korban dari keputusan MU yang mencoba tampil sedikit lebih serius. Pamer sisi teknis sukses, visual mewah dan memukau. Namun jika berkombinasi dengan cerita, MU adalah sebuah paket nonsense yang menjadikannya sebagai disposable movie.

Despicable Me 2
Hasil gambar untuk review despicable me 2 indo
Siapa yang merindukan minions, makhluk kuning menggemaskan yang sering melakukan aksi konyol itu? Yes, Gru dan tiga anak angkatnya kembali membawa serombonganminions, anak buahnya, dalam sekuel film Despicable Me 2!
Kali ini, sang mantan penjahat direkrut Liga Antipenjahat untuk membantu menangkap penjahat lainnya. Bersama dengan partnernya yang cantik dan pintar bela diri, Lucy Wilde, Gru harus menyelidiki sebuah mal demi mengungkapkan rahasia penjahat legendaris, El Macho. Tentunya seluruh aksi heroik Gru diwarnai dengan berbagai tragedi lucu akibat dari gangguan anak-anaknya, kekonyolan anak buahnya, maupun sikap ceroboh Gru sendiri.
Yang menjadi pusat perhatian dari film ini adalah banyaknya screen time bagi minionsdibanding dengan film pertamanya dulu. Sang penulis, Ken Daurio dan Cico Paul memang sengaja menaruh peran lebih banyak untuk para minions karena besarnya minat pasar terhadap mereka. Jadi, dari satu setengah jam durasi keseluruhan film, hampir setengahnya akan menampilkan aksi minions yang mengocok perut. Para minionsakan lebih aktif dan cerewet di film ini dengan bahasa mereka yang disebut Minionese.Dengan suara cempreng mereka, cukup mendengarnya saja—tanpa harus mengerti—pasti bikin Anda tertawa!