Tampilkan postingan dengan label Kasus Hack. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kasus Hack. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Agustus 2016

Anonymous vs Trump
Hacker Anonymous tengah membidik calon presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Republik, Donald Trump, setelah taipan real estate itu secara lugas menyerukan larangan pada semua umat Islam memasuki wilayah AS.

Salah satu akun Twitter kelompok hacker Anonymous mengatakan bahwa mereka telah mematikan situs www.trumptowernyc.com. Mereka juga mem-posting sebuah video YouTube untuk memberikan peringatan kepada Trump. Demikian seperti dikutip dari laman TechCrunch, Minggu (13/12/2015).

"Situs Trump Towers NY dimatikan sebagai pernyataan melawan rasisme dan kebencian. http://www.trumptowerny.com/ (apa yang Anda lihat adalah backup situs itu daricloudflare)," tulis hacker tersebut lewat akun @YourAnonNews.

"Donald Trump, kami telah memperingatkan Anda. Anda melarang semua muslim untuk memasuki Amerika Serikat. Kebijakan ini akan memiliki dampak besar. Inilah yang diinginkan ISIS. Semakin muslim merasa sedih, membuat ISIS dengan mudah merekrut mereka," kata hacker Anonymous dalam sebuah video.
Pernyataan Trump tentang pelarangan muslim masuk AS," demikian pernyataan yang dikeluarkan kantor Netanyahu.
Anthem
Pemerintah AS melalui FBI bertindak cepat pasca bobolnya sistem keamanan perusahaan asuransi kesehatan terbesar kedua, Anthem. Dengan jumlah nasabah asuransi yang mencapai 69 juta jiwa, FBI tidak tinggal diam untuk segera menangani kasus tersebut. Setelah meluangkan waktu yang cukup panjang, FBI akhirnya merujuk pada satu kesimpulan bahwa pelaku utama dari diretasnya jaringan keamanan Anthem adalah negara Tiongkok. Kesimpulan yang disampaikan oleh FBI ini menyatakan bahwa negara Tiongkok terbukti telah mensponsorihacker untuk mencuri informasi sensitif perusahaan Anthem. Tidak seperti kasus Sony Pictures kemarin, kali ini FBI benar-benar yakin bahwa Tiongkok adalah pelaku utama di balik kasus ini.
Setelah sebelumnya Korea Utara dituduh sebagai pelaku peretasan Sony, bukti apakah yang memperkuat pernyataan FBI ini? Seperti yang dilansir dari Bloomberg, hacker asal Tiongkok ini diduga kuat oleh FBI bertujuan untuk mencuri informasi identitas pribadi baik dari pihak pemerintah maupun perusahaan yang ada di AS. Berdasarkan berita yang diperoleh dari Bloomberg, hacker asal Tiongkok ini terbilang cerdik. Sebelum meretas Anthem, mereka terlebih dahulu melakukan pemantauan terhadap jaringan komputer yang ada di AS. Selanjutnya, hacker tersebut akan meretas akun pribadi salah seorang warga AS melalui komputer pribadinya yang memiliki koneksi pekerjaan ke pemerintahan AS, kontraktor pertahanan ataupun perusahaan lainnya.
Setelah meretas akun pribadi tersebut, hacker diduga menemukan sejumlah data pribadi yang berafiliasi dengan asuransi kesehatan, Anthem. FBI menilai bahwa dari situlah, pelaku bisa mencari celah ke dalam jaringan komputer Anthem dengan memanfaatkan identitas orang yang mereka curi. Menurut mereka, hacker tersebut diduga kuat sudah melakukan pengumpulan informasi dari waktu yang lama. Bukti lainnya yang menyimpulkan bahwa hacker Tiongkok adalah pelakunya adalah FBI mendapatkan laporan bahwa malware yang digunakan untuk menyerang Anthem memiliki kriteria open source yang sama dengan apa yang pernah dirilis oleh Deep Panda, organisasi peretas asal Tiongkok. Malware tersebut berhasil dilacak dan berasal dari pedalaman Tiongkok.
Selain itu, laporan tentang aktifitas Deep Panda sendiri merujuk pada laporan perusahaan konsultan keamanan, CrowdStrike yang memiliki spesialisasi monitoring peretasan yang disponsori oleh negara. Berdasarkan laporan CrowdStrike, hacker Tiongkok membobol sistem keamanan Anthem menggunakan kerentanan yang ada pada Adobe Flash Player. Lebih lanjut CrowdStrike pun menyatakan bahwa perusahaan tersebut sudah memonitor Deep Panda sejak pertengahan 2014 kemarin. Mereka menyatakan bahwa Deep Panda merupakan ancaman serius tidak hanya bagi pemerintah, tetapi juga perusahaan multinasional dan institusi perbankan.
Anonymous vs Turki
Anonymous tak main-main saat menyatakan perang dengan Turki. Belakangan terjadi seringan siber yang sangat masif di sana.

Serangan tersebut datang dari berbagai sumber, dan berdampak terhadap semua sistem yang menggunakan Internet. Situs web pemerintah, fasilitas militer, hingga industri perbankan juga kena imbasnya.

“Kepada pemerintah Turki, jika kalian tidak berhenti mendukung ISIS, kami akan melanjutkan serangan terhadap internet kalian,” suara ancaman salah satu anggota Anonymous pada sebuah video YouTube, yang kini sudah dihapus.

Anonymous mengklaim bertanggung jawab atas serangan siber yang 'mematikan' sekitar 400 ribu situs yang terhubung dengan jaringan penting di Turki.


Serangan yang berlangsung sekitar 2 minggu ini merupakan salah satu serangan paling intens sepanjang sejarah Turki. Pasalnya, Anonymous 'melumpuhkan' sejumlah situs-situs penting milik pemerintah serta institusi finansial. 

Serangan ini juga sekaligus mematahkan tuduhan Turki terhadap Rusia yang sebelumnya diklaim melakukan balas dendam melalui jaringan Internet.

Namun serangan siber ini berhasil diredam Turki setelah mereka memblokir semua trafik Internet yang beradal dari luar.

Anonymous yang sebelumnya menyatakan perang dengan kelompok militan ISIS, kini juga tidak segan-segan menyatakan permusuhan terhadap semua pihak yang diduga memiliki koneksi kuat dengan ISIS, salah satunya terhadap Turki.

“Setelah menyerang inti sistem nama domain, kami akan mulai menyerang bandara kalian, aset militer, serta jaringan sektor swasta milik kalian. Kami akan menghancurkan infrastruktur perbankan penting milik kalian,” gertakan dari Anonymous.


Turki yang berbatasan langsung dengan Suriah ini memang disebut-sebut sebagai salah satu 'ibu asuh' yang banyak mendonorkan pemasukan bagi kelompok radikal ISIS. Turki diketahui turut menyumbang dompet ISIS untuk berbagai operasi militer mereka melalui perdagangan hasil penyelundupan minyak bumi. 

Presiden Vladimir Putin menyebut pemerintah Turki sebagai kaki tangan kelompok teroris. Presiden Barack Obama juga sempat mendesak Turki untuk memantau perbatasannya dengan Suriah secara ketat, terkait banyaknya perdagangan gelap yang dilakukan lintas batas negara di Timur Tengah.

Dalam sehari, ISIS bisa mendapatkan dana segar setidaknya Rp 13,6 miliar hanya dari pergadangan gelap minyak mentah. Minyak mentah yang diantarkan truk tangki melalui jalur 'gelap ini dijual dengan harga begitu murah, mulai dari Rp 341 ribu hingga Rp 614 ribu, sebagaimana dilaporkan Rystad Energy yang mengungkapkan hal ini berdasarkan permintaan pemerintah Norwegia. 


Selanjutnya, minyak ini akan dihargai dengan kisaran Rp 477 ribu hingga Rp 682 ribu di pasar gelap, mengutip laporan yang juga dituliskan dalam harian Klassekampen dari Norwegia pada bulan Desember 2015.

“Berdasarkan informasi kami, bulan lalu ISIL menjual sejumlah besar minyak dengan potongan harga kepada makelar di Timur Tengah, salah satunya pria yang berasal dari Turki yang mengantarkan minyak ini untuk dijual kembali. Minyak yang sepertinya berasal dari daerah operasi ISIL ini dijual di Irak, kemudian dijual kembali di Turki,” ungkap David Cohen, US Under Secretary for Terrorism and Financial Intelligence dalam situs RT.

Atas dasar inilah, Anonymous pun begitu geram atas sikap pemerintah Turki yang terkesan 'lembek' dalam menindak kasus perdagangan gelap minyak yang hasilnya jatuh ke tangan ISIS.

“Hentikan kegilaan ini sekarang juga, Turki. Nasib kalian ada di tangan kami,” intimidasi Anonymous terhadap negara yang menjadi tuan rumah pertemuan G20 pada November 2015 lalu.
Anonymous vs ISIS
Grup hacker Anonymous sempat bikin heboh setelah mengungkap rencana serangan ISIS ke sejumlah negara. Namun hari ini Anonymous menyangkal dengan menyebut bahwa informasi yang disebar itu bukan berasal dari mereka.

Bantahan itu dilontarkan Anonymous melalui akun Twitter @YourAnonNews. "Kami tidak menyebarkan rumor apapun soal kemungkinan serangan ISIS di masa depan, dan sayangnya, kami tak tahu dari mana rumor itu berasal," tulis mereka.

Tak cuma membantah, melalui akun Twitternya yang lain, Anonymous pun kemudian mengeluhkan seringnya nama mereka digunakan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab. "Menurutku kemampuan viral #Anonymous saat ini benar-benar sedang dimanipulasi," tulis Anonycast.

Ada juga akun @AnonyOps yang menyebut bahwa nama Anonymous selain dimanipulasi juga digunakan sebagai alat propaganda balasan, dikutip detikINET dari news.com.au, Senin (23/11/2015).

Saking banyaknya akun Twitter yang mengaku sebagai Anonymous, seorang netizen pun akhirnya bertanya. "@YourAnonNews terlalu banyak laman Twitter Anon, bagaimana kami bisa tahu mana yang asli dan mana yang bukan?!?" tulis @cloudburst1988.

Sayangnya, tanggapan dari pertanyaan itu pun tak bisa menjawab. "@cloudburst1988 Tak ada akun Twitter Anonymous yang resmi, silahkan ambil konklusi sendiri," tulis @YourAnonNews."

Soal akun resmi ini, Gizmodo pernah menulis, bahwa tak ada yang benar-benar ofisial jika berkaitan dengan Anonymous. Namun akun Twitter @YourAnonNews bisa dibilang adalah juru bicara dari grup Anonymous.

Sebelumnya diketahui bahwa sub kelompok Anonymous yang bernama OpParisIntel mengklaim sudah menemukan detail informasi terkait serangan ISIS. Informasi ini menyebar setelah teror berdarah di Paris.

Sejumlah lokasi yang diincar adalah beberapa lokasi di Paris, acara WWE di Atlanta Amerika Serikat, acara di Milan, Libanon dan Indonesia. Khusus di Indonesia, titik yang disebutkan menjadi target adalah acara one day one juz di masjid Al Jihad Karawang, Minggu (22/11/2015).

Namun saat dikonfirmasi detikcom, acara di masjid tersebut lancar tanpa gangguan. "Alhamdulillah lancar. Tak ada gangguan. Sudah diantisipasi pihak pengamanan," kata Deni, ketua dewan pengurus area Karawang yang menangani acara tersebut, kepada detikcom.

Di Atlanta, Amerika Serikat, acara gulat WWE dijaga ketat aparat. FBI turun tangan menjaga pengamanan di sana dan menganggap laporan ini sangat serius.


Ashley Maddison
Bermain-main di situs dewasa seperti Ashley Madison, situs yang membantu pasangan menyelingkuhi pasangannya memiliki risiko lebih besar dibandingkan dengan bermain-main di situs berita atau media sosial. Selain risiko privasi dan data pengguna situs dewasa seperti Ashley Madison yang di-hack hacker bisa berisiko diperas oleh hacker karena memiliki hubungan intim lain selain dengan pasangan mereka.
Lebih dari satu juta orang dewasa Inggris bisa berisiko diperas  setelah layanan kencan online, Ashley Madison yang membantu penggunanya mengkhianati pasangan mereka mengalami serangan cyber besar beberapa hari yang lalu. Ashley Madison, website yang memiliki taglinelife is short, have an affair juga bisa menghadapi beberapa gugatan class action dari 37,5 juta pelanggan di seluruh dunia.
Hacker yang menamakan diri mereka The Impact Team telah mengancam untuk membuka tidak hanya alamat email dan data kartu kredit, tetapi juga foto dewasa (maaf : bugil) dan rincian dari kecenderungan seksual pelanggan. Dengan informasi yang sangat sensitif tersebut berada dalam risiko, potensi penjahat untuk menggunakan informasi untuk melakukan pemerasan untuk uang cukup tinggi.
Ken Westin, Analis Senior di perusahaan cybersecurity Tripwire mengatakan informasi yang terkait dengan layanan situs dewasa memiliki potensi untuk merusak kehidupan, digunakan untuk tujuan pemerasan atau bahkan spionase jika ada pejabat pemerintah yang terlibat. Will Gragido kepala penelitian ancaman intelijen di Digital Shadows, mengatakan bahwa aksi hacker terhadap Ashley Madison ini tampaknya terfokus pas pemerasan.
Dalam pernyataan terbarunya, Ashley Madison mengatakan bahwa privasi pelanggan merupakan hal yang paling utama saat ini sehingga mereka menawarkan full deletegratis  karena adanya akasi hacking tersebut.
Sebanyak 1,2 juta warga Inggris yang menjadi korban hack bisa membawa kasus tersebut ke pengadilan di Amerika Serikat atau Kanada, di mana pemilik Ashley Madison, yaitu Avid Live Media berada untuk menuntut atas dasar pelanggaran privasi.
Aksi hacker terhadap Ashley Madison ini merupakan sebuah pelajaran yang cukup bagus bagi siapa saja yang ingin bermain-main di situs dewasa. Meskipun situs tersebut mengaku sangat aman dan menjaga privasi pengguna, namun situs tersebut tidak bisa sepenuhnya aman dari ancaman hacker. Jika hacker menyusup, data dan kecenderungan seksual pengguna yang tidak jarang jauh dari normal menjadi senjata empuk hacker untuk melakukan pemerasan.