Tampilkan postingan dengan label Drama Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Drama Film. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Agustus 2016

Dawn of The Planet of The Apes

"Apes do not want war!"

Dawn of the Planet of the Apes menjadi bukti terbaru bagaimana sebuah film dengan status blockbuster yang hadir di periode summertime tetap mampu atau dapat memberikan hiburan yang menyenangkan tanpa harus secara total mengesampingkan substance demi style, tanpa perlu mengorbankan dirinya untuk tampil kelewat “bodoh” agar dapat menyenangkan penontonnya.  Tidak perlu penjelasan panjang lebar di paragraf pembuka ini, it’s surely this year one of the best so far. Welcome to “modern” blockbuster era btw. Dawn of the Planet of the Apes, a very good humanity message from simple friction between humans and speaking monkeys. Engaging.

Virus yang dicanangkan oleh boss Will (James Franco) itu ternyata benar-benar terwujud, peradaban manusia kemudian rusak akibat virus ALZ-113 yang juga membawa dampak buruk yang jauh lebih besar. Kini kekuasaan manusia mulai digantikan oleh para Apes yang di kota San Fransisco dibawah komando simpanse karismatik, Caesar (Andy Serkis), telah memperkuat habitat dan juga wilayah kekuasaan mereka di Muir Woods, lokasi yang celakanya juga menjadi tempat dimana bendungan yang dapat menjadi sumber daya bagi jaringan listrik seluruh kota berada. 

Hal tersebut yang menjadi kendala bagi Malcolm (Jason Clarke), yang bersama Ellie (Keri Russell), Alexander (Kodi Smit-McPhee) serta beberapa rekan lainnya ditugaskan oleh pria bernama Dreyfus (Gary Oldman) untuk masuk kedalam hutan dan kemudian mengaktifkan kembali bendungan tersebut. Caesar, Koba (Toby Kebbell), dan beberapa sosok penting kawanan Apes lainnya pada dasarnya juga ingin menjaga perdamaian, namun sayangnya hadirnya faksi lain dengan tujuan yang berbeda membawa cobaan bagi komitmen terhadap perdamaian yang mereka ciptakan sebelumnya itu. 

Dawn of the Planet of the Apes adalah film bunglon, ia punya berbagai warna cerita yang berhasil ditampikan dengan baik dan seimbang di dalam satu kemasan, dan kombinasi diantara mereka terasa variatif serta menyegarkan. Ini pada dasarnya masih merupakan sebuah film tentang perang dimana cerita yang ditulis olehMark Bomback, Rick Jaffa, dan Amanda Silver tetap mengacu pada tujuan utama karakter untuk menyelamatkan dunia, tapi yang menarik adalah ia tidak serta merta dengan frontal menunjukkan misinya tersebut dengan berbagai ledakan dan aksi heroik yang menyesakkan layar. Matt Reeves menjadikan film ini lebih kepada permainan perasaan bagi para penontonnya, bercerita tentang kehancuran tanpa harus menghancurkan sejenak kerja otak dari para penontonnya.

Ini yang terasa berani karena dengan budget yang terhitung besar sejak awal hingga menjelang showdown di bagian akhir yang kelak akan terasa seperti sebuah grandprize itu kesan sederhana tidak pernah lepas dariDawn of the Planet of the Apes. Tanpa rasa takut penonton lebih sering di buat untuk menunggu disini tapi dalam situasi yang positif, tidak membawa mereka kedalam petualangan yang bergerak cepat dengan oktan tinggi, secara perlahan dan tidak terburu-buru membangun kembali karakter disertai masalah yang mereka punya (karakter manusia berkembang dengan baik disini), memberikan kedalaman di dua bagian tadi sehingga ketika ia mulai masuk kedalam bagian yang bertugas untuk mengeksploitasi adrenalin para penonton akan memperoleh keseimbangan yang menyenangkan. 


Dawn of the Planet of the Apes ternyata ikut menerapkan apa yang pada tahun ini sedang marak dilakukan oleh film-film blockbuster, menyandingkan style dan substance dengan manis. Tetap ada elemen otot tapi juga ada otak yang bermain disini, pesan terkait coexist itu tidak hanya digambarkan dengan hadirnya masalah, kehancuran disana-sini, dan kemenangan, tapi telah di set untuk dibangun agar dapat menyerap kedalam emosi dan empati penontonnya, hal yang pada akhirnya turut menjadikan pesan miliknya semakin kuat. Anda bahkan akan dibuat bingung, siapa yang harus didukung karena tercipta hubungan yang menarik serta kepedulian yang sama besar pada dua sisi perjuangan yang secara cerdas di perlakukan dengan sangat bijaksana oleh Matt Reeves itu.

Tapi tenang, Dawn of the Planet of the Apes tidak serumit yang anda bayangkan setelah membaca bagian di atas tadi. Memang tidak ada ledakan penuh kesibukan skala super besar, cenderung tenang malah, tapi penonton tetap akan memperoleh pengalaman sinematik yang mengesankan disini, sebuah seni CGI yang sangat rinci sehingga menjadikan karakter terasa sangat nyata. Ya, sangat nyata, bahkan ini juga berpotensi sedikit mengganggu mereka yang terlibat terlalu dalam dan intim pada cerita, karakter yang believeable serta relationship yang kuat dibalik teknik bercerita yang terkesan sederhana itu menyebabkan masalah yang bertumpu pada persoalan moral tadi tidak pernah berhenti memanfaatkan script kuat yang menopangnya untuk terus bermain-main di layar dan juga pikiran penonton.


Apakah tidak ada nilai minus? Ada, Dawn of the Planet of the Apes adalah film segmented. Tidak ekstrim, tapi mereka yang tidak suka dengan film yang menuntut kesabaran dan investasi sambil menantikan datangnya babak akhir, ini akan terasa membosankan. Apalagi dinamika yang ia punya juga bukan tipe rollercoaster, lebih kepada tight dalam level stabil sejak awal hingga akhir, berpotensi menjemukan meskipun tetap ditemani dengan visual menarik, berisikan realisme pada kebencian, konfrontasi, ketakutan, ketegangan, kegembiraan, hingga drama yang manis, intim namun tetap intens dengan keseimbangan yang pas pada bagian besar dan bagian kecil cerita yang oleh Matt Reeves terus dijaga untuk tidak melewati batas sehingga tidak menimbulkan kesan yang berlebihan.

Dua jempol tentu layak diberikan pada kinerja tim visual efek, tapi tanpa kinerja yang baik dari Andy Serkisserta pemeran Apes lainnya, Dawn of the Planet of the Apes mungkin tidak akan sekuat ini. Para Apes yang memegang kendali utama di film ini berhasil menyajikan sebuah kehidupan dan gejolak yang charming dan manis, menjadikan karakter mereka berdiri sejajar dengan karakter manusia. Apakah akting pada motion capture dapat berpartisipasi di Oscar? Dan disisi lainnya film ini juga berhasil memperbaiki hal minus pada karakter manusia yang dimiliki oleh Rise of the Planet of the Apes, berkembang tapi dalam kadar yang pas dimana Gary Oldman menjadi scene stealer.



Overall, Dawn of the Planet of the Apes adalah film yang memuaskan. Dimulai dan diakhiri dengan sepasang mata yang konstan menatap tajam kearah penontonnya, Dawn of the Planet of the Apes bukan hanya berhasil menjalankan tugasnya sebagai film blockbuster dengan sajian visual yang memuaskan tapi disisi lain ia juga mampu bercerita dengan sama baiknya.
Merantau
Hasil gambar untuk merantau
Dalam tradisi Minangkabau, setiap anak laki-laki suatu hari akan pergi meninggalkan tanah kelahiran mereka dan berjalan mencari pengalaman hidup. Pengalaman hidup yang akan membuatnya menjadi lelaki sejati.
Sepenggal kalimat pembuka dari Merantau, mengantarkan kita ke tanah Minangkabau, Sumatera Barat. Di tempat inilah seorang pemuda bernama Yuda (Iko Uwais) tinggal bersama Ibu dan Kakaknya. Tradisi mengharuskan pemuda yang sehari-hari bekerja di ladang milik keluarga ini dan berlatih silat, untuk merantau dan meninggalkan tempat dimana dia tumbuh. Berbekal ilmu beladiri “Silat Harimau” yang sangat dikuasainya serta doa restu dari Ibu dan Kakaknya, Yuda memulai langkahnya untuk menaklukan kota Jakarta.
Setibanya di kota besar, kenyataan berkata lain. Apa yang dibayangkan Yuda sebelum dia menginjakkan kakinya di ibukota, ternyata jauh berbeda dengan apa yang dia lihat dan rasakan. Setelah menemukan alamat yang ada di catatannya sudah tidak berbentuk rumah dan tidak ada seorangpun yang bisa dia hubungi, Yuda harus merelakan tidur di tempat yang tidak layak. Hari berikutnya, keberuntungan belum berpihak kepadanya. Mimpinya untuk mempunyai tempat melatih silat sendiri tampaknya harus dia simpan dulu. Satu masalah belum selesai, Yuda malah bertemu dengan masalah baru. Dia harus mengejar anak kecil yang mengambil dompetnya. Anak kecil yang kelak diketahui bernama Adit inilah yang membawa “Sang Jagoan” untuk memulai aksi kecilnya.
Yuda dan Guru
Yuda berusaha menolong seorang perempuan bernama Astri yang ternyata adalah kakak dari Adit yang sempat dikejarnya. Mengeluarkan sedikit keahlian silatnya, Yuda berhasil memberi pelajaran kecil pada Johni, orang yang berlaku kasar pada Astri. Namun pertolongan spontan Yuda tampaknya tidak diterima oleh perempuan yang baru saja ditolongnya ini. Astri malah marah karena dia berpikir kalau “sang pahlawan kesiangan”-nya itu sudah membuatnya kehilangan pekerjaan. Dari pertemuan tak manis inilah, Yuda akan memulai petualangan barunya di sisi hitam kota Jakarta. Berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran dan ucapan ibu tercinta di kampung halaman yang selalu diingatnya, nampaknya kejahatan  akan bertemu lawan tandingnya kali ini. Lawannya itu bernama Yuda.
Apa yang gw saksikan dari Merantau selama 2 jam lebih adalah sebuah perjalanan menarik dari film Indonesia. Tentu saja, ini adalah film yang gw tunggu-tunggu untuk segera ditonton karena menawarkan sesuatu yang jelas berbeda. Maka pantaslah kalau gw memilih film yang mengeskplorasi keindahan alam Indonesia dan seni beladiri asli dari bangsa kita ini untuk sekali lagi jadi alasan gw pergi ke bioskop menonton film Indonesia.
Yuda dan Eric
Ditengah kejenuhan film-film tidak bermutu dan tidak berkualitas yang biasanya membawa tema horor dan komedi “dewasa”. Merantau hadir dengan mengusung genre action, kerinduan dan dahaga gw sebagai penikmat film berisi baku hantam dibayar sudah oleh film ini. Gw yang sudah lupa kapan terakhir menonton film action Indonesia, salut dan memberikan nilai  plus dengan film yang berani berjalan di sisi berbeda dengan modal seni beladiri pencak silat ini. Lalu apa yang sebenarnya menarik dari film ini? Kekuatan apa yang dipunyai film ini? adakah kekecewaan dan kekurangan dari film ini?
Film ini memang punya elemen-elemen pendukung yang bisa membuat film ini menarik untuk ditonton dari awal sampai ending. Dari segi action sudah jelas itulah modal terkuat dan menjual dari film ini, gw berdecak kagum dengan variasi perkelahian yang ditampilkan Iko Uwais yang berperan sebagai Yuda. Pencak Silat yang dipertontonkan sungguh luar biasa, memanjakan mata ini dengan aksi-aksi Yuda untuk bertahan, mengelak, dan menyerang musuh-musuhnya. Gerakan-gerakannya yang terkadang tidak biasa, keluwesan dan spontanitas Yuda dalam beraksi di percantik juga dengan angel kamera yang ciamik. Gw emang bukan ahli dalam silat dan tehnik mengambil gambar, tapi sesuai dengan apa yang gw lihat, silat di film ini betul-betul indah. Semakin bangga gw dengan pencak silat.
Yuda in Action
Sekilas gw sebut soal “ngambil gambar” sebelumnya. Yup!! pengambilan gambar di film ini juga bisa dikatakan baik dalam menangkap setiap adegan demi adegan perkelahian dan pergerakan Yuda yang notabennya penuh kejutan. Film ini juga banyak disuguhkan aksi-aksi seru yang kreatif, kadang diselipkan juga komedi yang menurut gw lumayan lucu.
Kelebihan film ini belom selesai, gw paling suka faktor pendukung yang satu ini. Bag-Big-Bug!!! Praaaaang!!! Memang seperti inilah seharusnya film action, Sound Effectnya di film ini benar-benar dasyat. Suara-suara pukulan kadang bikin gw merasa terpukul juga. Kaca pecah, bantingan kursi, pukulan mengenai tulang, jadi semakin nyata aja adegan perkelahiannya.
Sisi akting para pemainnya bisa dibilang lumayan, yang paling menonjol memang Iko Uwais. Selain pandai bermain silat disini, Si Jagoan di film ini  juga bisa mengimbanginya dengan akting yang tidak kaku. Malah menurut gw dia bisa memerankan tokoh Yuda dengan baik. Christine Hakim, walau perannya sedikit, tapi jempolan deh buat peran Ibu yang ditinggal pergi anaknya. Sebagian besar pemainnya sangat mendukung, memang tidak istimewa dalam berakting tapi yang jelas cukup bisa membawakan perannya dengan baik.
Yuda
Nah lho!! Gw malah terganggu dengan akting Astri, entahlah peran dia sok kasar dan tidak tahu terima kasih terasa aneh di film ini. Jujur cewek ini seharusnya jadi peran tidak penting alias pemanis aja, tapi kenyataannya hehehe malah sebaliknya. Asli gw nga dapet “feel” sedih ketika dia beradu akting dengan adiknya. Feel itu malah gw dapetin ketika The Last Battle, tapi justru bukan dari si Astri tapi dari Mister Boss.
Film ini memang tidak sesempurna apa yang dibayangkan. Durasi yang lama mengakibatkan tensi yang seharusnya tinggi oleh faktor action jadi turun naik. Ketika kita disuguhkan perkelahian yang seru, seketika itu juga adegan berpindah menuju drama-nya film ini. Adegan yang di-dramatisir untuk membuat penonton tersentuh memang sah-sah saja, tapi penempatannya kadang mengganggu. Lagi-lagi faktor Astri, mencoreng drama di film ini dan mungkin keseluruhan film. Satu sisi gw menyukai drama yang ingin disisipkan sang sutradara, gw bukan orang yang anti-drama di film action. Gw akan nikmatin drama itu sebagai sebuah hiburan tambahan. Tapi jelas kenikmatan gw sedikit buyar dengan tokoh “gadis yang harus ditolong” ini. Untungnya masih ada adegan-adegan menyentuh lain yang bisa gw nikmatin. Jadi drama di film ini sebenarnya bisa saja dibuang hehehehe. Semoga versi 106 menit untuk rilis di internasional bisa memperbaiki kekurangan yang ada.
Yuda in Action
Secara keseluruhan, Merantau adalah film yang patut ditonton. Cerita yang ringan dan tidak berbelit-belit yang memang diperuntukan untuk hiburan jadi alasan tepat untuk menyaksikan film ini
The Revenant
Kata 'revenant' diartikan sebagai orang yang datang kembali setelah sekian lama menghilang atau dianggap mati. Kata ini kemudian dipakai oleh pengarang Michael Punke untuk novelnya di tahun 2002, The Revenant. Novel ini terinspirasi dari kejadian nyata di pedalaman Amerika Utara abad ke-19, ketika Hugh Glass yang terluka parah akibat diserang beruang ditelantarkan oleh rekan-rekannya, lalu dalam keadaan tersebut ia berhasil melakukan perjalanan pulang ratusan kilometer sendirian.


Cerita dasar yang memang sangat menarik itu kemudian disulap jadi sebuah film bertema survival oleh sineas asal Meksiko, Alejandro González Iñárritu. Dalam credit-nya, versi film The Revenant diadaptasi sebagian dari novel karya Punke. Dengan klaim demikian, boleh dikatakan González Iñárritu punya kebebasan dalam mengembangkan kisah ini sesuai visinya. Kisah Hugh Glass dipindahkan dari musim panas ke musim dingin yang lebih menantang—dan film ini pun jadi sebuah eksperimen syuting sepenuhnya di lokasi pegunungan bersalju asli di Kanada dan Argentina.



Film The Revenant masih mengikuti garis besar cerita dari kisah aslinya, namun ditambahkan dengan berbagai sentuhan yang membuat kisahnya lebih menyoroti pergulatan batin tokohnya. Hugh Glass (Leonardo DiCaprio) tergabung dalam regu pemburu bulu hewan pimpinan Kapten Andrew Henry (Domhnall Gleeson) di pedalaman hutan Amerika. Hugh jadi anggota andalan dengan pengetahuan navigasi dan persenjataan yang kaya.



Malang bagi Hugh, ketika ia masuk ke sebuah hutan untuk berburu, ia diserang oleh seekor induk beruang grizzly. Serangan itu membuat Hugh sekarat, sehingga regu seperjalanannya tak sanggup untuk terus membawanya. Maka, rekannya sesama pemburu, John Fitzgerald (Tom Hardy) dan Bridger (Will Poulter) ditugaskan sang kapten untuk menjaga Hugh, dan menguburkannya dengan layak bila saatnya telah tiba. Namun, kedua orang tersebut malah mangkir dari tugas dan meninggalkan Hugh sendirian. Menolak untuk mati, Hugh bangkit dalam keadaan dingin dan sekarat, melintasi medan bersalju yang ganas menuju markasnya.



Plot film ini sebenarnya sesederhana itu, tidak ada yang bisa dikatakan istimewa karena arah dan tujuan sang tokoh sudah jelas sejak bagian awal. Namun, apa yang dilakukan oleh González Iñárritu bukan hanya memperberat perjuangan Hugh di musim salju menusuk, tetapi juga memperdalam motivasi Hugh dan tokoh-tokoh lain dalam tindakannya. Pada bagian awal, ditunjukkan jalan pemikiran yang bertolak belakang antara Hugh dan John yang memunculkan benih dengki, apalagi Kapten Henry lebih mengandalkan Hugh untuk urusan navigasi. Sehingga, saat harus menjaga Hugh yang sekarat, dorongan John untuk menelantarkannya jadi lebih beralasan.



Demikian pula dengan Hugh, yang mengerahkan segala tenaga untuk pulang, bukan cuma karena naluri dasar untuk sintas dan dendam pada orang yang berbuat jahat padanya. Ia diceritakan punya masa lalu yang cukup kelam, harus kehilangan istrinya yang berasal dari suku Indian akibat sebuah serangan bersenjata, dan akhirnya sekarang ia selalu bersama putra remajanya, Hawk (Forrest Goodluck) ke mana pun ia pergi. Ketika satu-satunya anak yang disayanginya itu juga direnggut dari dirinya, Hugh justru makin terdorong untuk menuntaskan dendamnya. Motivasi ini seakan paralel dengan induk beruang yang menyerang Hugh karena ia menodongkan senjata kepada anak-anak beruang.



KONTEKS ZAMAN



Dalam durasi dua jam 30 menit, sebagian besar film ini berisi perjalanan Hugh dalam segala kesusahannya—ditambah adegan pertempuran dan baku hantam. Upaya Hugh bertahan hidup juga digambarkan cukup detail, mulai dari caranya merangkak hingga berdiri tegak dalam keadaan terluka, mencari makanan dari alam sekitarnya, hingga membuat tempat perlindungan hangat agar bisa bertahan dari badai dingin di waktu malam. Tak hanya itu, ia juga harus menghindar dari regu-regu bersenjata yang tidak ia kenal, baik dari suku Indian maupun kaum pendatang seperti dirinya.



Dengan adegan-adegan yang intens serta penataan visual yang dinamis dan presisi dalam memanfaatkan pemandangan alam, perjuangan Hugh dalam The Revenant menjadi sebuah tontonan yang membelalak mata sekaligus membuat nyeri. Beberapa adegan yang violent ditampilkan efektif dan realistis—termasuk adegan Hugh diserang beruang yang disorot cukup panjang, didukung pula dengan akting para pemain yang tak sekalipun kendor. Film ini pun sukses jadi sajian spektakuler dengan kelengkapan sinematik yang maksimal.




Hanya saja, beberapa bagian kisah film ini seperti kurang utuh, entah disengaja atau tidak. Durasi yang sangat panjang itu rupanya tidak dimanfaatkan untuk memberi gambaran lebih banyak tentang latar belakang tokoh-tokohnya, ataupun tentang kompleksitas hubungan antara warga kulit putih Amerika, Prancis, dan suku penduduk asli saat itu. Hal ini hanya diselipkan sekilas saja dalam segelintir gambar flashback dan dialog. 



Sebenarnya terlihat ada upaya dari film ini memberi konteks sosial dan budaya pada zaman itu lewat kilasan gambar dan beberapa titik yang dilewati Hugh, mungkin dengan harapan penonton sudah tahu atau nanti akan cari tahu sendiri selengkapnya. Walau niat itu baik, permasalahannya mungkin tak semua penonton bisa menangkapnya dengan penjelasan seminim itu. Kalaupun alasannya mempersingkat waktu dan laju cerita, kenapa tak diterapkan pada keseluruhan film dengan, misalnya, mempersingkat durasi perjalanan Hugh di layar?



Meski begitu, sulit untuk tidak mengagumi The Revenant sebagai sebuah pencapaian bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya. Plot yang sederhana tetap punya ketebalan makna lewat adegan-adegan yang memberi efek emosional, akting tak banyak bicara dan kerap tertutup kostum dan make-up tetap sanggup dibawakan dengan depth lewat gestur dan sorotan mata, hingga gambar-gambar sangat indah yang ditangkap tanpa pencahayaan buatan. Semua itu seolah jadi kompensasi yang sangat pantas, membuat durasi panjang dan lajunya yang lambat bisa dimaafkan.
The Raid 2:Berandal
Poster utama film The Raid
Gareth Evans selaku sutradara benar-benar menuntaskan janjinya menciptakan film aksi dengan konflik serta drama yang kelam dalam film ini. Itu terbukti, dibanding The Raid 1 yang 'hanya' menampilkan serangan polisi elite ke sarang gerbong narkoba, The Raid 2 menampilkan lebih dari itu. Pertarungan besar di penjara, intrik kotor para politisi dan mafia sadis, perebutan kekuasaan ayah-anak, kejar-kejaran mobil yang dahsyat, sampai adegan seorang cewek cantik membunuh sekelompok orang dalam kereta dengan merobek tubuh lawannya dengan dua biji palu. Brutal!

Gareth membuka cerita dengan kelam menggambarkan lanjutan hubungan Rama-Indra, adik-kakak yang dipisahkan ideologi, setelah kejadian akhir pada The Raid 1. Sebuah adegan yg tampak berhasil membuat penonton memekik tertahan dengan muncratan darah yang 'untungnya' lolos dari hadangan sensor. Juga dengan konflik dingin ayah anak mafia yang berendus pada ambisi besar Uco (Arifin Putra) yang sangat bernafsu mengambil alih kekuasaan ayahnya, Bangun (Tio Pakusadewo) untuk menguasai Jakarta. Lalu ada sosok Bejo (Alex Abbad) gangster muda yang tenang, cerdas, dan licik, yang pada akhirnya adalah kunci dalam cerita ini.

Semuanya mampu diramu dengan baik oleh Gareth dalam dongengnya kali ini. Gareth tampak sabar mengurai benang kusut yang disebarnya di awal sketsa dan membuat penonton berkali-kali bilang "wah ternyata..." pada setiap stage alurnya.

Namun semua tak akan berjalan baik jika tak ada sokongan kamera yang menawan dari duo DOP film ini. Koreografi yang disiapkan 3 tahun lebih betul-betul ganas dalam rekaman kamera film ini. Duel di penjara, di kereta, sampai pertarungan kampret Iko vs Cecep Arif Rahman itu betyl-betul bikin gw terperangah. Namun yang paling fenomenal adalah adegan kebut-kebutan di jalan, yang ngehancurin satu halte busway, hancur beneran, sumpah! Gw udah liat video Behid The Scene-nya ternyata betul-betul pengambilan kamera untuk adegan ini direncanakan dengan sangat matang. Bahkan syutingnya aja lebih dari sebulan, padahal adegan di filmnya mungkin cuman sekitar 15 menit.

Score yang mengaum di sepanjang film juga semakin menambah kelam film ini, ada bercokol scoring musik film Tron : Legacy di dalamnya yang sudah jadi ajian pamungkas Gareth untuk memunculkan aura megah dalam film berbudet 60 miliyar ini.

Sebagai film aksi dunia terbaik sepanjang masa, The Raid 2 tentu gak mau kalah sama prekuelnya. Koreografi yang dirancang khusus oleh Iko Uwais dan Yayan Ruhian ini jauh lebih banyak dibanding The Raid Redemption. Jauh lebih ganas? pasti. Jika di The Raid 1 kita menilai adegan paling sadis adalah ketika Rama membunuh Mat Dog menggunakan pecahan bohlam, maka di sini kita akan merinding melihat Julie Estele merobek muka musuhnya menggunakan ujung lancip belakang kepala palu. Kita juga melihat adegan koreogrefi pertempuran keren di penjara antara ratusan narapidana dan sipir yang beradu nyali di atas lumpur tebal dan luas. Gw sendiri gak bisa ngebayangin gimana gilanya si Iko ngebikin koreo perkelahian ratusan orang sekaligus itu. Dan tentu saja adegan fighting terbaik ada dua menurut gw, Iko melawan Julie Estelle & Cowok bersenjata pemukul basebaal (entahlah gw lupa namanya), serta pertarungan Iko vs Cecep Arif Rahman yang kampret bikin deg-degan itu. Gw yakin kalau Jackie Chan nonton adegan laga yg mencengangkan di film ini ia mungkin akan ngerasa minder. Bahkan para penggiat film Hollywood menyatakan bahwa gak akan ada yang bisa menandingi bahkan menyamai ke"kampretan" koreografi laga silat asli Indonesia milik The Raid 2 ini. Gw sepakat, adegan laganya bener2 bangs*t gila!!!! Film Jacky Chan mah gak ada apa-apanya.

Untuk departemen akting, Iko mungkin beberapa tingkat lebih berkembang dibanding The Raid Redemption atau Man of Thai Chi. Jika di 2 film tersebut ia jarang mendapatkan porsi untuk berakting selayaknya aktor besar (mimik muka dan dialog) dan cenderung cuman gebukin orang. Namun di film ini, Iko membuktikan dirinya bukan cuman sekedar jago ngehancurin muka orang. Meski ada beberapa dialog yg dia ucapin terlalu cepet, namun gw rasa dia udah sangat maksimal.

Tio Pakusadewo yang didaulat menjadi bos mafia bernama Bangun, Singa Tua yang lelah, nampaknya menurut gw masih belum bisa menampakkan aura sedingin yang ditampilkan Ray Sahetapi di film pertama. Mungkin ini sesuai dengan keinginan Gareth yang menciptakan karakter Bangun sebagai mafia yang lelah. Namun masih saja menurut gw, dia kurang buas. Masih kalah sama Sosok Tama (Ray Sahetapi) dalam The Raid 1 saat bilang "....Dan selamat bersenang-senang." dengan dinginnya, gw aja merinding denger itu. Tapi Tio sudah berbuat maksimal, setidaknya ia sudah mampu membuat gw merekam karakternya sebagai singa tua yang lelah.

Oka Antara mungkin adalah karakter yang paling gak gw mengerti fungsinya di film ini selain sebagai tangan kanan Bangun. Namun di ujung kisah, kita akan tahu, apa sebenarnya peran dari orang ini. Yayan Ruhian adalah idola gw! Terutama karena dengan penampilannya yang udah mau nyaingin Joko Bodo dan berhasil ngawinin Marsha Timothy (yang sumpah gw gak nyangka dan memorable banget). Pembunuh bayaran yang mati dengan kesepian sambil memegang erat foto anak tercintanya. Julie Estelle, meski gak kebagian dialog, namun penampakkannya yang sadis ngerobek tubuh musuh pake palu kayak ngerobek bungkusan kebab berhasil bikin gw menggeleng-geleng takjub, cantik tapi brutal.

Dan ada juga aktor pendatang baru, Cecep Arif Rahman, yang menggantikan porsi Mat Dog di film pertama adalah lawan tertangguh bagi Rama. Jika Prakoso (Yayan Ruhian) mampu menghadapi 20 orang sekaligus, makan Cecep mampu membunuh Prakoso tidak kurang dari satu menit. Dia hadir nyaris tanpa dialog, hanya dengan tatapan tajam bernada sinis dingin yang bikin gw berpikir buat ketemu suzanna aja ketimbang dipelototin ama dia. Selain itu juga ada aktor gaek Cok Simbara, polisi bersih, yang juga atasan Rama yang gak banyak diceritakan adegannya di sini, yg bikin gw geli adalah saat dia ngomong dengan kata ganti "gue, saya, aku, elu" secara gak konsisten. Tapi dialah dalang dari masuknya Rama dalam kekacauan ini. Juga ada Bejo yang diperankan oleh Alex Abbad, gangster muda yang tenang, yang sejujurnya adalah incaran rama dari awal. Akting Alex Abbad memang tak dapat diragukan, ia adalah kunci dari kebrutalan para gang ini, sekaligus aktor utama permainan kotor yang melibatkan para elit negeri. Kesuksesan akting Alex Abbad tergambar jelas ketika dia senyum aja gw bawaannya mau nimpuk layar bioskop pake sendal. Selain nama-nama di atas juga ada tridente asal Jepang yang di seri ini gak terlalu maksimal kemunculannya, padahal gw berharap lebih, seperti misalnya jika saja ada adegan mereka menculik Maria Ozawa untuk menyogok Iko Uwais agar gak membunuh mereka. Tapi gw yakin, melihat ending film kedua ini, trio mafia Jepang ini akan menjadi amunisi utama dalam film The Raid 3 yang udah disiapin Gareth Evans.

Dan juaranya tentu saja adalah Arifin Putra yang menjelma menjadi karakter Uco , putra semata Bangun, yang memiliki ambisi besar untuk menggantikan ayahnya sebagai bos mafia besar, namun karena ambisinya tersebut ia malah terlihat bodoh dimanfaatkan sama orang2 yg bermaksud buruk sama bokapnya. Yup! Arifin Putra dengan tak disangkal lagi adalah penampil terbaik di pertunjukkan ini, gayanya yang sok kuasa, temperamen, ceroboh, ambisius, dan merasa hidupnya tak lebih dari sekedar anak papi yang berlindung di bawah ketek bokapnya berhasil dibawakannya dengan tanpa cela. Dan menjelang ending, kalian akan melihat adegan Arifin Putra yang begitu keren yang bikin kalian akan berpikir untuk mengutuknya menjadi batu ginjal. Aplause memang pantas diberikan untuknya.

Memang ada juga yang kecewa dengan The Raid 2 ini, apalagi jika mereka yang membandingkan dengan The Raid 1. Parameternya jelas berbeda. The Raid 2 memang terkesan agak kelam dan berplot lamban karena mengusung drama serta konflik yang gak cuman gebukin orang kayak The Raid 1. Selain itu kesuksesan luar biasa yang di raih film pendahulunya itu membuat The Raid 2 cukup terbebani. Namun, buat kalian yang mau nonton, gak usah pikirin hal itu. Gak usah dibanding-bandingin sama yg pertama, karena gw udah bilang, yg pertama konfliknya hanya 1 sedangkan yang ini konfliknya berlapis, ya wajarlah Gareth harus pelah-pelan membuka benang kusutnya agar penonton mudah mengerti jalan ceritanya. Selain itu The Raid 2 emang dihadirkan untuk menyambut film terakhirnya : The Raid 3 yang mungkin akan rilis 2016 mendatang.

The Raid 2 ini jelas lebih brutal, lebih banyak darah, lebih banyak usus terburai, dan sebagainya. Kalau itu saja belum cukup, maka akan ada adegan wajah ditempel ke penggorengan restoran Jepang yang lagi menyala, dan kalian akan lihat kulit manusia melepuh total mengerikan. Tapi adegan tersadis menurut gw (bahkan gw sedikit menutup mulut gw) adalah ketika cewek secantik dan sebening Julie Estelle dirobek lehernya sama Iko Uwais pake palunya sendiri. 

Dan ada juga kejutan dari penampakkan Epy Kusnandar (komedian yg biasanya jadi penghulu dan pernah jadi satpam di sitkom Suami-suami takut istri), Epy di sini (hebatnya) berakting serius sebagai bos kaset por*o ilegal menyerang gangnya Bangun dan Rama menggunakan senjata api sambil mengenakan kaos kutang! gak selesai sampai situ, ia juga terlibat duel satu lawan satu tanpa senjata lawan Iko Uwais yg punya badan sixpack! Kalian akan lihat tubuh kurus komedian ini dihajar Iko pake berbagai benda di sekitarnya sampe belepotan darah dan mukanya hancur! sadis!

So! Film ini memang gila, film Indonesia (bahkan dunia) tergila yg pernah gw tonton. Brutal! Darah muncrat, muka hancur, wajah melepuh, usus terburai, leher robek, bahkan wajah yang penyok dipukul pake stik baseball bener2 ditampilkan tanpa sensor. Makanya yg nonton mesti kuat iman, kuat mental, dan bukan penggemar Farhat Abbas.

Tapi ada satu hal yang menggenaskan, masih ada orang tua yang ngajak anaknya yg masih di bawah umur buat nonton film ini. Jadi tolong dgn sangat buat kamu yg nonton, jangan bawa anak kecil. perlu kedewasaan untuk mencerna adegan kekerasaan tanpa batas yang ditampilkan film ini. Tadi aja di 21 palma gw lihat ada anak kecil dibawa ortunya nonton. Gw bakal ngetag catatan ini ke akunnya 21 palma, agar lebih ketat menyeleksi penonton yang masuk ke studio. ingat sekali lagi : JANGAN BAWA ANAK DI BAWAH USIA 17 TAHUN MENONTON FILM INI.
The Raid:Redemption



Hasil gambar untuk the raid redemption




Sinopsis Film The Raid : Redemption
Di jantung daerah kumuh Jakarta berdiri sebuah gedung apartemen tua yang menjadi markas persembunyian para pembunuh dan bandit kelas dunia yang paling berbahaya. Sampai saat ini, blok apartemen kumuh tersebut telah dianggap tidak pernah tersentuh siapa pun, bahkan untuk perwira polisi yang paling berani sekalipun. Diam-diam di bawah kegelapan dan keheningan fajar, sebuah tim elit SWAT (pasukan khusus) berjumlah 20 orang ditugaskan untuk menyerbu apartemen persembunyian tersebut untuk menyergap gembong narkotik terkenal yang menguasai gedung tersebut.

Tapi ketika sebuah pertemuan dengan seorang pengintai membuka rencana mereka dan berita tentang serangan mereka mencapai sang gembong narkotik, lampu dalam gedung tiba-tiba padam dan semua pintu keluar diblokir. Terdampar di lantai enam dan tanpa jalan keluar, satuan khusus tersebut harus berjuang melawan penjahat-penjahat terburuk dan terkejam untuk bertahan hidup dalam misi penyerbuan tersebut.