Tampilkan postingan dengan label Crime Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Crime Film. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 September 2016

Sicario

"You will not survive here. You are not a wolf, and this is a land of wolves now."

Begitu banyak kata yang dapat digunakan untuk secara singkat menggambarkan Sicario, yang memiliki arti Hitman, namun ada satu kata yang sangat tepat untuk memulai semuanya: sick! Ya, sakit, Sicario merupakan sebuah sajian thriller yang sakit, ibarat sebuah taman bermain ia seperti sebuah rumah hantu dengan kualitas yang sangat baik, akan membuat pengunjungnya merasa waspada ketika masuk, mulai merasakan kecemasan yang terus meningkat, semakin terjebak dalam ketegangan hingga akhirnya merasa di hantui ketika telah sampai di garis finish. Sicario: a sick thriller.

Kate Macer (Emily Blunt) mungkin tidak pernah menyangka peristiwa di Arizona itu pada akhirnya membawa ia menembus perbatasan Meksiko untuk terjebak di dalam sebuah misi yang tidak hanya menguras energi namun juga emosi. Berawal dari kesuksesan di Arizona ketika Kate bersama rekannya Reggie Wayne (Daniel Kaluuya) serta tim berhasil menemukan “sesuatu” yang sangat mengejutkan, Kate yang berprofesi sebagai agent FBI Special Weapons and Tactics Teams dipanggil oleh sang boss Dave Jennings (Victor Garber) untuk kemudian bertemu dengan beberapa pria, salah satunya Matt Graver (Josh Brolin), penasihat Departemen Keamanan.

Matt sedang memimpin sebuah misi untuk menemukan seorang pria bernama Manuel Díaz yang ia yakini dapat membawa mereka menuju drug lord bernama Fausto Alarcón (Julio Cedillo), pria yang ia sebut sebagai “a ghost”. Kate dan Matt tidak sendirian di baris depan misi tersebut karena dalam perjalanan menuju El Paso hadir Alejandro Gillick (Benicio del Toro), pria misterius yang sekilas sedang berada dalam masalah. Ternyata Alejandro merupakan clue awal bagi Kate, karena saat dalam perjalanan pulang dari Juárez, Meksiko, Kate sadar bahwa ia telah menjadi seekor bulldog yang terjebak di dalam pertarungan para serigala.


Dia memang berhasil menjadikan Enemy penuh trik dan tanda tanya sehingga ketika selesai misteri yang ia miliki masih terus mengganggu penonton, dia juga berhasil menjadikan Prisoners sebagai drama misteri yang manis hanya dengan menggunakan sebuah problema sederhana, namun for me Sicario merupakan karya terbaik dari Denis Villeneuve setelah Incendies. Sicario seperti menggabungkan Enemy dan Prisoners, misteri berada di level yang sedikit rendah dari Enemy namun tetap hadir dengan taji yang mematikan, dan gabungkan itu bersama thrill serta intensitas cerita sedikit lebih tinggi dari Prisoners. Hasilnya, sebuah crime thriller yang membuat penonton terus waspada hingga akhir dan kemudian meninggalkan mereka dengan rasa horror. 

Pada dasarnya Sicario mengemban misi sederhana, seperti pengandaian yang digunakan tadi script yang di tulis oleh Taylor Sheridan berisikan isu dimana dunia tidak selamanya hitam dan putih, namun cara isu terkait ambiguitas mematikan tersebut di olah menghasilkan “petualangan” yang tidak sederhana. Di awal semuanya tampak normal, sesuatu yang mungkin akan terasa mencurigakan jika anda telah akrab dengan bagaimana cara Villeneuve “bermain” dengan penontonnya, namun setelah itu kita dibawa secara perlahan namun ketat untuk naik menuju level berikutnya secara bertahap, hingga bertemu dengan garis finish yang seperti disebutkan sebelumnya walaupun tampak simple namun sukses meninggalkan kesan horror yang mendalam.


Kesuksesan terbesar Sicario terletak pada prestasi klasik dari seorang Villeneuve, sukses menjebak penonton lalu kemudian memaku atensi mereka dengan menggunakan misteri yang terasa padat dan asyik untuk di nanti. Hadir kesan ambigu yang oke didalam Sicario, kegelapan yang mengganggu serta menghipnotis anda dengan rasa waspada hadir dari banyak arah, dari cerita, dari karakter, dari visual, hingga berasal dari musik. Semua elemen tadi seolah sudah diberikan sebuah stuktur dimana mereka akan tampil menusuk penontonnya sehingga sejak awal hingga akhir momen dimana penonton merasa tenang cukup minim. Sebut saja score Jóhann Jóhannsson yang sangat haunting itu, tampil konstan dengan suara drum yang mengancam dan terus berputar-putar di kepala penontonnya.

Sama seperti score, sajian visual juga tidak kalah indahnya, dan for me elemen ini merupakan bagian terindah dari Sicario. Dikendalikan oleh Master bernama Roger Deakins (urgh, Academy!) Sicario adalah bukti bagaimana gambar yang di produksi suatu film punya peran yang begitu penting dalam mencapai misi yang mereka emban. Dari gerak sederhana prajurit menuju kegelapan, hingga landscape shoot dari pesawat take-off dengan pergeseran fokus pada bayangannya yang terasa indah, visual begitu banyak membantu Sicario dalam mengikat atensi penonton tanpa meninggalkan kesan menipu, mempermainkan penonton ketika mereka terjebak ambigu dan kebingungan, hingga membawa mereka dekat dengan terror untuk merasakan ketegangan cerita yang menyenangkan.


Hal yang sama juga terjadi di sektor karakter yang di rawat dengan baik oleh Villeneuve. Bagaimana Sicario membawa Kate Macer untuk terbakar secara perlahan dari segi emosi terasa manis dan halus sehingga hal tersebut begitu mudah untuk di rasakan pula oleh penonton. Begitupula dengan cara Villeneuve menjaga ketidaktahuan untuk duduk manis di pusat cerita tapi secara bertahap mencampurnya dengan rasa takut dan rasa jijik pada segala hal yang berputar didalam cerita untuk kemudian mendorong isu moral yang juga tampil ambigu. Ini yang menarik, tiga karakter utama memang tampak misterius namun ketika telah berakhir pada dasarnya mereka di hadirkan tanpa filter, seekor bulldog dan dua ekor serigala, tanpa ada pahlawan.

Mengapa pada akhirnya semua terasa ambigu? Karena logika penonton di permainkan oleh Villeneuve disini dengan berlandaskan berbagai isu sederhana, seperti too greedy misalnya, obsessive, terlalu innocent, semuanya berbahaya jika berlebihan. Sicario memang tidak sempurna, gerak mondar-mandir mungkin dapat menjadi masalah bagi beberapa penonton, namun hal tersebut tidak mengganggu terlebih dengan dengan kinerja cast yang menjalankan tugas mereka dengan baik. Fokus utama adalah Emily Blunt dan ia berhasil menenggelamkan penonton untuk ikut terjebak bersama “penderitaan” Kate Macer. Di sampingnya ada Josh Brolin yang bertugas menjadi sosok penebar ambiguitas, dan melengkapi mereka Benecio Del Toro, sekilas tampak pendamping namun merupakan kejutan manis dari Sicario, membuat darkside dari cerita berputar-putar dengan lembut, dan ketika "boom" ia terasa pas.


Overall, Sicario adalah film yang memuaskan. Denis Villeneuve bukan sutradara yang senang memberikan penontonnya rasa “nyaman” ketika berjalan bersama cerita, ia tidak membuat cerita bergandengan tangan dengan anda, yang ia lakukan adalah melepas anda bersama misteri untuk kemudian tenggelam bersamanya. Itu yang dilakukan oleh Sicario, sebuah crime thriller yang akan menyerang penontonnya dari banyak arah, dari cerita, karakter, visual, hingga music, memutar isu sederhana untuk memberikan petualangan penuh ketegangan yang manis. 
Despicable Me 2
Hasil gambar untuk review despicable me 2 indo
Siapa yang merindukan minions, makhluk kuning menggemaskan yang sering melakukan aksi konyol itu? Yes, Gru dan tiga anak angkatnya kembali membawa serombonganminions, anak buahnya, dalam sekuel film Despicable Me 2!
Kali ini, sang mantan penjahat direkrut Liga Antipenjahat untuk membantu menangkap penjahat lainnya. Bersama dengan partnernya yang cantik dan pintar bela diri, Lucy Wilde, Gru harus menyelidiki sebuah mal demi mengungkapkan rahasia penjahat legendaris, El Macho. Tentunya seluruh aksi heroik Gru diwarnai dengan berbagai tragedi lucu akibat dari gangguan anak-anaknya, kekonyolan anak buahnya, maupun sikap ceroboh Gru sendiri.
Yang menjadi pusat perhatian dari film ini adalah banyaknya screen time bagi minionsdibanding dengan film pertamanya dulu. Sang penulis, Ken Daurio dan Cico Paul memang sengaja menaruh peran lebih banyak untuk para minions karena besarnya minat pasar terhadap mereka. Jadi, dari satu setengah jam durasi keseluruhan film, hampir setengahnya akan menampilkan aksi minions yang mengocok perut. Para minionsakan lebih aktif dan cerewet di film ini dengan bahasa mereka yang disebut Minionese.Dengan suara cempreng mereka, cukup mendengarnya saja—tanpa harus mengerti—pasti bikin Anda tertawa!
Norm of The North
Hingga saat ini, saya masih bisa menikmati tontonan berpangsa pasar anak-anak. Sebagai contoh saya terhibur menonton "Curious George" berbekal segala kesederhanaan berbalut selipan pembelajarannya. Bahkan jika benar-benar senggang, saya beberapa kali menyaksikan "Teletubbies" di YouTube. Dua acara tersebut adalah contoh tontonan anak yang bagus, mampu menyeimbangkan hiburan dan pendidikan, tapi paling penting tidak membuat orang dewasa "tersiksa". Disaat acara televisi masih bisa disaksikan sendiri oleh anak di rumah, lain cerita dengan film bioskop. Mustahil mereka datang sendirian. Pasti orang tua, kakak atau kerabat lain berusia dewasa ikut menemani. Karena itu hanya ada rating "semua umur", bukan "anak kecil".

"Norm of the North" jelas dibuat dengan harapan mampu memberikan hiburan bagi penonton muda. Ceritanya sederhana, berisikan petualangan dan tarian dari para hewan yang bisa bicara. Norm adalah beruang kutub sekaligus calon raja di Antartika. Masalahnya, sebagai hewan buas, Norm justru tidak memiliki kemampuan berburu. Hatinya terlalu lembut untuk tega menerkam singa laut sebagai bahan makanan. Tapi dia punya dua kelebihan yang tidak dimiliki hewan lain: bisa bicara bahasa manusia dantwerking. Dua hal itu menjadi senjata Norm tatkala seorang manusia bernama Mr. Greene berniat membangun perumahan mewah di Antartika. Demi menyelamatkan rumahnya, Norm berangkat ke New York guna menggagalkan rencana tersebut.
Bahkan dari tampak luarnya saja film ini sudah buruk. Pada era dimana Pixar mengembangkan photo realistic imagery lewat "The Good Dinosaur", kualitas visual "Norm of the North" memang terasa murahan. Tentu membandingkan dua film dengan perbandingan bujet hampir 1:10 tidaklah bijak, tapi bahkan bila dirilis satu dekade lalu pun visualnya masih buruk. Gambar kaku berisikan objek "kotak-kotak" turut diperparah oleh kemalasan animatornya mendesain karakter. Pada sebuah adegan kala sekumpulan lemming menari, terlihat gambarnya merupakan hasil multiplying satu desain. Sewaktu setting berpindah ke New York, jika jeli anda akan mendapati beberapa figuran manusia muncul berulang-ulang. Walau sekedar background character, itu cukup membuktikan kemalasan pembuatnya.

Ceritanya pun bernasib serupa. Saya tidak menuntut naskah cerdas dari film seperti ini, tapi setidaknya janganlah terlampau bodoh. Kekurangan bukan dikarenakan kisahnya terlalu sederhana, sebaliknya, bumbu intrik politis dan korupsi dunia real estate memperlihatkan ambisi berlebihan dari naskah supaya nampak pintar. Ambisi itu tak sejalan dengan kemampuan, sehingga banyak menimbulkan pertanyaan akibat kebodohan naskahnya. Bayangkan anda menemani anak/adik, lalu mereka bertanya "maksudnya korupsi gimana?" atau korelasi alat cara kerja alat pengukur dukungan masyarakat. Penulisnya tidak malas, hanya mengalokasikan energi mereka pada aspek yang salah.
Semestinya petualangan sederhana saja sudah cukup, dimana fokus terbesar terletak pada usaha menjadikan Norm karakter likable. Modal dasar sesungguhnya telah dimiliki melihat seperti apa sosok Norm: hewan bertubuh besar, berbulu lebat, bertingkah lakuclumsy. Karakteristik serupa pernah berhasil diterapkan dalam "Kung Fu Panda". Bahkan tiga lemming berbekal keanehan mereka jelas diharapkan memberi dampak sama sebagaimana penonton jatuh cinta akan Minions. Sayang, baik karakter utama maupun sidekick tidak diberi momen cukup guna menggaet ketertarikan penonton. Mereka lebih banyak digunakan sebagai penghantar komedi slapstick monoton tak lucu. Kegagalan membuat penonton terikat pada karakter juga berarti kegagalan menyuntikkan "hati". Jangankan gejolak rasa, sepercik kehangatan pun tak ada. Film ini sedingin setting-nya.

Sekalinya menghibur adalah saat nomor musikal mulai mengisi, tapi itupun disebabkan deretan lagu catchy. Sutradara Trevor Wall tampak miskin kreativitas dalam pengemasan nomor musikal. Apa dilakukan oleh Trevor Wall selalu sama, entah melemparkan karakternya terbang ke atas, bergabung dalam tarian massal, atautwerking dari Norm. Maaf saja, tapi goyangan pantat beruang berlapis animasi buruk sama sekali tidak menghibur. But maybe it's just me. Maybe I'm too old for this shit. Maybe I'm too serious. Masih terdapat kemungkinan anak atau adik anda yang masih kecil merasa terhibur karena film ini.
Inside Man
Review Film - The Inside Man
Nama Spike Lee sebagai sutradara sebuah film akan mulai kuperhatikan semenjak sekarang. Maklum saja, The Inside Man adalah film yang paling memuaskan yang saya tonton hingga tengah tahun ini. Jalan ceritanya begitu solid dengan mengandalkan adu akting antara para pemainnya tanpa perlu dijejali adegan aksi beragam rupa. Maklum, karena ada tiga bintang besar beradu di sini (dan ada banyak juga yang tampil sebagai karakter pendukung).

Segalanya diawali dengan hari sibuk biasa di sebuah bank. Ketika semua orang tengah sibuk dengan transaksi mereka, mendadak saja ada empat orang yang datang dengan membawa senjata dan merampok bank tersebut. Alih-alih mengambil uang dan langsung meninggalkan tempat itu, mereka justru menjadikan 50 orang lebih dalam bank tersebut sebagai sandera. Jelas kepolisian menjadi panik dan langsung menerjunkan sebuah tim untuk menangani situasi tersebut.

Selagi berunding dengan para teroris yang menguasai tempat itu, perlahan demi perlahan makin banyak kejanggalan. Para teroris tersebut menuntut permintaan yang berlebihan dan absurd seperti penyediaan pesawat jet dan bus sebagai angkutan para sandera. Penyelidikan para polisi makin diperkeruh dengan turut campurnya Arthur Chase (sang pemilik bank yang disandera) karena kepentingannya sendiri. Apa yang sebenarnya adalah perampokan bank berkembang menjadi peristiwa penyanderaan - dan mungkin lebih dari sekedar itu.

Film ini adalah salah satu film heist terbaik yang pernah saya nikmati selama bertahun-tahun. Digarap dengan serius ditambah berbagai intrik di sana-sini dalam jalan ceritanya membuat saya berusaha menebak-nebak sepanjang film mengenai arah ceritanya (dan ini adalah satu dari sedikit film yang plintiran filmnya membuat saya tertipu). Plot yang menarik ini diperkuat juga dengan permainan ketiga aktornya yang padu. Beberapa kali ketiga aktor utama film ini saling beradu akting dan menampilkan performa yang kuat. Washington dan Foster, Foster dan Owen, Owen dan Washington diberi kesempatan yang sama untuk saling menunjukkan kualitas aktingnya (Foster sedikit kecil tetapi tetap mampu mencuri perhatian tiap diberi kesempatan). Satu-satunya yang saya sayangkan hanya Dafoe yang perannya terbilang minim bahkan untuk disebut sekedar sebagai peran pembantu.

Kendati demikian, The Inside Man bukannya tidak memiliki kelemahan, beberapa teman saya mengeluhkan pace cerita yang bergerak terlalu lambat dan sedikitnya adegan action yang ada. Mereka yang terbiasa dengan adegan laga atau rencana heist sinting-sintingan ala Ocean Eleven misalnya, mungkin akan kecewa melihat heist dalam film ini yang berkesan sangat sederhana (namun di mata saya sekaligus membuatnya terlihat real). Akhir kata, film ini bukan untuk dinikmati oleh semua orang. Bagi kalian yang menggemari film yang memerlukan otak anda untuk berpikir niscaya akan menggemari film ini. Sebaliknya, mereka yang lebih menggemari film bertema action sebaiknya menghindari film ini ketimbang ketiduran saat menontonnya.

Jumat, 26 Agustus 2016

Hitman:Agent 47

"Be careful, little girl, the world is a dangerous place."

Sebut saja Hitman: Agent 47 ini sebagai wujud keras kepala ataupun usaha menuntaskan rasa penasaran dari 20th Century Fox atas hak yang telah mereka beli satu dekade yang lalu: Hitman. Sebelum reboot ini lahir film pertamanya sendiri dapat dikatakan seperti butiran pasir di tepi pantai yang berhasil dibentuk menjadi sebuah istana tapi dalam waktu singkat hilang ditelan ombak, usaha latah yang walaupun sukses di segi finansial tapi tidak berhasil mengikuti jejak sesama film yang bersumber dari video games seperti Resident Evil untuk menjadi sesuatu yang memorable. Hitman: Agent 47 ini sama saja, seperti makan popcorn dengan wasabi. Ew!

Agent 47 (Rupert Friend) adalah pembunuh professional hasil percobaan sebuah kelompok rahasia yang ingin menciptakan pembunuh yang sempurna, namun suatu ketika menghadapi masalah karena proyek yang dipimpin Dr. Litvenko (Ciaran Hinds) itu hancur dan muncul perusahaan baru yang membuat tentara bayaran mutan. Petunjuk bagi Agent 47 ada padaKatia (Hannah Ware), putri Litvenko, yang ketika berusaha mencari ayahnya juga menjadi target dari Agent 47 bersama saingannya, Smith (Zachary Quinto).



Saya rasa tidak perlu menuliskan sinopsis yang begitu panjang lebar, bukan karena ia memang seringan itu melainkan karena script dan eksekusi yang dilakukan Aleksander Bach juga sejak awal seperti tidak mau repot menaruh atensi pada mereka. Hitman: Agent 47 ini seperti film dengan materi yang berasal dari video games dan coba di tampilkan kembali dengan kesan video games, tapi celakanya tidak disertai dengan tensi yang menarik. Kamu tidak perlu mengerti jauh lebih dalam tentang video games sumbernya untuk bisa menilai ini sebagai petualangan yang: datar, monton, hambar, dan membosankan. Salah satu kesuksesan Hitman: Agent 47 yang jarang film lain lakukan adalah ia punya power yang kuat untuk membuat saya beranjak dari di level 50:50 untuk mempertimbangkan walkout bahkan ketika ia bahkan belum genap berjalan selama 45 menit atau setengah jalan.



Statusnya sebagai reboot benar-benar dipegang teguh oleh film ini, ia mengulang kembali apa yang pendahulunya itu lakukan di tahun 2007 tanpa memberikan perbaikan yang oke. Tidak ada sesuatu yang baru yang menarik disini, kita menyaksikan mesin pembunuh yang anehnya tampak lebih menarik ketika ia hanya duduk diam ketimbang saat ia beraksi berkeliling Berlindan Singapore dengan pistol dan mobil Audi itu, bermain dengan layar komputer dan smartphone yang kemudian di selingi dengan aksi slo-mo yang seolah diciptakan oleh tim yang baru saja mengenal apa itu slow motion, eksekusi yang berlebihan. Oh, atau itu mungkin usaha mereka untuk mengalihkan perhatian kamu dari kacaunya cerita yang Hitman: Agent 47punya? Bisa jadi, karena harus diakui action sequences beberapa diantaranya sejenak mampu untuk sekedar mengalihkan perhatian saya dari nilai minus cerita.



Dibalik masalah-masalah tadi sebenarnya apa masalah paling mengganggu dari Hitman: Agent 47 ini? Agent 47 dikenal sebagai sosok pembunuh dengan kemampuan tingkat tinggi, tapi disini ia seperti boneka Ken yang di cukur kepalanya dan kemudian di pakaikan setelan jas dan diberikan pistol dan mobil. Penonton seharusnya diberikan sajian dengan tensi yang mumpuni karena ini pada dasarnya merupakan sebuah film action thriller, tapi Hitman: Agent 47melakukan sebaliknya, tensi cerita sering terasa terlalu tenang dengan citra kartun yang kental. Tidak mengharapkan emosi untuk ikut terlibat dalam cerita, untuk menikmati adegan action saja terkadang terasa sulit karena kualitas efek hingga stunt terasa kurang rapi dan sering kali terasa berlebihan, dan semakin lengkap karena karakter dan dialog juga seperti tidak bernyawa.



Melengkapi kesan kurang ajar dari Hitman: Agent 47 adalah ketika ia dengan berani memberikan akhir yang kurang ajar, dengan sombong seolah menggoda penonton pada apa yang akan terjadi selanjutnya jika sekuel hadir. Ini melengkapi rasa jengkel penonton, mendapatkan karakter dua bahkan satu dimensi yang tidak berhasil menjadi mesin penggerak cerita, menyaksikan eksposisi jelek dari script yang dangkal, kasar, dan kerap terasa kosong, kemudian dibumbui dengan eksekusi yang monoton sehingga menjadikan Hitman: Agent 47terasa miskin momentum, menjadikan Hitman: Agent 47 sebagai film action thriller yang ompong, sebagai film action thriller yang tidak enak.

Kingsman:The Secret Service

poster
Eggsy kecil telah tumbuh sebagai pemuda tangguh, meski ayahnya telah meninggal dunia sejak ia kecil. Yang diketahui Eggsy, sang ayah meninggal saat sedang bertugas sebagai seorang agen rahasia. Ketika kecil ia pernah bertemu dengan rekan ayahnya yang memberikan lencana milik ayahnya dan menjanjikan perlindungan untuk keluarganya. Tapi hingga Eggsy dewasa, permasalahan dalam hidupnya justru semakin banyak, menjadikannya pemuda bengal.
Suatu ketika ia ditahan kepolisian karena berbuat ulah. Akhirnya ia berhasil keluar setelah Galahad, agen rahasia yang pernah ditemuinya dulu. Galahad pun menawarkan Eggsy untuk melanjutkan posisi ayahnya sebagai agen rahasia karena melihat Eggsy memiliki potensi yang cukup besar. Karena tak punya pilihan, Eggsy akhirnya menuruti permintaan Galahad untuk ikut tes sebagai agen rahasia yang disebut Kingsman.
1
Eggsy pun mengikuti pelatihan sebagai seorang Kingsman. Sebagai calon Kingsman, Eggsy tidak hanya harus memiliki fisik yang kuat, tapi juga daya intelegensi yang tinggi. Satu-persatu kandidat Kingsman harus ditaklukan oleh Eggsy hingga menyisakan satu kandidat tersisa sebagai Kingsman, yaitu dirinya.
Dalam usaha keras Eggsy untuk lolos sebagai Kingsman, ia mengetahui bahwa saat ini organisasi agen rahasia tersebut tengah mengintai seorang taipan bernama Richmond Valentine. Organisasi Kingsman mengetahui bahwa Mr. Valentine memiliki rencana jahat untuk mengancurkan dunia. Tapi Kingsman harus memiliki bukti yang kuat untuk membongkar rencana jahat dari Mr. Valentine.  Sebelum Kingsman berhasil membongkar rencana tersebut, Valentine telah mengetahui bahwa dirinya telah diintai.
Lalu mampukah Eggsy menyelsaikan tesnya sebagai seorang Kingsman dan mengalahkan Richmond Valentine yang sangat cerdik ?
 2
Bertema James Bond Dengan Unsur Komedi Khas Kick Ass
Saat menyaksikan pertama kali film ini, yang anda rasakan pastinya adalah sentuhan komedi sarkastik dari sutradara Matthew Vaughn. Jika anda telah menyaksikan film sekuel Kick Ass (1-2) anda tentu akan sangat mengenal adegan-adegan yang ditampilkan dalam film ini.
Sepertinya sutradara Vaughn sendiri amat suka memberikan action sadis yang kemudian diganti dengan komedi yang benar-benar memecah tawa penonton. Bahkan Vaugh seolah menampilkan karakternya sendiri kedalam film, diperankan oleh Samuel L Jackson sebagai Mr. Richmond Valentine.
3
Di film Kingsman ini, penonton akan dibawa dalam pencampuran film bertema agen rahasia ala James Bond dengan film superhero action Kick Ass. Aksi spionase antara tim agen rahasia Kingsman yang berniat membongkar kejahatan dari musuh utamanya, yaitu tuan Richmond Valentine. Meski film ini memiliki tema yang cukup fresh, simple dan sangat anak muda, karena pemeran Eggsy sendiri adalah aktor muda Taron Egerton, namun jelas adegan-adegan dalam film mengkategorikan Kingsman adalah tontonan dewasa.
Aksi pertarungan dalam film didramartisasi dengan efek-visual sekitar 40%. Karena film ini mengandung unsur komedi, dramatisasi ini justru lebih banyak mengundang tawa dibandingkan decak kagum bagi para penonton. Pertarungan adu senjata jadi bagian paling banyak dimuat dalam film.
5
Ada kesan lambat panas saat menyaksikan Kingsman. Terutama bagian awal ketika Eggsy masih berlatih sebagai seorang agen, konflik dalam film masih tampak membingungkan arahnya. Begitu pula dengan humor yang masih gamang, terasa seperti Matthew Vaughn menahan laju. Mungkin  agar penonton bisa mearasakan klimaks dalam film secara perlahan dan tidak terkesan membosankan.
Kingsman juga menyuguhkan hal-hal futuristik dari perlengkapan gadget dan persenjataan canggih yang dipakai oleh agen rahasia ini. Apapun itu, yang jelas Kingman jadi satu jenis genre yang sangat menarik disaksikan di bulan Februari ini. Kingsman mulai tayang 11 Februari 2015 di bioskop-bioskop kesayangan anda.
 4
Now You See Me 2
Review Film Now You See Me 2

Di tahun 2013,  walaupun diperkuat jajaran pemain bernama besar (dua di antaranya adalah dua legenda yang sebelumnya sama-sama mendukung trilogi TDK besutan Chris Nolan, Michael Caine dan Morgan Freeman) dan gelontoran bujet sebesar $75 juta, dibandingkan film-film pesaingnya yang dirilis di bulan yang sama tahun itu, seperti Star Trek Into Darkness, Fast & Furious 6, The Hangover: Part III, After Earth maupun The Great Gatsby, Now You See Me masih kalah mentereng, baik dari segi reputasi pra-rilis maupun skala produksinya.
Akan tetapi, di luar dugaan, sineas Louis Letterier yang dipercaya mengolah pitch rumusan Boaz Yakin (Remember the Titans, Uptown Girls) dan Edward Ricourt tersebut mampu menjungkirbalikkan papan klasemen. Lewat tangan dinginnya sineas yang sebelumnya menuai kritik pedas atas kinerjanya di remake Clash of the Titans ini sukses menghadirkan paket aksi unik yang sangat menggelitik, mengawinkan tema heist dengan balutan aksi sulap panggung dan pembeberan rahasia trik pintarnya. Hasilnya, Now You See Me melejit menjadi film kuda hitam pada tahun itu.
Meninggalkan beberapa lubang yang ditengarai sengaja guna membuka kemungkinan kemunculan kisah sekuelnya, bukan langkah yang sulit diduga jika kemudian pihak Lionsgate memberi lampu hijau pada kisah kelanjutannya, yang hasilnya adalah film ini. Meski demikian, berbeda dengan penggarapan film satelitnya, sang nahkoda, Letterier absen dari kursi penyutradaraan, digantikan oleh Jon M. Chu (Step Up 2: The Streets, Step Up 3D, Justin Bieber: Never Say Never, G.I. Joe: Retaliation).  Proyek sekuel ini juga harus kehilangan dua aktris utamanya, Isla Fisher yang tengah berbadan dua dan Melanie Laurent yang tidak lagi diikutsertakan. Sebagai gantinya, digamit  aktris Cloverfield, Lizzy Caplan dan Daniel Radcliffe, yang keberadaannya di sini membawa daya tarik tersendiri, karena tidak ubahnya kelakar atau ajang nostalgia bagi sang aktor yang angkat nama sebagai penyihir cilik Harry Potter.   
Masih berlandaskan konflik utama di film pertamanya dan tetap mengusung formula yang sama, bergantinya sineas yang membidani film ini berefek menjadikan  impresi yang mencuat di sini sedikit berbeda dengan kemasan film pertamanya. Kali ini, unsur fun dalam film sebelumnya sedikit menguap karena jalinan kisahnya cenderung menjadi lebih serius. Tidak hanya itu saja, misi menjadikan Now You See Me 2 ini mendulang sukses di market internasional begitu terasa, dengan kali ini ‘medan pertunjukan’ The Four Horsemen membawa mereka melalang buana ke berbagai negara (khususnya Macau, thanks to the now all-important Chinese market) dan berusaha menghadirkan kesan sebagaimana yang berhasil disajikan Fast Five untuk Vin Diesel dan kawan-kawannya, maupun Mission: Impossible – Ghost Protocol untuk Tom Cruise dan timnya.
Sayangnya, pada kasus ini, skala yang makin besar bukan berarti hasilnya lebih baik. Sekuel ini tidak hanya belum mampu menutupi permasalahan yang dijumpai sebelumnya di film pertamanya, contohnya, penampilan The Horsemen yang masih kurang menggigit dan kebanyakan trik sulap yang dihadirkan di film masih sangat disokong efek CGI alih-alih properti sulap sungguhan yang dirakit dengan daya kreativitas tinggi. Bedanya, kalau di film pertamanya aksinya banyak dilangsungkan di atas panggung, kali ini lebih bernuansa sulap jalanan. Kelemahan baru yang muncul dalam sekuel ini adalah penuturan jalan ceritanya yang menimbulkan rasa sedikit lelah dalam mengikutinya dan kesan aksi yang dipaksakan untuk menjadikan film ini lebih “besar” dari sebelumnya, yang apa lacur gagal terwujud.
Dari segi pemainnya, paling yang layak mendapat poin lebih adalah muka baru Lizzy Caplan yang terlihat berusaha keras menunjukkan eksistensinya bahwa pemilihan dirinya sebagai subsitutor Fisher bukan pilihan yang salah serta Woody Harrelson yang memang lagi-lagi mampu memperlihatkan kelasnya. Sedangkan, sebagai pengemban pemegang tokoh penggerak cerita, Mark Ruffalo dan Jesse Eisenberg kurang berhasil mendongkrak penampilannya dari babak sebelumnya.      
Dengan premis science vs magic sejatinya kisah yang bisa dihadirkan bisa lebih menarik lagi, namun M.Chu yang terkesan lebih memusatkan ke faktor aksi malah mengeliminasi daya tarik paling essensial di film pertamanya, yakni faktor prestige dalam film ini, menjadikan level ‘trik’ di film ini paling dapat dikategorikan sampai tahap the turn saja. Tidak hanya itu saja, menyaksikan film ini  tidak ubahnya melihat aksi sulap lama yang dipentaskan berulang-ulang, dan bisa dikatakan sebagai sekuel yang tidak begitu membantu kualitas film pertamanya. Dan parahnya lagi, penjelasan trik pamungkas yang digunakan terkesan sangat dipaksakan dan elemen kejutannya sangat berkurang, dibanding trik yang ada di paruh awal cerita.