Tampilkan postingan dengan label Musical Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Musical Film. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Agustus 2016

Like Sunday Like Rain
Film ini merupakan sebuah film independen dibawah produksi BB Film productions.

Mengisahkan tentang sebuah pasangan yang selalu meributkan masalah mereka, terutama hal ini disebabkan oleh pacar Eleanor yang sering membuat masalah dan tingkah laku yang kadang menyebalkan. Ternyata perilau Billie ini disebabkan oleh banyaknya masalah yang dihadapinya diluar membuat Eleanor menjadi sasaran kekesalannya, dan akhirnya muncul pertengkaran.

Eleanor bekerja di sebuah rumah konglomerat yang dimiliki oleh SMASH (Debra Messing). Mereka memiliki anak remaja yang sangat pintar dan tampan. Remaja ini pandai bermain alat musik cello, dan sangat menikmati permainannya dalam kesendiriannya. Remaja ini bernama Reggie (dibintangi oleh Julian Shafkin) kurang kasih sayang dari orang tua yang semestinya sangat dibutuhkannya pada usianya yang masih belasan tahun.

Orang tua Reggie sering bepergian dan meninggalkannya dirumah hanya bersama para pengasuh dan pembantu. Untuk itu Eleanor diminta orang tuanya untuk mengasuh Reggie dan menemaninya disaat-saat orang tuanya tidak ada dirumah.

Reggie sebagai orang pendiam, yang sudah terbiasa hidup sendiri, bahkan dirumahnya yang super besar, agak sulit menerima kehadiran Eleanor, namun meski demikian, semakin lama pertemanan mereka semakin baik, dan mereka menjadi sahabat dekat. Aktivitas sehari-hari banyak mereka lalui bersama. 

Persahabatan dengan umur yang terpaut cukup jauh ini mengalir dengan baik, Eleanor dan Reggie semakin dekat, hari demi hari kedekatan mereka bahkan seperti pasangan yang sedang pacaran, dan benar saja, situasi hati Eleanor yang selalu kacau akibat pacarnya Billie membuatnya justru menyukai Reggie yang terlihat santai dan tenang menghadapi setiap situasi.
Begin Again
Nama John Carney memang akan identik dengan musikal setelah apa yang ia lakukan dengan Once tujuh tahun lalu. Berbekal cerita romansa sederhana tapi menyentuh serta balutan lagu-lagu romantis luar biasa macam Falling Slowly yang dibawakan Glen Hansard dan Marketa Irglova, film tersebut akan selalu menjadi salah satu film favorit saya sepanjang masa. Setelah sempat "berpaling" ke komedi lewat Zonad, akhirnya John Carney kembali membuat drama musikal sederhana lewat Begin Again. Tentu saja tidak seperti Once yang berbujet sangat minim dan tidak diisi nama besar, film terbarunya ini memang lebih mahal. Bujetnya $10 juta atau hampir 10 kali lipat dariOnce, dan diisi oleh nama-nama tenar macam Mark Ruffalo, Keira Knightley, Hailee Steinfed sampai Adam Levine yang menjalani debut perdananya sebagai aktor film. Tentu saja ada ekspektasi tinggi dalam diri saya mengingat Carney telah memasang standar yang begitu tinggi lewat Once, tapi siapa mnduga bahwa ekspektasi tinggi tersebut berhasil dipenuh, karena Begin Again masih menawarkan sisi magis dari romansa dan musik yang bersinkronisasi dengan indahnya.

Dan Mulligan (Mark Ruffalo) adalah seorang eksekutif dari sebuah label rekaman yang tengah menghadapi krisis dalam kehidupannya. Dia sudah hidup berpisah dengan sang istri, Miriam (Catherine Keener) dan akan segera bercerai, sedangkan hubungannya dengan sang putri, Violet (Hailee Steinfeld) juga kurang berjalan lancar. Dari segi pekerjaan pun Dan tengah menghadapi kesulitan setelah sudah tujuh tahun lamanya ia tidak mengontrak satu artispun. Pada akhirnya ia pun harus kehilangan pekerjaannya tersebut. Pada suatu malam saat sedang tenggelam dalam depresi dan mabuk-mabukan di sebuah bar, secara tidak sengaja ia melihat Gretta (Keira Knightley) sedang bernyanyi diatas panggung. Dengan cepat insting Dan berkata bahwa Gretta punya potensi luar biasa untuk menjadi seorang penyanyi sekaligus penulis lagu besar. Tapi Gretta tidak begitu saja menerima tawaran Dan, karena disatu sisi dia sendiri tengah tenggelam dalam kesedihan setelah diselingkuhi oleh pacarnya, Dave Kohl (Adam Levine), penyanyi baru yang tengah naik daun setelah lagunya dipakai dalam film. Seiring berjalannya waktu, keduanya pun semakin dekat dan lewat musik dua jiwa yang terluka ini secara perlahan mulai menemukan kembali jalan hidup mereka.
Apa kekurangan film ini jika dibandingkan dengan Once? Yang pertama, ceritanya yang lebih luas dan besar membuatnya tidak lagi terasa personal dan down to earth. Lagu-lagunya pun tidak ada yang sekuat Falling Slowly. Secara keseluruhan kekuranganBegin Again dibandingkan Once adalah hilangnya sisi kedekatan dengan kehidupan sehari-hari karena konsep dan pengemasannya yang jauh lebih besar. Tapi itu jika dibandingkan dengan Once, tapi jika tidak maka film ini adalah film yang sangat bagus dan mampu membuat saya melupakan segala kekurangan minor yang ada. Lagu-lagunya memang tidak sebagus Falling Slowly tapi masihlah tetap merupakan nomor-nomor yang mengesankan. Sebagai contoh Lost Stars yang sudah lebih dulu terkenal sebelum filmnya karena dibawakan oleh Adam Levine. Sebelum menonton film ini, lagu tersebut terasa bagus tapi hanya itu, tapi setelah menonton filmnya jatuh cintalah saya pada Lost Stars entah versi Adam Levine ataupun Keira Knightley. Lagu-lagu lain seperti Like A Fool dan Coming Up Roses pun sama bagusnya. John Carney terbukti masih sakti dalam menggali sisi magis dari musik dan bagaimana menggabungkannya dengan sebuah kisah romansa.
Kisah cinta yang ada pun masih terasa menyentuh. Saya tidak berbicara tentang romansa Gretta dan Dave karena meski romansa tersebut cukup menarik tapi yang paling kuat adalah kisah cinta "diam-diam" antara Gretta dengan Dan. Sama sepertiOnce, Carney menunjukkan bahwa sebuah percintaan yang romantis adalah saat tidak ada kata "I Love You" yang terucap tapi penonton bisa ikut merasakan benih-benih cinta yang tumbuh diam-diam diantara kedua karakternya. Salah satu senjata Carney untuk membuat momen romantis adalah keahliannya memasukkan adegan musikal sederhana seperti berjalan-jalan sambil mendengarkan musik bersama misalnya. Semuanya sederhana namun begitu manis. Carney begitu paham kedalaman rasa yang ada dalam musik dan sebuah rasa cinta lalu menggabungkan keduanya dengan begitu baik. Ada banyak momen musikal keren disini khususnya yang menampilkan Gretta dan band miliknya rekaman di berbagai lokasi outdoor. Tapi secara mengejutkan momen musikal paling menyentuh adalah pada saat bagian akhir yang menampilkan Adam Levine memainkan Lost Stars dalam sebuah konser. Sampai saat membuat tulisan ini saya masih merasa ingin meneteskan air mata mengingat tatapan Keira Knightley di dalam ruangan konser hingga diatas sepeda atau reaksi dari Adam Levine.

Kekuatan cerita dan musikal film ini semakin dimaksimalkan oleh akting bagus dari para pemainnya. Keira Knightley dan Mark Ruffalo menghadirkan chemistry kuat, sedangkan secara individu, Keira Knightley memang begitu mencuri perhatian terutama karena Carney banyak menghadirkan momen close-up yang menampilkan ekspresi kuat dari sang aktris. Sedangkan Adam Levine diluar dugaan mampu tampil natural disini, bukan sekedar jual tampang dan nama besar. He's surprisingly good, khususnya pada adegan konser dengan sekilas ekspresi getir saat menyadari Gretta telah pergi meninggalkan venue. Bicara soal ending-nya, Begin Again memberikan kesan yang tidak jauh beda dengan Once lewat konklusi yang bittersweet. Ada kesedihan dan haru disana, tapi ada juga rasa optimis yang hadir saat karakter-karakternya berhasil menemukan kembali jalan hidup mereka. Sekali lagi John Carney mampu menyajikan ending yang luar biasa. 

Verdict: Seperti judul resmi (Begin Again) dan judul awalnya (Can a Song Save Your Life) film ini juga bererita tentang bagaimana musik mampu menyelamatkan kehidupan seseorang, merubah mereka dan akhirnya memberikan mereka kekuatan untuk memulai kembali kehidupan yang baru. Ditambah dengan sempilan kritik tentang industri musik masa kini, makin lengkaplah Begin Again menjadi musikal sederhana kaya perasaan yang sanggup menghadirkan senyum sekaligus air mata.
Rock of Ages

Semua tindakan yang anda lakukan pasti memiliki resiko. Hal tersebut yang ingin Adam Shankmansampaikan melalui karya terbarunya ini, film drama musikal berbalut komedi berjudul Rock of Ages. Dengan latar tahun 1987, Shankman akan mengajak anda menyaksikan perjuangan yang dihadapi karakter dalam cerita, dari seorang wanita muda yang datang ke Hollywood dan langsung jatuh cinta kepada seorang pria, istri seorang walikota yang mencari perhatian media massa, pemilik sebuah klub yang berusaha mempertahankan klub miliknya, hingga blunder dari seorang manager yang rakus akan uang.

Ya, semua konflik diatas saling berhubungan. Dimulai ketika anda menyaksikan Sherrie Christian (Julianne Hough) tiba di L.A, dirampok, dan berkat bantuan Drew Boley (Diego Boneta) dapat memperoleh pekerjaan di sebuah klub bernama The Bourbon, yang dikelola oleh Dennis Dupree (Alec Baldwin) bersama Lonny (Russell Brand). Malangnya, The Bourbon ketika itu sedang terlilit hutang dan pajak. Bahkan The Bourbon telah menjadi objek utama dari kampanye yang dilakukan oleh Patricia Whitmore (Catherine Zeta-Jones), istri dari walikota bernama Mike Whitmore (Bryan Cranston). Patricia ingin menutup klub tersebut karena merasa klub malam itu menjadi momok yang dapat merusak anak-anak mereka.

Dupree dan Lonny akhirnya mengambil sebuah keputusan besar untuk menutupi hutang tersebut. Mereka mengundang Stacee Jaxx (Tom Cruise), ikon rock yang sangat digilai oleh kaum wanita, untuk menggelar pertunjukkan terakhirnya bersama band-nya Arsenal di The Bourbon. Ya, semua tampak begitu mudah hingga akhirnya manager dari Stacee, Paul Gill (Paul Giamatti) merusak semuanya, ditambah kehadiran reporter majalah Rolling Stone bernama Constance Sack (Malin Akerman) yang membawa babak baru dalam perjalanan karir Stacee.

Pertama, tentu saja akan terasa kurang tepat jika anda menjadikan film ini sebagai film musikal pertama anda. Sesuai dengan genrenya, selama 123 menit anda akan mendapatkan tontonan yang sangat didominasi oleh karakter-karakter yang bernyanyi untuk menceritakan permasalahan mereka, bahkan lebih dominan dibanding film musical lainnya. Hmmm, anda akan sedikit merasa aneh dengan semua itu. Namun jika anda telah terbiasa dengan serial-tv musikal seperti Glee ataupun Smash, anda akan dengan mudah merasakan kenikmatan utama yang ingin ditawarkan film ini.

Ya ya, dibalik ceritanya yang payah dan mudah ditebak, eksistensi klub yang sedang terancam, seorang pria muda yang ingin menjadi vokalis terkenal, Rock of Ages mampu membawa saya ikut bergoyang atau mungkin sekedar menggerakkan kaki lewat lagu-lagu yang mereka tampilkan. Saya suka perpaduan serta perpindahan antar lagu yang terasa pas dan tidak kaku. Ya itu tadi, sayangnya hal tersebut berbanding terbalik script yang film ini miliki. Hasil karya dari Justin Theroux, Chris D'Arienzo, dan Allan Loeb tidak bekerja dengan baik.

Banyak dialog kaku yang saya temukan di film ini, awalnya sedikit menggangu, namun semakin lama justru semakin merusak kenikmatan film ini. Hal tersebut menjadikan banyak karakter kehilangan potensi daya tarik yang mereka miliki. Hanya Stacee Jaxx yang konsisten sejak awal hingga akhir mampu terus tampil menarik, selebihnya tidak. Kekurangan lain adalah sangat besarnya intensitas joke serta humor yang gagal dieksekusi. Ya, gagal dieksekusi, dimana anda akan mengerti sasaran tembak dari joke tersebut, namun ibarat panah yang dilepaskan ke tanah, mereka hanya sebatas menyentuh tanah kemudian tumbang, tanpa menancap tegas ditanah tersebut.

Minus terbesar dari film ini bagi saya adalah tidak adanya konflik dengan power yang kuat. Semua konflik yang disuntikkan memiliki kadar dan peran yang sama besarnya, sehingga pada akhirnya tidak ada konflik yang berhasil muncul untuk menjadi fokus utama bagi film ini. Jika harus memilih, nilai positif yang ditawarkan film ini hanyalah music, tarian, serta kostum. Terlepas dari tiga bagian itu, elemen lain dalam cerita terasa membosankan. Kemana cerita akan bergulir dapat anda tebak dengan mudah. Tom Cruise mungkin mampu menghadirkan karisma dari seorang bintang rock playboy yang selalu dikelilingi wanita, namun itu tidak mampu menutupi minus yang dimiliki film ini, meskipun telah dibantu dengan tampilan musik yang menyenangkan.


Overall, Rock of Ages adalah film yang cukup memuaskan. Film ini jelas akan mampu membuat penontonnya ikut serta merasakan irama musik yang mereka tampilkan, dibalut dengan tarian-tarian yang cukup menyenangkan. Yang tidak dimiliki film ini adalah komponen penting dari sebuah film, cerita yang mumpuni. Ya, Rock of Ages jelas akan menjadi besar jika anda hanya menginginkan sebuah film yang mampu menghibur lewat musik dan tarian saja. Namun jika anda ikut menjadikan cerita sebagai faktor penilaian, film ini terjun bebas ke barisan bawah.
Pitch Perfect 2
Hasil gambar untuk review pitch perfect 2 indo
Saya teringat pada 2012 lalu betapa saya sangat menikmati Pitch Perfect. Komedinya, lagu-lagunya, dramanya. Saya tak berharap film ini akan dibuatkan sekuel, karena endingnya sendiri sudah cukup memuaskan. Meski begitu, masuk akal juga jika kemudian Universal Pictures membuat sekuelnya Pitch Perfect 2 mengingat laba yang diraih film pertama. Secara musikal dan cerita, film ini sama saja dengan pendahulunya, tapi minus dari sisi drama dan komedi. 

Barden Bellas telah menjadi juara kompetisi acapella nasional 3 kali berturut-turut dan mendapat kesempatan untuk tampil di hadapan Presiden Barrack Obama. Nah di tengah-tengah penampilan mereka membawakan lagu "Wrecking Ball", terjadi tragedi memalukan yang melibatkan Fat Amy (Rebel Wilson) dan "area pribadi"-nya yang membuat Bellas diskors dari semua acara dan kompetisi acapella. Namun berkat komentator John (John Michael Higgins) dan (Elizabeth Banks) — meski mereka pun sedikit skeptis, Bellas mendapat kesempatan untuk menebus kesalahan mereka dalam turnamen acapella dunia, dimana belum pernah ada tim Amerika yang menjadi pemenang di ajang tersebut. 

Sementara para Bellas berlatih untuk memenangkan kompetisi, Beca (Anna Kendrick) juga sibuk mengejar ambisi pribadinya untuk menjadi produser musik. Hal ini memberikan sedikit konflik yang awalnya sedikit dipaksakan, namun terasa pas seiring berjalannya cerita. 

Karena memang tak ada lagi yang bisa dieksplor di dunia Pitch Perfect, penulis skrip Kay Cannon — yang juga menulis skrip film pertama — memberikan cerita yang kurang lebih sama seperti film pertama: tim acapella underdog yang berjuang keras untuk meraih nama di kompetisi, dengan sedikit bumbu drama dan romance. Dalam film ini, musuh berat yang harus dihadapi adalah juara acapella Jerman, Das Sound Machine (DSM). Meski skalanya lebih besar, naskah Cannon tak terlalu energik karena rivalitas Bellas vs DSM yang terkesan remeh dan kompetisi yang kurang menantang.

Jika di film pertama lebih fokus pada usaha Beca untuk masuk dalam Barden Bellas dan bagaimana karismanya mengubah grup acapella tersebut menjadi lebih baik, maka di film ini Beca hanya menjadi semacam karakter pendukung. Kendrick masih memberikan penampilan yang karismatik dan lovable, namun porsinya lebih sedikit dan tertutupi oleh tokoh Rebel Wilson. Bahkan di film ini, Fat Amy mendapatkan sub-plot kisah cinta dengan Bumper (Adam DeVine). 

Dibintangi oleh sebagian besar pemain orisinalnya, kita akan melihat kembali Chloe (Brittany Snow) sang leader, Cynthia (Easter Dean) yang lesbian, Lilly (Hana Mae Lee) yang bersuara kecil dan anggota lainnya. Semuanya nyaris one-note dan saya tak mempermasahkan hal tersebut, karena meskipun one-note, diversitivitas karakter mereka memberikan nuansa tersendiri. 

Dihadirkan pula anggota baru Emily Junk (Hailee Steinfeld) yang merupakan anak dari seorang mantan anggota Bellas jaman dulu. Meski perannya tak terlalu signifikan sebagaimana harusnya, namun karakter Emily sedikit memberi penyegaran dengan karakternya yang lucu dan ceplas-ceplos. 

Ada banyak alasan kenapa saya sangat menikmati film pertama, dan tak terlalu menyukai film keduanya ini. Film pertamanya lebih superior karena fokus pada karakter dengan sedikit sentuhan komedi. Namun disini, sutradara Elizabeth Banks — ini adalah film debutnya — mencoba untuk menyuguhkan komedi lebih banyak, melewatkan eksplorasi karakter dan melupakan narasi. Komedi yang disuguhkan pun tak terlalu lucu, bahkan semua lelucon yang melibatkan Fat Amy menurut saya malah garing. Joke-joke kecil bernuansa rasis dan vulgar yang biasanya dilemparkan oleh komentator John dan Gail juga kasar. Lelucon rasis yang disampaikan dengan tepat akan menjadi kocak. Dalam kasus ini, sayangnya tidak. 

Terlepas dari semua kekurangannya, saya sangat menikmati semua penampilan acapella dari film ini seperti halnya film pertama. Memang tak ada yang penampilan yang selevel dengan "Cup"-nya Beca dari film pertama, namun Kendrick kembali menunjukkan kapabilitasnya bernyanyi bersama Snoop Dogg yang membawakan lagu Natal beraransemen baru. Penampilan terbaik adalah adegan klimaks saat Bella tampil di panggung kompetisi dunia menyanyikan mash-up lagu Beyonce dengan lagu orisinal yang dikoreografi dengan detail dan sangat baik.
Pitch Perfect
Hasil gambar untuk review pitch perfect indo
Pitch Perfect mengisahkan tentang Becca (Anna Kendrick) yang baru saja pindah ke Barden University. Awalnya, Becca tidak tertarik dengan semua klub-klub yang ada. Namun, ia tiba-tiba dipertemukan dengan gadis-gadis dalam anggota klub The Barden Bellas. The Barden Bellas sempat kalah tahun lalu di final ICCA, karena Aubrey (Anna Camp) secara tiba-tiba muntah di atas panggung. Mereka semua kini ingin membuktikan kembali bahwa mereka bisa. Dengan anggota-anggota baru tentunya. Becca harus terbiasa dengan anggota The Barden Bellas yang sangat unik-unik, contohnya Fat Amy (Rebel Wilson). Becca pun bertemu dengan Jesse (Skylar Astin) yang ternyata adalah kelompok musuh terberat The Barden Bellas, Treblemakers. The Barden Bellas tentunya harus memenangi semua perlombaan agar kembali lagi ke final seperti tahun lalu dan tentu saja mengalahkan Treblemakers.

Keunggulan Pitch Perfect adalah dari lagu-lagu yang dicover sepanjang film ini. Lagu-lagu yang dinyanyikan kembali oleh pemain-pemain di dalam film ini jelas adalah lagu-lagu yang super catchy. Seperti “Titanium”, “Right Round”, “Since U Been Gone”, “Turn The Beat Around”, “Just The Way You Are”, “S&M”, “Party In U.S.A” dan “Price Tag”. Ya, pemilihan lagu diatas sangat memberikan efek yang besar bagi film ini. Karena pastinya penonton harus disajikan dengan lagu-lagu yang mereka tahu yang sedang booming sekarang ini. Tidak hanya booming sekarang ini, juga lagu-lagu terkenal laginya. Jadi, pemilihan lagu “Pitch Perfect” adalah lagu-lagu yang sangat tepat untuk mengisi original soundtrack film ini. Bisa dikatakan sisi musikal dari “Pitch Perfect” merupakan poin positif tertinggi.

Adegan demi adegan sepertinya berjalan dengan sangat baik. Adegan yang paling menyenangkan di keseluruhan film ini adalah “Ripp Off”. Battle kecil-kecilan yang sangat menyenangkan bukan? dengan kategori-kategorinya. Dialog-dialog cerdas pasti akan kita rasakan. Pitch Perfect mampu membuat penontonya tertawa dengan adegan yang hadir sangat natural dan sangat relate dengan sekarang ini. Saya menyukai bagaimana Jason Moore menyelipkan sedikit family problem kedalam film ini di tengah-tengah durasinya. Dan juga kisah persahabatan sekaligus romansa. Konfliknya memang terselesaikan dengan begitu mudahnya. Walaupun konflik nya tidak seburuk yang saya pikirkan sebelumnya. Selama 104 menit, ya untuk ukuran musical/comedy adalah durasi yang cukup lama. Jika anda adalah penikmat film comedy sejenis ini, pastinya akan menyukai film ini dan tidak akan merasa jenuh. Namun, jika anda menonton film ini karena penasaran sehabis meliha trailer dan berharap akan mendapatkan tontonan luar biasa sempurna seperti yang judulnya katakan dengan ekspektasi setinggi angkasa, sepertinya kalian harus memikir dua kali. Turunkan ekspektasi dan ikuti saja bagaimana film ini berjalan.