Tampilkan postingan dengan label Film Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film Indonesia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Agustus 2016

Comic 8:Casino King part 2
Dalam satu tahun belakangan ini, mungkin tidak ada film Indonesia yang dapat diklaim sebagai yang terbesar selain Comic 8: Casino Kings. Sejak awal produksi, sekuel dari film laga komedi sukses Comic 8 (2014) ini telah mengajak puluhan orang terkenal—sebagian besar adalah stand up comedian yang tengah naik daun di Indonesia, ditambah dengan desain produksi serba spektakuler dan penggunaan teknologi visual effects.
Singkatnya, ini adalah film mahal, dengan tujuan menjangkau sebanyak mungkin penonton, ciri yang biasanya muncul dalam film-film blockbuster Hollywood. Namun, pada akhirnya penonton harus menyaksikan film ini dengan cara dicicil dalam dua bagian, lantaran ceritanya yang terbilang panjang sekalipun sebenarnya sederhana.


Casino Kings Part 1 yang rilis Juli 2015 lalu memulai cerita tak lama setelah akhir dari cerita Comic 8 pertama, yaitu penyelidikan seorang agen Interpol, Cynthia (Prisia Nasution) terhadap delapan orang yang dicurigai menjadi pelaku perampokan dan penyanderaan Bank INI. Tentu saja, sebenarnya sudah dijelaskan kepada penonton di akhir film pertama bahwa kedelapan orang yang dimaksud adalah agen rahasia pimpinan Indro (Indro Warkop) yang berupaya meringkus seorang dokter jiwa jahat, Pandji (Pandji Pragiwaksono). Hanya saja, berhubung misi mereka bersifat rahasia, para agen ini akan selalu menghilang tanpa jejak.

Para agen yang terdiri dari Arie (Arie Kriting), Babe (Babe Cabiita), Bintang (Bintang Timur), Ernest (Ernest Prakasa), Fico (Fico Fachriza), Kemal (Kemal Palevi), Mongol (Mongol Stres), dan Ge (Ge Pamungkas) kali ini diutus untuk meringkus raja judi terbesar di Asia Tenggara yang dijuluki The King. Mereka kemudian menyamar dan berbaur dengan para stand up comedian, sampai akhirnya berhasil mendapat undangan khusus ke pulau judi rahasia, dan bertemu langsung dengan The King (Sophia Latjuba). 


Namun, ternyata The King bersekongkol dengan Dokter Pandji yang hendak membalas dendam, sehingga para agen ini dijebloskan ke serangkaian permainan maut rancangan The King, dan keselamatan mereka jadi bahan taruhan judi online internasional. Sementara itu, Cynthia masih terus berupaya mengungkap identitas kedelapan agen ini, yang justru menyeretnya juga ke pulau milik The King. Bagian cerita inilah yang hendak diselesaikan dalam Casino Kings Part 2: apakah para agen Comic 8 dapat menyesaikan misinya, dan apakah kali ini mereka dapat kembali lolos dari pengejaran pihak berwajib.



Casino Kings Part 2 adalah sebuah klimaks panjang dari keseluruhan ceritanya. Inti utama ceritanya sudah dijabarkan di Casino Kings Part 1, sehingga di paruh kedua penonton tinggal menanti rentetan aksi dari para karakternya dalam mencapai tujuan masing-masing, ditambah pengungkapan satu, dua detail baru, seperti siapa sebenarnya The King.

Mungkin itu sebabnya pula penuturan Casino Kings Part 2 adalah yang paling linear danstraightforward dibandingkan dua film sebelumnya—apalagi sebagian besar karakternya yang banyak itu sudah "tereliminasi" sehingga tersisa sekitar sepertiganya. Dalam gambaran besarnya, pokok dari film ini adalah aksi tembak-tembakan, kejar-kejaran, pertarungan, serta selipan-selipan komedi di antaranya, semua atas nama entertainment.


Ketika Casino Kings Part 2 hadir dengan memaksimalkan unsur hiburannya, sulit dihindari untuk tidak menilai film ini dari segi teknisnya. Di satu sisi, perlu diapresiasi bahwa di film ini masih bisa menampilkan rancangan adegan laga digabung dengan komedi yang masih memberi efek menghibur. Ketika cerita bergulir semakin absurd dan nyeleneh, semuanya masih sejalan dengan corak keseluruhan film yang memang berniat gila-gilaan. 



Di sisi lain, karena sebagian besar adegan-adegan tersebut menggunakan efek digital, harus diakui bahwa beberapa kali adegan-adegan yang menghibur itu terganggu oleh ketidaksiapan teknologi dalam memoles film dalam porsi sebanyak itu. Kalau mau dibandingkan, Casino Kings Part 1 lebih bisa menghadirkan gambar dan efek digital yang lebih nyaman dilihat. Pada akhirnya, bagian yang ditampilkan maksimal adalah adegan-adegan seperti pertemuan para agen Comic 8 dengan para petarung senior atau duel Cynthia dan Bella (Hannah Al Rashid), yang justru tak menggunakan banyak sentuhan efek digital.



Satu lagi yang cukup disayangkan adalah film ini seperti kewalahan dalam menampilkan adegan-adegan laganya dalam porsi seimbang. Dalam satu momen di pertengahan, film ini harus menampilkan empat pertarungan serentak di empat tempat berbeda, yang kemudian diputuskan untuk ditampilkan secara selang-seling. Hanya saja, trik ini justru membuat intensitas setiap pertarungan jadi tanggung: ketika mau mencapai bagian paling seru, langsung pindah ke tempat lain. Inilah salah satu hal yang membuat ritme Casino Kings Part 2 tampak tidak se-exciting film-film sebelumnya.


Menyaksikan Comic 8: Casino Kings, baik Part 1 dan Part 2 akhirnya menimbulkan sebuah pengandaian, bagaimana jadinya jika dibuat satu film saja, dan tidak harus dirilis terlalu cepat. Cukup nyata terlihat di Casino Kings Part 1 bahwa banyak bagian yang dapat dihilangkan sehingga dapat merampingkan durasi cerita ini secara keseluruhan, bahkan mungkin tak perlu dibelah dua—meski akhirnya berisiko menghilangkan sejumlah karakter yang dimainkan orang-orang terkenal juga. 



Dan, bila diberi waktu yang lebih lama, mungkin polesan teknis film ini bisa lebih maksimal. Toh, terbukti dari penjualan tiket Casino Kings Part 2 yang bombastis di bioskop-bioskop, momentum terhadap film ini belum luntur sekalipun jaraknya sudah lebih dari dua tahun sejak film pertamanya, bahwa para penggemar film ini—atau fans para pemainnya—masih tetap antusias.



Namun, terlepas dari itu, Casino Kings Part 2 membuktikan bahwa Indonesia punya potensi dalam membuat film-film blockbuster-nya sendiri. Tentu ada banyak faktor dalam menentukan kualitas maupun kesuksesan sebuah film—Casino Kings Part 2 sendiri diketahui sangat gencar dalam berpromosi.

Tetapi, kenekatan sutradara Anggy Umbara dan rumah produksi Falcon Pictures membuat sebuah film skala besar penuh adegan fantastis dengan tujuan mengejar standar seperti blockbuster Hollywood, yang jadi kesukaan sebagian besar penonton film Indonesia, paling tidak mencoba mendorong banyak pihak untuk melihat bahwa Indonesia bisa, jika diberi kesempatan.
Habibie & Ainun
habibie ainun
Siapa yang tidak mengenal Bapak Burhanuddin Jusuf Habibie? Beliau merupakan Presiden Republik Indonesia ke-3 yang menggantikan presiden sebelumnya, yaitu Bapak  Suharto. Habibie memimpin Indonesia saat Indonesia sedang berada di ujung tanduk. Krisis moneter tengah menjerat perekonomian Indonesia kala itu. Habibie sebagai sosok yang dianggap memiliki kecerdasan di ataas manusia normal bahkan jenius sekalipun harus memikul beban yang sangat berat guna menyelesaikan permasalahan bangsa kala itu. Ditambah lagi, terjadi krisis kepercayaan dari masyarakat Indonesia dikarenakan Habibie dianggap masih memiliki visi yang sama dengan Suharto. Mantan Menteri Riset dan Teknologi itupun hanya menjabat sebagai presiden selama sekitar 1,5 tahun saja.
Kisah hidup beliaupun dituangkan ke dalam sebuah buku yang berjudul Habibie & Ainun. Buku tersebut beliau persembahkan untuk istri beliau yang meninggal dunia akibat menderita kanker ganas. Sang penulis buku tersebut yang tak lain tak bukan adalah Habibie sendiri tidak menyangka bahwa bukunya menjadi salah satu buku terlaris. Buku tersebut diangkat ke dalam sebuah film layar lebar dengan judul yang sama. Reza Rahardian berperan sebagai Habibie dan Esa Sigit berperan sebagai Habibie kecil. Sedangkan Ibu Ainun diperankan oleh Bunga Citra Lestari.
buku habibie ainun
Film garapan sutradara Faozan Rizal ini dimulai dengan adegan Habibie saat kecil. Saat masih kecil, Habibie (Esa Sigit) suka mengolok Ainun yang kala itu berkulit hitam dan tergolong gadis tomboi. Beberapa tahun kemudian, Habibie tumbuh menjadi sesosok pemuda dengan otak yang sangat brilliant. Habibie (Reza Rahardian) mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi ke Jerman setelah menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung yang tidak sempat terselesaikan. Habibie berlibur ke Indonesia setelah ia menyelesaikan studinya di  Jerman. Habibie diajak oleh pamannya untuk datang ke rumah keluarga Bestari (keluarga Ainun). Habibie terkejut saat ia melihat Ainun yang telah tumbuh menjadi gadis cantik dan berkulit putih. Sontak ia berkata, “Rupanya gula jawa telah berubah menjadi gula pasir”.
Setelah pertemuan tersebut, mereka pun merajut cinta. Ainun yang berprofesi sebagai dokter anak ternyata memiliki banyak ‘penggemar pria’. Namun, Ainun tidak memerdulikan pria lain selain Habibie seorang. Habibie pun melamar Ainun dan mengajak Ainun untuk tinggal bersamanya di Jerman. Ainun menerima lamaran Habibie. Mereka menikah lalu memulai membina keluarga di Jerman. Habibie dan Ainun hidup dalam kesederhanaan di Jerman. Dalam suatu adegan diceritakan bahwa Habibie harus menambal sepatunya yang berlubang dengan kertas coretan saat musim salju. Keadaan ekonomi keluarga mereka berubah saat Habibie berhasil menemukan sebuah rancangan kereta api pengangkut beban yang baru. Keluarga mereka juga diramaikan dengan kehadiran dua orang putra, Ilham Akbar dan Thareq Kemal. Habibie dan Ainun mendapat cobaan ringan saat ternyata Ainun divonis mengidap kanker. Akan tetapi, kanker tersebut berhasil disembuhkan oleh tim dokter yang menangani Ainun saat itu.
Sejak awal, Habibie memang bertekad untuk membangun dunia perindustrian Indonesia. Habibie merasa hal tersebut merupakan kewajiban bagi dirinya mengingat ia adalah orang Indonesia. Keinginan tersebut terwujud saat Presiden Suharto menunjuk beliau sebagai Menristek dan menugaskan beliau untuk membangun industri pembuatan kapal terbang di Indonesia. Akhirnya, pesawat terbang pertama buatan anak Indonesia berhasil diterbangkan dengan disaksikan langsung oleh Presiden Suharto. Habibie pun dipilih Suharto untuk mendampinginya sebagai Wakil Presiden RI. Habibie menggantikan Suharto sebagai Presiden RI setelah pengunduran diri Suharto pasca kerusuhan 1998.
Habibie memutuskan untuk tidak mencalonkan lagi sebagai Presiden RI agar dapat menikmati masa tuanya bersama keluarga yang sangat ia cintai. Bertahun-tahun Habibie menikmati kehidupannya pasca menjabat sebagai presiden. Sebuah kabar buruk mendatangi Habibie dan Ainun saat ternyata dokter memberitahu mereka bahwa Ainun kembali mengidap kanker. Namun, kanker yang diderita Ainun kali ini telah menyebar ke bagian organ tubuh yang lain. Ainun langsung dibawa ke Jerman. Ainun mendapatkan perawatan intensif dari tim medis di Rumah Sakit di Jerman. Akan tetapi, Tuhan berkata lain. Ainun meninggal dunia beberapa hari setelah ulang tahun pernikahannya bersama Habibie. Ainun dimakamkan di Indonesia di mana Presiden yang sedang menjabat saat ini, Susilo Bambang Yodhoyono, memimpin langsung upacara pemakaman Ibu Ainun.
Film tersebut menggambarkan dengan sempurna bagaimana kisah cinta klasik antara Habibie dan Ainun. Film tersebut juga menggambarkan dengan jelas bagaimana kejeniusan Habibie dan kegigihannya dalam memimpin Indonesia. Habibie dan Ainun telah menyadarkan kita bahwa di balik kesuksesan seorang pria pasti terdapat peran seorang wanita hebat. Hj. Asri Ainun Habibie telah mendampingi Habibie hingga Habibie mencapai puncak kariernya. Film ini sangat menginspirasi generasi muda khususnya para ‘engineer’ untuk kembali membangun bangsa yang sedang mati suri ini dan sangat direkomendasikan sekali untuk ditonton.
Hal yang sangat disayangkan dari film yang berdurasi 118 menit ini adalah beberapa adegan romantis yang ditulis secara jelas oleh Habibie di dalam buku tidak ditampilkan di dalam film. Salah satu adegan yang menurut saya wajib ada namun ternyata dihilangkan adalah saat dimana Habibie berjanji kepada Ainun untuk selalu berada dalam satu atap selama ia berada dalam kondisi kritis. Apalagi, Habibie sempat berfikir untuk ikut masuk ke liang lahat saat Ainun akan dimakamkan. Lalu, terdapat beberapa adegan yang menayangkan produk-produk sponsor yang terkadang mengundang gelak tawa penonton. Salju yang jatuh di dalam salah satu adegan juga terlihat sangat tidak nyata.
Terlepas dari beberapa kekurangan film ini, film ini merupakan film yang tepat untuk ditonton bagi pasangan kekasih maupun suami-istri yang ingin mencari tahu seperti apa pasangan yang hidup dengan asas cinta yang abadi. Film ini juga dapat menginspiraasi generasi muda agar mencontoh Habibie dalam proses pembangunan bangsa mengingat bangsa ini kekurangan figur seorang pemimpin yang brilliant. Film yang akan diputar di beberapa negara ini juga telah menorehkan beberapa rekor baru dalam segi jumlah penonton. Kisah cinta Habibie dan Ainun telah menyihir maasyarakat Indonesia. Kisah cinta romantik nan klasik.
Merantau
Dalam tradisi Minangkabau, setiap anak laki-laki suatu hari akan pergi meninggalkan tanah kelahiran mereka dan berjalan mencari pengalaman hidup. Pengalaman hidup yang akan membuatnya menjadi lelaki sejati.
Sepenggal kalimat pembuka dari Merantau, mengantarkan kita ke tanah Minangkabau, Sumatera Barat. Di tempat inilah seorang pemuda bernama Yuda (Iko Uwais) tinggal bersama Ibu dan Kakaknya. Tradisi mengharuskan pemuda yang sehari-hari bekerja di ladang milik keluarga ini dan berlatih silat, untuk merantau dan meninggalkan tempat dimana dia tumbuh. Berbekal ilmu beladiri “Silat Harimau” yang sangat dikuasainya serta doa restu dari Ibu dan Kakaknya, Yuda memulai langkahnya untuk menaklukan kota Jakarta.
Setibanya di kota besar, kenyataan berkata lain. Apa yang dibayangkan Yuda sebelum dia menginjakkan kakinya di ibukota, ternyata jauh berbeda dengan apa yang dia lihat dan rasakan. Setelah menemukan alamat yang ada di catatannya sudah tidak berbentuk rumah dan tidak ada seorangpun yang bisa dia hubungi, Yuda harus merelakan tidur di tempat yang tidak layak. Hari berikutnya, keberuntungan belum berpihak kepadanya. Mimpinya untuk mempunyai tempat melatih silat sendiri tampaknya harus dia simpan dulu. Satu masalah belum selesai, Yuda malah bertemu dengan masalah baru. Dia harus mengejar anak kecil yang mengambil dompetnya. Anak kecil yang kelak diketahui bernama Adit inilah yang membawa “Sang Jagoan” untuk memulai aksi kecilnya.
Yuda dan Guru
Yuda berusaha menolong seorang perempuan bernama Astri yang ternyata adalah kakak dari Adit yang sempat dikejarnya. Mengeluarkan sedikit keahlian silatnya, Yuda berhasil memberi pelajaran kecil pada Johni, orang yang berlaku kasar pada Astri. Namun pertolongan spontan Yuda tampaknya tidak diterima oleh perempuan yang baru saja ditolongnya ini. Astri malah marah karena dia berpikir kalau “sang pahlawan kesiangan”-nya itu sudah membuatnya kehilangan pekerjaan. Dari pertemuan tak manis inilah, Yuda akan memulai petualangan barunya di sisi hitam kota Jakarta. Berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran dan ucapan ibu tercinta di kampung halaman yang selalu diingatnya, nampaknya kejahatan  akan bertemu lawan tandingnya kali ini. Lawannya itu bernama Yuda.
Apa yang gw saksikan dari Merantau selama 2 jam lebih adalah sebuah perjalanan menarik dari film Indonesia. Tentu saja, ini adalah film yang gw tunggu-tunggu untuk segera ditonton karena menawarkan sesuatu yang jelas berbeda. Maka pantaslah kalau gw memilih film yang mengeskplorasi keindahan alam Indonesia dan seni beladiri asli dari bangsa kita ini untuk sekali lagi jadi alasan gw pergi ke bioskop menonton film Indonesia.
Yuda dan Eric
Ditengah kejenuhan film-film tidak bermutu dan tidak berkualitas yang biasanya membawa tema horor dan komedi “dewasa”. Merantau hadir dengan mengusung genre action, kerinduan dan dahaga gw sebagai penikmat film berisi baku hantam dibayar sudah oleh film ini. Gw yang sudah lupa kapan terakhir menonton film action Indonesia, salut dan memberikan nilai  plus dengan film yang berani berjalan di sisi berbeda dengan modal seni beladiri pencak silat ini. Lalu apa yang sebenarnya menarik dari film ini? Kekuatan apa yang dipunyai film ini? adakah kekecewaan dan kekurangan dari film ini?
Film ini memang punya elemen-elemen pendukung yang bisa membuat film ini menarik untuk ditonton dari awal sampai ending. Dari segi action sudah jelas itulah modal terkuat dan menjual dari film ini, gw berdecak kagum dengan variasi perkelahian yang ditampilkan Iko Uwais yang berperan sebagai Yuda. Pencak Silat yang dipertontonkan sungguh luar biasa, memanjakan mata ini dengan aksi-aksi Yuda untuk bertahan, mengelak, dan menyerang musuh-musuhnya. Gerakan-gerakannya yang terkadang tidak biasa, keluwesan dan spontanitas Yuda dalam beraksi di percantik juga dengan angel kamera yang ciamik. Gw emang bukan ahli dalam silat dan tehnik mengambil gambar, tapi sesuai dengan apa yang gw lihat, silat di film ini betul-betul indah. Semakin bangga gw dengan pencak silat.
Yuda in Action
Sekilas gw sebut soal “ngambil gambar” sebelumnya. Yup!! pengambilan gambar di film ini juga bisa dikatakan baik dalam menangkap setiap adegan demi adegan perkelahian dan pergerakan Yuda yang notabennya penuh kejutan. Film ini juga banyak disuguhkan aksi-aksi seru yang kreatif, kadang diselipkan juga komedi yang menurut gw lumayan lucu.
Kelebihan film ini belom selesai, gw paling suka faktor pendukung yang satu ini. Bag-Big-Bug!!! Praaaaang!!! Memang seperti inilah seharusnya film action, Sound Effectnya di film ini benar-benar dasyat. Suara-suara pukulan kadang bikin gw merasa terpukul juga. Kaca pecah, bantingan kursi, pukulan mengenai tulang, jadi semakin nyata aja adegan perkelahiannya.
Sisi akting para pemainnya bisa dibilang lumayan, yang paling menonjol memang Iko Uwais. Selain pandai bermain silat disini, Si Jagoan di film ini  juga bisa mengimbanginya dengan akting yang tidak kaku. Malah menurut gw dia bisa memerankan tokoh Yuda dengan baik. Christine Hakim, walau perannya sedikit, tapi jempolan deh buat peran Ibu yang ditinggal pergi anaknya. Sebagian besar pemainnya sangat mendukung, memang tidak istimewa dalam berakting tapi yang jelas cukup bisa membawakan perannya dengan baik.
Yuda
Nah lho!! Gw malah terganggu dengan akting Astri, entahlah peran dia sok kasar dan tidak tahu terima kasih terasa aneh di film ini. Jujur cewek ini seharusnya jadi peran tidak penting alias pemanis aja, tapi kenyataannya hehehe malah sebaliknya. Asli gw nga dapet “feel” sedih ketika dia beradu akting dengan adiknya. Feel itu malah gw dapetin ketika The Last Battle, tapi justru bukan dari si Astri tapi dari Mister Boss.
Film ini memang tidak sesempurna apa yang dibayangkan. Durasi yang lama mengakibatkan tensi yang seharusnya tinggi oleh faktor action jadi turun naik. Ketika kita disuguhkan perkelahian yang seru, seketika itu juga adegan berpindah menuju drama-nya film ini. Adegan yang di-dramatisir untuk membuat penonton tersentuh memang sah-sah saja, tapi penempatannya kadang mengganggu. Lagi-lagi faktor Astri, mencoreng drama di film ini dan mungkin keseluruhan film. Satu sisi gw menyukai drama yang ingin disisipkan sang sutradara, gw bukan orang yang anti-drama di film action. Gw akan nikmatin drama itu sebagai sebuah hiburan tambahan. Tapi jelas kenikmatan gw sedikit buyar dengan tokoh “gadis yang harus ditolong” ini. Untungnya masih ada adegan-adegan menyentuh lain yang bisa gw nikmatin. Jadi drama di film ini sebenarnya bisa saja dibuang hehehehe. Semoga versi 106 menit untuk rilis di internasional bisa memperbaiki kekurangan yang ada.
Yuda in Action
Secara keseluruhan, Merantau adalah film yang patut ditonton. Cerita yang ringan dan tidak berbelit-belit yang memang diperuntukan untuk hiburan jadi alasan tepat untuk menyaksikan film ini
The Raid 2:Berandal
Poster utama film The Raid
Gareth Evans selaku sutradara benar-benar menuntaskan janjinya menciptakan film aksi dengan konflik serta drama yang kelam dalam film ini. Itu terbukti, dibanding The Raid 1 yang 'hanya' menampilkan serangan polisi elite ke sarang gerbong narkoba, The Raid 2 menampilkan lebih dari itu. Pertarungan besar di penjara, intrik kotor para politisi dan mafia sadis, perebutan kekuasaan ayah-anak, kejar-kejaran mobil yang dahsyat, sampai adegan seorang cewek cantik membunuh sekelompok orang dalam kereta dengan merobek tubuh lawannya dengan dua biji palu. Brutal!

Gareth membuka cerita dengan kelam menggambarkan lanjutan hubungan Rama-Indra, adik-kakak yang dipisahkan ideologi, setelah kejadian akhir pada The Raid 1. Sebuah adegan yg tampak berhasil membuat penonton memekik tertahan dengan muncratan darah yang 'untungnya' lolos dari hadangan sensor. Juga dengan konflik dingin ayah anak mafia yang berendus pada ambisi besar Uco (Arifin Putra) yang sangat bernafsu mengambil alih kekuasaan ayahnya, Bangun (Tio Pakusadewo) untuk menguasai Jakarta. Lalu ada sosok Bejo (Alex Abbad) gangster muda yang tenang, cerdas, dan licik, yang pada akhirnya adalah kunci dalam cerita ini.

Semuanya mampu diramu dengan baik oleh Gareth dalam dongengnya kali ini. Gareth tampak sabar mengurai benang kusut yang disebarnya di awal sketsa dan membuat penonton berkali-kali bilang "wah ternyata..." pada setiap stage alurnya.

Namun semua tak akan berjalan baik jika tak ada sokongan kamera yang menawan dari duo DOP film ini. Koreografi yang disiapkan 3 tahun lebih betul-betul ganas dalam rekaman kamera film ini. Duel di penjara, di kereta, sampai pertarungan kampret Iko vs Cecep Arif Rahman itu betyl-betul bikin gw terperangah. Namun yang paling fenomenal adalah adegan kebut-kebutan di jalan, yang ngehancurin satu halte busway, hancur beneran, sumpah! Gw udah liat video Behid The Scene-nya ternyata betul-betul pengambilan kamera untuk adegan ini direncanakan dengan sangat matang. Bahkan syutingnya aja lebih dari sebulan, padahal adegan di filmnya mungkin cuman sekitar 15 menit.

Score yang mengaum di sepanjang film juga semakin menambah kelam film ini, ada bercokol scoring musik film Tron : Legacy di dalamnya yang sudah jadi ajian pamungkas Gareth untuk memunculkan aura megah dalam film berbudet 60 miliyar ini.

Sebagai film aksi dunia terbaik sepanjang masa, The Raid 2 tentu gak mau kalah sama prekuelnya. Koreografi yang dirancang khusus oleh Iko Uwais dan Yayan Ruhian ini jauh lebih banyak dibanding The Raid Redemption. Jauh lebih ganas? pasti. Jika di The Raid 1 kita menilai adegan paling sadis adalah ketika Rama membunuh Mat Dog menggunakan pecahan bohlam, maka di sini kita akan merinding melihat Julie Estele merobek muka musuhnya menggunakan ujung lancip belakang kepala palu. Kita juga melihat adegan koreogrefi pertempuran keren di penjara antara ratusan narapidana dan sipir yang beradu nyali di atas lumpur tebal dan luas. Gw sendiri gak bisa ngebayangin gimana gilanya si Iko ngebikin koreo perkelahian ratusan orang sekaligus itu. Dan tentu saja adegan fighting terbaik ada dua menurut gw, Iko melawan Julie Estelle & Cowok bersenjata pemukul basebaal (entahlah gw lupa namanya), serta pertarungan Iko vs Cecep Arif Rahman yang kampret bikin deg-degan itu. Gw yakin kalau Jackie Chan nonton adegan laga yg mencengangkan di film ini ia mungkin akan ngerasa minder. Bahkan para penggiat film Hollywood menyatakan bahwa gak akan ada yang bisa menandingi bahkan menyamai ke"kampretan" koreografi laga silat asli Indonesia milik The Raid 2 ini. Gw sepakat, adegan laganya bener2 bangs*t gila!!!! Film Jacky Chan mah gak ada apa-apanya.

Untuk departemen akting, Iko mungkin beberapa tingkat lebih berkembang dibanding The Raid Redemption atau Man of Thai Chi. Jika di 2 film tersebut ia jarang mendapatkan porsi untuk berakting selayaknya aktor besar (mimik muka dan dialog) dan cenderung cuman gebukin orang. Namun di film ini, Iko membuktikan dirinya bukan cuman sekedar jago ngehancurin muka orang. Meski ada beberapa dialog yg dia ucapin terlalu cepet, namun gw rasa dia udah sangat maksimal.

Tio Pakusadewo yang didaulat menjadi bos mafia bernama Bangun, Singa Tua yang lelah, nampaknya menurut gw masih belum bisa menampakkan aura sedingin yang ditampilkan Ray Sahetapi di film pertama. Mungkin ini sesuai dengan keinginan Gareth yang menciptakan karakter Bangun sebagai mafia yang lelah. Namun masih saja menurut gw, dia kurang buas. Masih kalah sama Sosok Tama (Ray Sahetapi) dalam The Raid 1 saat bilang "....Dan selamat bersenang-senang." dengan dinginnya, gw aja merinding denger itu. Tapi Tio sudah berbuat maksimal, setidaknya ia sudah mampu membuat gw merekam karakternya sebagai singa tua yang lelah.

Oka Antara mungkin adalah karakter yang paling gak gw mengerti fungsinya di film ini selain sebagai tangan kanan Bangun. Namun di ujung kisah, kita akan tahu, apa sebenarnya peran dari orang ini. Yayan Ruhian adalah idola gw! Terutama karena dengan penampilannya yang udah mau nyaingin Joko Bodo dan berhasil ngawinin Marsha Timothy (yang sumpah gw gak nyangka dan memorable banget). Pembunuh bayaran yang mati dengan kesepian sambil memegang erat foto anak tercintanya. Julie Estelle, meski gak kebagian dialog, namun penampakkannya yang sadis ngerobek tubuh musuh pake palu kayak ngerobek bungkusan kebab berhasil bikin gw menggeleng-geleng takjub, cantik tapi brutal.

Dan ada juga aktor pendatang baru, Cecep Arif Rahman, yang menggantikan porsi Mat Dog di film pertama adalah lawan tertangguh bagi Rama. Jika Prakoso (Yayan Ruhian) mampu menghadapi 20 orang sekaligus, makan Cecep mampu membunuh Prakoso tidak kurang dari satu menit. Dia hadir nyaris tanpa dialog, hanya dengan tatapan tajam bernada sinis dingin yang bikin gw berpikir buat ketemu suzanna aja ketimbang dipelototin ama dia. Selain itu juga ada aktor gaek Cok Simbara, polisi bersih, yang juga atasan Rama yang gak banyak diceritakan adegannya di sini, yg bikin gw geli adalah saat dia ngomong dengan kata ganti "gue, saya, aku, elu" secara gak konsisten. Tapi dialah dalang dari masuknya Rama dalam kekacauan ini. Juga ada Bejo yang diperankan oleh Alex Abbad, gangster muda yang tenang, yang sejujurnya adalah incaran rama dari awal. Akting Alex Abbad memang tak dapat diragukan, ia adalah kunci dari kebrutalan para gang ini, sekaligus aktor utama permainan kotor yang melibatkan para elit negeri. Kesuksesan akting Alex Abbad tergambar jelas ketika dia senyum aja gw bawaannya mau nimpuk layar bioskop pake sendal. Selain nama-nama di atas juga ada tridente asal Jepang yang di seri ini gak terlalu maksimal kemunculannya, padahal gw berharap lebih, seperti misalnya jika saja ada adegan mereka menculik Maria Ozawa untuk menyogok Iko Uwais agar gak membunuh mereka. Tapi gw yakin, melihat ending film kedua ini, trio mafia Jepang ini akan menjadi amunisi utama dalam film The Raid 3 yang udah disiapin Gareth Evans.

Dan juaranya tentu saja adalah Arifin Putra yang menjelma menjadi karakter Uco , putra semata Bangun, yang memiliki ambisi besar untuk menggantikan ayahnya sebagai bos mafia besar, namun karena ambisinya tersebut ia malah terlihat bodoh dimanfaatkan sama orang2 yg bermaksud buruk sama bokapnya. Yup! Arifin Putra dengan tak disangkal lagi adalah penampil terbaik di pertunjukkan ini, gayanya yang sok kuasa, temperamen, ceroboh, ambisius, dan merasa hidupnya tak lebih dari sekedar anak papi yang berlindung di bawah ketek bokapnya berhasil dibawakannya dengan tanpa cela. Dan menjelang ending, kalian akan melihat adegan Arifin Putra yang begitu keren yang bikin kalian akan berpikir untuk mengutuknya menjadi batu ginjal. Aplause memang pantas diberikan untuknya.

Memang ada juga yang kecewa dengan The Raid 2 ini, apalagi jika mereka yang membandingkan dengan The Raid 1. Parameternya jelas berbeda. The Raid 2 memang terkesan agak kelam dan berplot lamban karena mengusung drama serta konflik yang gak cuman gebukin orang kayak The Raid 1. Selain itu kesuksesan luar biasa yang di raih film pendahulunya itu membuat The Raid 2 cukup terbebani. Namun, buat kalian yang mau nonton, gak usah pikirin hal itu. Gak usah dibanding-bandingin sama yg pertama, karena gw udah bilang, yg pertama konfliknya hanya 1 sedangkan yang ini konfliknya berlapis, ya wajarlah Gareth harus pelah-pelan membuka benang kusutnya agar penonton mudah mengerti jalan ceritanya. Selain itu The Raid 2 emang dihadirkan untuk menyambut film terakhirnya : The Raid 3 yang mungkin akan rilis 2016 mendatang.

The Raid 2 ini jelas lebih brutal, lebih banyak darah, lebih banyak usus terburai, dan sebagainya. Kalau itu saja belum cukup, maka akan ada adegan wajah ditempel ke penggorengan restoran Jepang yang lagi menyala, dan kalian akan lihat kulit manusia melepuh total mengerikan. Tapi adegan tersadis menurut gw (bahkan gw sedikit menutup mulut gw) adalah ketika cewek secantik dan sebening Julie Estelle dirobek lehernya sama Iko Uwais pake palunya sendiri. 

Dan ada juga kejutan dari penampakkan Epy Kusnandar (komedian yg biasanya jadi penghulu dan pernah jadi satpam di sitkom Suami-suami takut istri), Epy di sini (hebatnya) berakting serius sebagai bos kaset por*o ilegal menyerang gangnya Bangun dan Rama menggunakan senjata api sambil mengenakan kaos kutang! gak selesai sampai situ, ia juga terlibat duel satu lawan satu tanpa senjata lawan Iko Uwais yg punya badan sixpack! Kalian akan lihat tubuh kurus komedian ini dihajar Iko pake berbagai benda di sekitarnya sampe belepotan darah dan mukanya hancur! sadis!

So! Film ini memang gila, film Indonesia (bahkan dunia) tergila yg pernah gw tonton. Brutal! Darah muncrat, muka hancur, wajah melepuh, usus terburai, leher robek, bahkan wajah yang penyok dipukul pake stik baseball bener2 ditampilkan tanpa sensor. Makanya yg nonton mesti kuat iman, kuat mental, dan bukan penggemar Farhat Abbas.

Tapi ada satu hal yang menggenaskan, masih ada orang tua yang ngajak anaknya yg masih di bawah umur buat nonton film ini. Jadi tolong dgn sangat buat kamu yg nonton, jangan bawa anak kecil. perlu kedewasaan untuk mencerna adegan kekerasaan tanpa batas yang ditampilkan film ini. Tadi aja di 21 palma gw lihat ada anak kecil dibawa ortunya nonton. Gw bakal ngetag catatan ini ke akunnya 21 palma, agar lebih ketat menyeleksi penonton yang masuk ke studio. ingat sekali lagi : JANGAN BAWA ANAK DI BAWAH USIA 17 TAHUN MENONTON FILM INI.
The Raid:Redemption



Hasil gambar untuk the raid redemption



Sinopsis Film The Raid : Redemption
Di jantung daerah kumuh Jakarta berdiri sebuah gedung apartemen tua yang menjadi markas persembunyian para pembunuh dan bandit kelas dunia yang paling berbahaya. Sampai saat ini, blok apartemen kumuh tersebut telah dianggap tidak pernah tersentuh siapa pun, bahkan untuk perwira polisi yang paling berani sekalipun. Diam-diam di bawah kegelapan dan keheningan fajar, sebuah tim elit SWAT (pasukan khusus) berjumlah 20 orang ditugaskan untuk menyerbu apartemen persembunyian tersebut untuk menyergap gembong narkotik terkenal yang menguasai gedung tersebut.

Tapi ketika sebuah pertemuan dengan seorang pengintai membuka rencana mereka dan berita tentang serangan mereka mencapai sang gembong narkotik, lampu dalam gedung tiba-tiba padam dan semua pintu keluar diblokir. Terdampar di lantai enam dan tanpa jalan keluar, satuan khusus tersebut harus berjuang melawan penjahat-penjahat terburuk dan terkejam untuk bertahan hidup dalam misi penyerbuan tersebut.